Google: AI Berpotensi Tambah Rp910 Triliun ke Ekonomi Indonesia, UKM Jadi Kunci Pertumbuhan

6 Min Read

Jakarta, Gizmologi – Akal Imitasi (AI) diprediksi menjadi salah satu motor penggerak ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Google mengungkapkan bahwa adopsi AI yang lebih luas, terutama di kalangan usaha kecil dan menengah (UKM), berpotensi membuka nilai ekonomi hingga Rp910 triliun atau sekitar US$55 miliar, setara dengan 3,8% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Temuan tersebut berasal dari AI Economic Opportunity Report 2026 yang disusun Public First dan dipaparkan Google dalam laporan bertajuk Membentuk Era AI Indonesia: Membuka Peluang Ekonomi Senilai Rp910 Triliun. Laporan ini menyoroti bagaimana AI tidak hanya meningkatkan produktivitas bisnis, tetapi juga berpotensi mendorong inovasi di sektor kreatif, pendidikan, kesehatan, hingga layanan publik.

Google menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi AI tercepat. Selain memiliki populasi muda yang sangat terhubung dengan internet, Indonesia juga didukung ekosistem kreator digital yang terus berkembang. Bahkan, nilai bruto perdagangan digital (GMV) Indonesia diproyeksikan mencapai US$340 miliar pada 2030, sehingga AI dipandang sebagai fondasi baru untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Adopsi AI di UKM Masih Tertinggal

Meski potensinya besar, Google menilai tantangan terbesar justru berada pada tingkat adopsi AI di kalangan UKM. Saat ini baru sekitar 14,5% UKM yang memanfaatkan AI dalam operasional bisnisnya, jauh di bawah perusahaan berskala besar yang tingkat adopsinya telah mencapai 62,5%.

Jika kesenjangan tersebut berhasil diperkecil, dampaknya diperkirakan tidak hanya meningkatkan produktivitas pelaku usaha, tetapi juga menciptakan sekitar 510 ribu lapangan kerja baru melalui lahirnya berbagai produk, layanan, dan model bisnis berbasis AI. Laporan Public First juga memperkirakan AI dapat meningkatkan produktivitas sektor publik Indonesia hingga 4%, setara penghematan sekitar 350 juta jam kerja setiap tahun.

Menariknya, tingkat kematangan penggunaan AI di Indonesia juga dinilai cukup tinggi. Sebanyak 63% pengguna AI di Indonesia sudah masuk kategori intermediate dan super user, lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat yang berada di angka 46%. Kelompok pengguna ini telah memanfaatkan AI untuk alur kerja yang lebih kompleks seperti meta prompting, membandingkan hasil dari berbagai model AI, hingga meminta AI mengevaluasi hasil kerjanya sendiri.

Industri Kreatif Diprediksi Menjadi Penerima Manfaat Terbesar

Selain sektor UKM, Google melihat industri kreatif sebagai salah satu penerima manfaat terbesar dari perkembangan AI generatif. Laporan tersebut memperkirakan pemanfaatan penuh teknologi Generative AI di sektor kreatif dan media dapat menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp66 triliun per tahun. Di sisi lain, AI juga diprediksi mampu menghemat rata-rata 390 jam kerja per tahun bagi pekerja kreatif, atau setara sekitar 50 hari kerja, sehingga mereka dapat lebih fokus pada proses kreatif seperti penyusunan ide dan storytelling.

Dalam jangka panjang, penggunaan AI generatif bahkan diperkirakan mampu meningkatkan jumlah pekerjaan formal di industri kreatif hingga 30% dan menghadirkan sekitar 1,8 juta kreator profesional baru pada 2035. Google juga menyoroti peluang ekspor ekonomi kreatif Indonesia. Dengan dukungan teknologi AI seperti penerjemahan otomatis, subtitel, dubbing, dan lokalisasi konten, kreator lokal diperkirakan dapat membuka potensi ekspor hingga Rp6,7 triliun per tahun. Teknologi tersebut dinilai mampu membantu konten Indonesia menjangkau audiens global dengan proses produksi yang lebih cepat dan biaya lebih efisien.

Dalam kesempatan yang sama, Google turut memaparkan kontribusi ekosistem YouTube terhadap ekonomi digital Indonesia. Mengacu pada YouTube Impact Report, ekosistem kreator YouTube menyumbang lebih dari Rp8,4 triliun terhadap PDB Indonesia dan mendukung lebih dari 190 ribu lapangan kerja penuh waktu sepanjang 2025. Sebanyak 81% kreator Indonesia disebut menggunakan platform tersebut untuk memperkenalkan budaya, musik, dan cerita lokal kepada audiens internasional.

Sementara itu, lebih dari 95% waktu menonton berita di YouTube berasal dari kanal berita lokal Indonesia. Google juga mencatat sekitar 81% perusahaan media Indonesia melihat kolaborasi dengan kreator sebagai salah satu strategi utama untuk meningkatkan pendapatan dalam lima tahun ke depan.

Laporan pendukung Public First bahkan menampilkan studi kasus Vidio yang menunjukkan bagaimana AI telah mengubah proses produksi konten. Dengan alat AI yang dikembangkan bersama Google, proses pencarian, penyuntingan, hingga publikasi klip media sosial yang sebelumnya membutuhkan 6–8 jam dapat dipangkas menjadi hanya lima menit. AI juga membantu Vidio memproduksi musim baru serial animasi anak dalam separuh waktu dibandingkan sebelumnya, dengan hasil peningkatan pangsa audiens hingga 93%.

Google Dorong Ekosistem AI yang Aman

Di tengah meningkatnya penggunaan AI, Google juga menekankan pentingnya membangun ekosistem digital yang aman dan tepercaya.

Perusahaan menghadirkan teknologi SynthID, sistem watermark digital tak kasat mata yang dapat disematkan pada teks, gambar, audio, maupun video hasil AI untuk membantu mengidentifikasi keaslian konten. Secara global, SynthID disebut telah digunakan untuk memberi watermark pada lebih dari 100 miliar gambar dan video.

Selain itu, YouTube tetap mengandalkan Content ID sebagai sistem perlindungan hak cipta yang membantu pemilik konten memperoleh pengakuan sekaligus kompensasi atas karya mereka.

Google juga menyebut program peningkatan keterampilan seperti Bangkit Bersama AI, yang telah melatih lebih dari 380 ribu masyarakat Indonesia, sebagai bagian dari upaya memperluas adopsi AI secara bertanggung jawab. Menurut perusahaan, kombinasi antara teknologi AI yang mudah diakses, pengembangan talenta digital, serta infrastruktur yang terbuka akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia pada era AI.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version