Penjualan Mobil Xiaomi Melaju, tapi Bisnis EV Masih Rugi

4 Min Read

Xiaomi menunjukkan bahwa masuk ke industri otomotif bukan sekadar soal mampu membuat mobil yang menarik. Perusahaan teknologi asal China tersebut memang berhasil meningkatkan penjualan kendaraan listrik secara signifikan, tetapi pertumbuhan volume belum otomatis membuat bisnis otomotifnya menghasilkan keuntungan. Pada kuartal II 2026, divisi kendaraan listrik, AI, dan inisiatif baru Xiaomi masih mencatat kerugian operasional RMB 2,6 miliar atau sekitar €327 juta.

Angka tersebut sebenarnya membaik dibandingkan kerugian RMB 3,1 miliar pada kuartal sebelumnya. Namun, ini menjadi kuartal kedua berturut-turut ketika divisi tersebut masih berada di zona merah. Di sisi lain, pendapatan segmen meningkat 17,1% secara tahunan menjadi RMB 24,9 miliar, dengan RMB 23,9 miliar berasal dari penjualan kendaraan listrik. Masalahnya, margin kotor justru turun dari 26,4% menjadi 19,2%.

Salah satu penyebabnya adalah perubahan komposisi produk yang terjual. Jika sebelumnya model seperti SU7 Ultra memberikan margin lebih tinggi, permintaan kini lebih banyak mengarah ke varian dengan harga dan margin yang lebih rendah. Harga jual rata-rata kendaraan Xiaomi turun 9,6% menjadi RMB 229.312 per unit. Tekanan biaya komponen dan investasi R&D grup yang mencapai RMB 9,2 miliar juga ikut membebani keuangan perusahaan.

Baca Juga: Xiaomi SkyNomad N90 Disiapkan Sebagai SUV Premium, Andalkan Kabin Modular

Penjualan SU7 Tumbuh, Tapi Target 2026 Masih Berat

Dari sisi penjualan, performanya sebenarnya cukup kuat. Perusahaan mengirimkan 104.199 kendaraan pada kuartal II, naik 28,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jumlah kumulatif pengiriman SU7 juga telah melewati 500.000 unit. Bahkan, Xiaomi menjadi salah satu pemain dengan penjualan kuat di segmen sedan listrik premium China.

Namun, momentum tersebut mulai melambat. Pada Juli 2026, pengiriman mencapai 31.267 unit, hanya naik 2,68% secara tahunan dan turun hampir 10% dibandingkan Juni. Hingga tujuh bulan pertama 2026, Xiaomi telah mengirim 216.322 kendaraan. Untuk mencapai target tahunan 550.000 unit, perusahaan harus mengirim rata-rata sekitar 66.700 kendaraan per bulan hingga akhir tahun.

Kondisi tersebut menunjukkan tantangan Xiaomi bukan lagi sekadar membuktikan bahwa produknya bisa laku. Perusahaan juga harus meningkatkan skala produksi tanpa semakin mengorbankan margin. Persaingan harga di pasar EV China membuat tantangan tersebut semakin berat, terutama ketika konsumen mulai beralih ke model yang lebih terjangkau.

Xiaomi Mulai Melirik Mobil Hybrid

Untuk memperluas pasar, mereka juga mulai mengembangkan kendaraan dengan teknologi range extender melalui arsitektur Kunlun Technical Architecture. Model SkyNomad N70 Max dan N90 Max menggunakan mesin bensin 1,5 liter sebagai generator yang dipadukan dengan baterai berkapasitas besar.

Strategi ini menunjukkan bahwa mereka tidak sepenuhnya bergantung pada mobil listrik murni. Dengan teknologi range extender, perusahaan dapat menawarkan jarak tempuh gabungan hingga 1.705 km berdasarkan pengujian CLTC. Meski demikian, ekspansi ke kategori baru juga berarti tambahan investasi dan kompleksitas produksi.

Pada akhirnya, Xiaomi telah membuktikan mampu menjual mobil dalam jumlah besar, tetapi tantangan berikutnya adalah mengubah skala tersebut menjadi keuntungan yang konsisten. Pertumbuhan penjualan memang menjadi modal penting, tetapi margin, biaya produksi, investasi R&D, dan kemampuan mempertahankan permintaan akan menentukan apakah langkah Xiaomi di industri otomotif benar-benar berhasil dalam jangka panjang.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version