Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

FaceApp Dituding Mencuri Data Demi Kepentingan Rusia, Apa Kabarnya Facebook dan Google?

Tidak ada yang aman di dunia maya!

Rasanya akan sangat tidak gaul jika kita belum sama sekali melihat foto teman di media sosial atau foto profilnya menjadi kelihatan tua. Inilah sebuah “keajaiban” yang ditawarkan aplikasi FaceApp yang membuat jutaan orang mengubah wajahnya menjadi lebih tua tanpa harus menunggu waktu di masa depan.

Namun, dengan embel-embel berasal dari Rusia, langsung saja aplikasi ini diterpa badai tudingan pencurian data. Bahkan kerisauan ini dirasakan pengguna FaceApp di Amerika Serikat yang merupakan “musuh bebuyutan” dari negara Beruang Putih tersebut. Lucunya, sentimen ini juga merembet ke Indonesia.

Lalu, apakah benar FaceApp akan mencuri data pengguna? Jika dilihat dari syarat dan ketentuan dari aplikasi tersebut, ada bagian yang patut dikhawatirkan, yakni pada bagian User Content di mana bunyinya:

“Your grant FaceApp a perpetual, irrevocable, nonexclusive, royalti-free, worldwide, fully-paid, transfereable sub-licensable lisence to use, reproduce, modify, adapt, publish, translate, create derivative works form, distribute, publicly perform and display your User Content and any name, username or likeness provided in connection with your User Content in all media formats and channels now know or later developed, without compensation to you.”

Secara sederhana poin tersebut menyebutkan bahwa apapun yang kita posting bisa digunakan di seluruh dunia tanpa kompensasi apapun. Jadi, jika suatu saat kita melihat “foto tua” kita digunakan atau dipindahkan jadi meme pengguna Facebook di Israel, maka kita tidak bisa menggugatnya atau meminta royalti. Untungnya, ini hanya foto. Bayangkan jika ginjal atau organ lain kita dipindahkan ke tempat lain, ngeri banget kan?

Selain itu, seperti aplikasi pada umumnya, aplikasi buatan Rusia Wireless Lab ini bisa mengakses foto, informasi lokasi, dan penggunaan data serta riwayat browsing pengguna. Klasiknya, aplikasi ini memang mengklaim tidak akan menjual data ke pihak ketiga, tapi apakah itu bisa menjamin?

Mengenai kekhawatiran dunia akan potensi pencurian data yang dilakukan FaceApp rupanya telah diketahui Yaroslav Goncharow, CEO dari aplikasi tersebut. Dia menegaskan bahwa sebagian besar foto dihapus dari server dalam waktu 48 jam sejam di-upload.

“Sebagian besar pemrosesan foto dilakukan via cloud, terutama dengan Amazon Web Services dan Google Cloud. Selain menghapus foto pengguna, kami juga tidak menjual atau membagikan data dengan pihak ketiga manapun,” tegasnya.

Semua Berpotensi Tercuri

Jika kita mengkhawatirkan potensi pencurian data yang bisa dilakukan FaceApp dengan curhat di Facebook, bisa dibilang ini sama saja kemunafikan digital. Kenapa? Karena, Facebook merupakan aplikasi yang justru sering melanggar privasi pengguna.

Related Posts
1 daripada 308

Bahkan, perusahaan teknologi raksasa milik Mark Zuckerberg tersebut pernah dituding berbagi data dengan pihak ketiga, di mana sebanyak 87 juta pengguna datanya dibocorkan ke perusahaan analisis politik Cambridge Analytica untuk membuat profil pemilih ketika musim kampanye Pemilihan Presiden di Amerika Serikat.

Selain itu, belum lama ini juga ada kasus sebanyak 540 juta data pengguna Facebook bocor ke publik. Menurut hasil temuan peneliti keamanan UpGuard, kebanyakan data tersimpan dan terekspos oleh dua perusahaan pihak ketiga, yakni Cultura Colectiva yang berbasis di Meksiko dan aplikasi At The Pool yang berasal dari California, Amerika Serikat.

Mengenai kebocoran data, sepanjang tahun 2018 bukan cuma menerpa pengguna Facebook saja. Menurut Daniel Markuson, ahli privasi dari NordVPN mengatakan kasus seperti hampir menimpa seluruh perusahaan, tidak pandang bulu apakah itu besar atau kecil.

“Fakta ini membuat kita semakin sulit mempercayai mereka karena kita tidak pernah tahu kapan data kita akan berakhir di tangan yang salah,” ujarnya seperti dikutip dari website Nord VPN.

Google pernah melakukan kesalahan, di mana sebanyak 500 ribu akun Google+ data pribadinya bocor ke pengembang pihak ketiga. Entah terkait dengan skandal ini atau bukan, pada akhirnya Google+ ditutup untuk selamanya.

Dalam hal “mengintip” penggunanya, peluang Google memang lebih besar. Bayangkan saja, raksasa teknologi ini punya banyak layanan meliputi email, storage, GPS, hingga media sosial seperti YouTube yang bisa saling terhubung.

Menurut NordVPN, Google telah berkali-kali melanggar privasi, seperti memindai email, memungkinkan pihak ketiga membacanya, melacak lokasi, hingga memindai foto-foto untuk mengenali wajah pengguna. Bahkan pengunaan koneksi data internet yang digunakan bisa mereka akumulasikan, tentu potensi pencurian data sangat rentan di sini.

Jadi, apapun platform digital yang digunakan, selalu ada potensi pencurian data penggunanya. Ketakutan berlebihan terhadap FaceApp justru seperti mengalihkan perhatian kita terhadap potensi jahat yang lebih besar lagi di luar sana.

FaceApp

Kalau ada tudingan bahwa FaceApp bukan aplikasi yang aman, kenapa aplikasi ini bisa lolos di Google Play Store dan Apple App Store? Keduanya sama sekali tidak bereaksi untuk segala tudingan berlebihan itu. Apalagi, Apple katanya memiliki seleksi yang ketat bagi aplikasi yang ingin nangkring di tokonya.

Namanya di dunia maya, sepertinya tidak ada satu dari kita yang benar-benar aman. Semua beresiko untuk terekspos. Namun, kehatian-hatian dan kebijaksaan kita dalam menggunakannya, bisa jadi juru selamat untuk hidup di dalamnya.