Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Tersandung Kasus Facebook, Cambridge Analytica Nyatakan Bangkrut

Babak baru bocornya data pribadi sekitar 87 juta pengguna Facebook kembali bergulir. Kali ini menimpa Cambridge Analytica, firma riset yang diduga menggunakan data tersebut secara ilegal. Kemarin firma tersebut melayangkan surat pemberitahuan kebangkrutan ke otoritas di Inggris.

Bak bola salju yang bergulir kemana pun ia mau, skandal bocornya data tersebut berbuntut panjang. Hanya kurang dari dua bulan sejak laporan bocornya data tersebut oleh The Guardian dan The New York Times, Cambridge Analytica mengaku akan segera berhenti beroperasi.

Pihak direksi Cambridge Analytica telah menunjuk Crowe Clark Whitehill LLP sebagai administrator independen bagi firma tersebut. Cambridge juga akan menyetop kegiatan usahanya di AS.

Akankah bangkrutnya Cambridge berarti akhir dari kasus ini? Foto oleh independent.co.uk

Melalui website-nya, Cambridge Analytica memuat press release bahwa selama beberapa bulan terakhir, mereka telah menjadi subyek tuduhan tidak berdasar. Dan meski telah berupaya mengoreksi tuduhan tersebut, Cambridge Analytica tetap saja difitnah telah melakukan tindakan yang tidak hanya legal tetapi juga banyak diterima sebagai komponen standar pengiklanan online untuk sektor politik dan komersial.

Cambridge Analytica sendiri telah melakukan investigasi independen dengan menunjuk Julian Malin dan meyakini tidak ada satu orang stafnya yang telah bertindak melanggar aturan sebagaimana dibuktikan oleh laporan dari Julian tersebut.

Selama beberapa bulan terakhir, Cambridge Analytica telah menjadi subyek dari banyak tuduhan tidak berdasar dan, meskipun upaya Perusahaan untuk memperbaiki catatan, telah difitnah untuk kegiatan yang tidak hanya legal, tetapi juga diterima secara luas sebagai komponen standar dari iklan online di arena politik dan komersial.

Related Posts
1 daripada 231

Akan tetapi, pemberitaan yang begitu gencar telah membuat Cambridge Analytica kehilangan calon klien dan pemasok. “Maka dari itu telah diputuskan kami tidak lagi sanggup meneruskan bisnis ini,” kata Cambridge.

Pimpinan Cambridge Analytica mengaku berat karyawan mereka akan kehilangan pekerjaan akibat pemberitaan yang dinilai tidak adil. Akan tetapi, mereka akan tetap mendapatkan hak mereka meski kondisi keuangan perusahaan tersebut sedang genting.

The New York Times menulis bangkrutnya Cambridge Analytica tersebut meninggalkan beberapa pertanyaan besar, seperti siapa yang mempertahankan kekayaan intelektual dan apakah bisnis pengumpulan data perusahaan tersebut akan dioperasikan kembali.

Baca juga: Facebook Akui Mengintip Chat Pengguna di Aplikasi Messenger

Gara-gara kasus ini, Facebook mendapat banyak tekanan sebab dianggap gagal melindungi data pribadi penggunanya. Dari sekitar 87 juta tersebut, sekira1 juta pengguna Facebook di Indonesia turut menjadi korban. Diduga Cambridge memberikan data ini ke firma riset yang masih terafiliasi dengannya, yakni Strategic Communication Laboratories, yang telah dibantah oleh kedua perusahaan tersebut. Data tersebut diduga diperoleh dari seorang profesor bernama Alexandr Kogan yang mendapatkan banyak data pribadi melalui kuis kepribadian yang ia sebar di Facebook.

Tak hanya CEO Facebook Mark Zuckerberg yang dimintai keterangan oleh Parlemen AS, Dewan Perwakilan Rakyat/DPR pun memanggil perwakilan Facebook Indonesia dan Asia Pasifik terkait kasus ini pada 17 April 2018.

Dalam sesi dengar pendapat tersebut, perwakilan Facebook Indonesia dan Asia Pasifik menyanggah tudingan bahwa ada kebocoran data. Ia mengatakan insiden terkait Cambridge Analytica merupakan bentuk pelanggaran kepercayaan dari pihak ketiga, yang dalam hal ini adalah pengembang kuis kepribadian bernama Alexandr Kogan.

 

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More