Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Hands On: Impresi Saat Mencoba Sekilas Huawei P10

Kiprah Huawei di panggung smartphone dunia semakin moncer. Berdasarkan data dari lembaga riset seperti IDC, SA, dan Trendforce, jumlah pengapalan unit smartphone Huawei menduduki peringkat ke-3 di dunia dan peringkat pertama di Tiongkok. Huawei P9 dan P9 Plus berhasil terjual sebanyak lebih dari 12 juta unit di seluruh dunia, menjadikannya smartphone flagship Huawei pertama yang berhasil terjual lebih dari 10 juta unit. Seri terbaru Huawei P10 telah dirilis resmi secara global dan disambut dengan antusias oleh konsumen dunia.

Tapi bagaimana dengan Indonesia? Hingga tahun 2016, Huawei masih belum perhitungan alias tidak masuk dalam enam besar. Samsung, OPPO, dan Asus masih mendominasi. Vivo yang tergolong pemain baru di sepanjang tahun 2017 ini melakukan pemasaran secara agresif di berbagai lini, dengan meniru strategi OPPO. Sementara itu Huawei terlihat masih adem ayem, atau sebaliknya, sedang kepayahan untuk berusaha survive.

Produk terbarunya Huawei P10 sudah diluncurkan secara global pada Februari silam. Kompetitornya yang meluncurkan produk flagship di waktu hampir bersamaan, telah sejak beberapa bulan yang lalu tersedia di pasar Indonesia. Sementara itu Huawei P10 masih belum ada kabar resmi waktu peluncurannya. Mereka masih bersusah payah memenuhi TKDN 4G LTE agar bisa dijual secara resmi. Entah kenapa, padahal mereka sudah memiliki pabrik perakitan di Surabaya, walaupun bukan pabrik sendiri alias menyewa.

Kabar yang berhembus, Huawei P10 akan diluncurkan di Indonesia pada bulan Agustus ini, walaupun tanggalnya masih misteri. Beruntung, saya sempat menyicipi ponsel ini walaupun hanya sekilas. Berikut ini kesan-kesan saya saat menyentuh Huawei P10 beberapa waktu yang lalu”

DESAIN
Secara konsep, Huawei P10 memiliki desain yang sama dengan pendahulunya Huawei P9, tapi dengan sedikit perbedaan pada detail. Ponsel ini menganut desain unibodi berbahan metal solid dan kaca yang lebih melengkung di semua sudut. Sehingga jadi terasa lebih halus dan elegan. Huawei juga merancang sedemikian rupa, sehingga ketika saya pegang, rasanya lebih enak di genggaman dan tetap terasa kokoh.

Di sekeliling body terdapat colokan USB C, tombol volume, tombol Power, tempat kartu SIM, dan colokan audio yang posisinya masih sama dengan P9.  Namun berbeda dengan P9 yang menempatkan sensor sidik jari di belakang bodi seperti kebanyakan ponsel Android high-end saat ini, P10 justru menempatkan fitur ini di bagian depan perangkat di bagian bawah.

Agak mengherankan karena di saat banyak smartphone Android berusaha menghilangkan tombol di bagian depan dan memindahkannya ke belakang, Huawei justru berkebalikan dengan kembali ke tempat semula. Ini bukanlah masalah. Justru bagi saya sebagai pengguna, peletakannya lebih mudah diakses ketika misalnya ditaruh di atas meja, tanpa perlu mengangkatnya.

Sensor sidik jari di Huawei P10 iniga juga menambahkan fungsi navigasi, yaitu sentuh untuk kembali, sentuh dan tahan untuk mengakses beranda, sapu ke kiri atau kanan untuk melihat aplikasi yang aktif dan sapu ke atas untuk membuka pencarian Google. Jika navigasi dengan sensor sidik jari terasa merepotkan, Anda bisa menampilkan tombol navigasi virtual di layar.

LAYAR
Ukuran layar Huawei P10 5,1″ yang sedikit lebih kecil dibanding P9 5,2″ namun dengan resolusi yang sama besar yaitu Full HD 1920 x 1080 pixel. Smartphone ini memiliki layar LCD IPS, yang dilindungi dengan Corning Gorilla Glass. Tidak ada yang istimewa pada bagian layar. Sebagai ponsel premium, agar lebih kompetitif di sektor visual, saya tentu mengharapkan resolusi lebih tinggi seperti yang ada di Samsung Galaxy S8 dan LG G6 dengan layar 2K dan rasio 18:9. Penggunaan resolusi 2K juga sangat cocok untuk menonton konten virtual reality melalui VR headset.

Saya masih belum menemukan keistimewaan pada bagian layar. Sebagai ponsel premium, agar lebih kompetitif di sektor visual, saya tentu mengharapkan resolusi lebih tinggi seperti yang ada di Samsung Galaxy S8 dan LG G6 dengan layar 2K dan rasio 18:9. Penggunaan resolusi 2K juga sangat cocok untuk menonton konten virtual reality melalui VR headset.

Related Posts
1 daripada 356

KAMERA
Bagaimanapun juga, kekuatan utama Huawei P10 dimana lagi kalau bukan kamera. Huawei P10 mengikuti jejak pendahulunya yang memiliki dua kamera belakang dengan teknologi optik dari perusahaan kamera ternama asal Jerman, Leica. Kerjasama dengan Leica meningkatkan tingkat “kegantengan” ponsel ini secara dratis. Membuatnya lebih pede ketika dibawa. Karena Leica sudah menjadi jaminan mutu di dunia fotografi.

Huawei melakukan peningkatan dratis di sektor kamera Huawei P10, padahal menurut saya P9 saja sudah memuaskan. Bandingkan saja dari spesifikasi. Kamera utama Huawei P9 memiliki lensa monokrom dan RGB dengan sensor 12MP dan aperture f/2.2. Sedangkan kamera depan memiliki sensor 8MP dengan aperture f/2.4, tanpa teknologi Leica di dalamnya.

Sementara itu du Huawei P10, kamera utama memakai sensor monokrom 12 MP dan sensor warna 12 MP. Hal ini membuat foto portrait monokrom menjadi jauh lebih kuat, seperti ciri khas Leica. Begitupun dengan kamera depan yang juga sudah menggunakan teknologi Leica dengan sensor 8MP. Selfie menjadi lebih keren, berani diadu dengan merek smartphone yang selalu mengunggulkan kemampuan selfie itu.

Untuk teknologinya, masih sama dengan sebelumnya yaitu menggunakan dual camera Summarit H 1:2.2/27 ASPH (spherical Lens Surface) hasil kerja sama dengan LEICA. Bukaan (aperture) Huawei P10 adalah F/2.2, sementara versi Huawei P10 Plus lebih tinggi lagi yaitu F/1.8.

Lihat saja, secara teknis modalnya sudah begitu rupa. Saya hanya berkesempatan mencoba kameranya dalam waktu singkat di dalam ruangan. Dan hasilnya memang sangat bagus. Namun saya masih belum bisa share lebih jauh. Nanti jika sudah menguji produknya, akan kita lihat seperti apa hasilnya.

DAPUR PACU
Di sektor dapur pacu, Huawei P10 mengusung chipset asli Huawei, yaitu Kirin 960 yang dipadu RAM 4GB dan memori internal 64GB. Konfigurasi chipsetnya adalah core prosesor Cortex A57 bertugas menangani aplikasi berat, dan core prosesor A53 yang membuatnya efisien daya.

Huawei mengimplementasi teknologi machine learning yang dapat ‘mempelajari’ aplikasi apa saja yang paling sering dan jarang kamu gunakan, serta memodifikasi kernel di sistem operasi agar kinerja ponsel lebih cepat. Perusahaan teknologi asal Tiongkok ini juga mengembangkan teknologi Ultra Memory yang secara cerdas bisa mengalokasikan, mendaur ulang , dan mengompres memori, sehingga aplikasi yang sering dipakai akan bekerja lebih cepat dari sebelumnya.

Sementara itu untuk mendukung aktivitas sehari-hari, Huawei membenamkan baterai 3.200mAh yang diklaim bertahan selama 1.8 hari. Sementara pengguna berat akan mendapat 1.3 hari ketahanan baterai. Kamu akan mendapat baterai yang lebih kuat di Huawei P10 Plus dengan 3.750mAh. Selain itu, terdapat juga fitur fast charging yang bisa membuat smartphone terisi daya dengan cepat.

Hanya ini yang bisa saya bagi mengenai Huawei P10. Saya sudah tak sabar menunggu peluncurannya di Indonesia.

This post is also available in: enEnglish (English)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.