Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Indonesia Fintech Fair 2018 Akrabkan Publik dengan Layanan Teknologi Finansial

Financial technology atau teknologi finansial semakin mencatatkan perkembangannya di tanah air. Layanan keuangan berbasis teknologi ini sudah mulai menjadi pilihan bagi masyarakat memperoleh akses keuangan. Meski demikian, sektor yang sedang naik daun bukan berarti tanpa tantangan. Indonesia Fintech Fair 2018 pun digelar agar publik mengenal lebih dekat fintech ini.

Indonesia Fintech Fair 2018 yang pertama ini diselenggarakan di Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat, antara 13 dan 15 Juli 2018. Ajang kali pertama yang dibuat oleh Asosiasi Fintech Indonesia atau AFTECH dan UangTeman sebagai sponsor utamanya merangkul peserta sebanyak 26 pelaku fintech, satu mitra teknologi dan satu perusahaan properti. Sebagai contoh adalah Google, TunaiKita, Home Credit Indonesia, Sinarmasland, Investree dan RupiahPlus.

Bertemakan “Fintech Transforming Life”, Indonesia Fintech Fair 2018 mengajak pengunjung untuk datang melihat langsung booth peserta pameran yang ada dan menanyakan ragam layanan fintech yang mereka sediakan. Ada pula beberapa talkshow , diskusi panel dari pelaku dunia fintech dan pemerintah membahas topik, seperti e-payment, pembiayaan digital, collateral loans, money management dan lifestyle payment.

Pantauan Gizmologi.id pada hari pertama siang tadi sudah banyak pengunjung yang mampir di berbagai stand yang dibuat. Beberapa di antaranya memanfaatkan acara ini untuk bertanya langsung mengenai fintech ke petugas masing-masing booth. Konferensi pers yang dilakukan hari ini, Jumat, 13 Juli, 2018 menjadi pembuka rangkaian diskusi berikutnya.

Ajisatria Suleiman, Direktur Kebijakan Publik Asosiasi Fintech Indonesia, mengatakan fintech yang merupakan alternatif solusi keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat belum diketahui betul oleh seluruh pihak.

“Pameran ini kami harapkan bisa menjadi media bagi masyarakat dan pelaku industri fintech untuk berkenalan, memahami dan tentu saja pada akhirnya menggunakan jasa fintech,” katanya tentang Indonesia Fintech Fair 2018.

Ia menambahkan pameran ini untuk mendukung agenda pemerintahan Presiden Joko Widodo yang menargetkan inklusi keuangan pada 2019 mendatang.

Agar lebih meningkatkan performa anggota asosiasi AFTECH-nya guna meningkatkan kepercayaan masyarakat, organisasi ini sudah memfinalkan kode etik sebagai standar etika yang jelas.

“Perlindungan konsumen adalah hal yang utama. Sebelum masyarakat menggunakan fintech, kami ingin masyarakat tahu dan paham benar bahwa fintech mementingkan keamanan konsumen,” kata Adrian Gunadi, Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Indonesia.

Related Posts
1 daripada 24

Sejak membuka penerimaan anggota ke publik per Januari 2018, 152 perusahaan start-up fintech, 26 institusi keuangan dan dua mitra teknologi telah bergabung ke dalam AFTECH.

Otoritas Jasa Keuangan atau OJK yang turut hadir dalam acara hari ini terus mendorong peningkatan transparansi dan pengungkapan manfaat sekaligus resiko menggunakan fintech.

“Di samping kenyamanan pinjaman, masyarakat perlu tahu resiko catatan digital keuangan dimana ada pusat data yang bisa di-share sehingga jika ada data konsumen yang tidak baik bisa diketahui bersama,” kata Hendrikus Passagi, Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK, saat pembukaan Indonesia Fintech Fair 2018.

Ia mengambil contoh ada kemungkinan seorang konsumen ditolak memperoleh kredit dalam jumlah besar apabila sebelumnya ia gagal melunasi pinjaman relatif kecil, yakni Rp500 ribu saja.

Baca juga: TrueMoney Terus Berinovasi Menghadirkan Layanan Fintech di Indonesia

Suasana hari pertama pameran fintech 2018

Sementara itu, Sondang Martha Samosir, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK, menyoroti rendahnya literasi keuangan di masyarakat sebagai tantangan lain  industri fintech.

“Ada pula soal rentenir dan investasi ilegal,” katanya.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2016, saat ini indeks keuangan nasional mencapai 29,7%, naik dari 21,8% pada 2013.

“Isu tersebut baru dapat ditangani apabila seluruh aspek masyarakat mampu bekerjasama dengan baik. Masyarakat perlu tahu produk dan layanan yang legal dan diawasi oleh regulator sehingga mereka bisa terhindar dari penipuan atau kejahatan keuangan,” katanya.

 

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More