Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Tak Ingin Jadi Ponsel Gaib, Xiaomi Kebut Produksi Hingga 24 Jam Non Stop

Ponsel gaib. Julukan ini acap kali disematkan kepada Xiaomi.  Istilah ini mengacu pada beberapa tipe ponsel yang sudah dijual ke pasar, namun seperti tidak ada atau sangat sulit untuk didapatkan. Termasuk yang terakhir adalah Redmi Note 7. Untuk itu, Xiaomi pun menggenjot produksi smartphone agar bisa memenuhi animo konsumen.

Berdasarkan informasi yang kami terima, khusus untuk smartphone terbaru yang populer seperti Redmi Note 7 dan Redmi 7, Xiaomi berupaya untuk memastikan proses produksi dan distribusi yang lebih lancar. Di Indonesia, Xiaomi bekerjasama dengan PT Sat Nusapersada untuk produksi smartphone yang pabriknya berada di Batam. Mereka akan menjalakan proses produksi smartphone yang beroperasi terus-menerus 24 jam/hari selama 5,5 hari/minggu guna memenuhi minat pasar yang tinggi.

Selain fokus pada proses produksi dan distribusi, Xiaomi juga menghadirkan beragam promosi menarik selama bulan Ramadan, salah satunya yaitu cashback hingga 40% di platform Mi.com dan mitra e-commerce Xiaomi. Tak hanya itu saja, Xiaomi juga akan turut berpartisipasi dalam Jakarta Fair yang akan digelar pada 22Mei – 30 Juni 2019 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta.

Produk-produk Xiaomi dan Redmi tersedia di beberapa kanal penjualan milik Xiaomi, yakni gerai Authorized Mi Store di seluruh Indonesia dan Mi.com. Selain itu, untuk mempermudah konsumen dalam mendapatkan produk-produknya, Xiaomi juga menjalin kerja sama strategis dengan sejumlah mitra e-commerce-nya di Indonesia, yakni Lazada, Shopee, JD.ID, Blibli, dan Akulaku. Hal ini juga sejalan dengan inisiatif Xiaomi untuk memerangi penyebaran produk black market di pasar Indonesia.

Baca juga: Xiaomi Indonesia Berhasil Produksi 10 Juta Smartphone

Related Posts
1 daripada 270

Proses Produksi Smartphone Xiaomi di Batam

Xiaomi memulai produksi smartphone di Indonesia sejak Februari 2017. Sebagai upaya untuk comeback setelah sempat tenggelam karena tidak bisa memenuhi syarat TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri). Tidak berani membangun pabrik sendiri, Xiaomi memilih untuk kerjasama dengan pihak ketiga yang sudah memiliki infrastrukturnya yaitu PT Sat Nusapersada yang berlokasi di Batam.

Selain Xiaomi, ada Asus dan Infinix yang mempercayakan PT Sat Nusapersada sebagai pabrik perakitan produknya. Kendati cuma merakit, tetapi prosesnya pun cukup panjang.

Sebelum dipasarkan, smartphone Xiaomi menjalani proses produksi yang panjang dengan serangkaian tahapan uji coba. Untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang mumpuni dan tahan lama, setiap smartphone melewati jumlah proses yang berbeda-beda, terdiri dari pengecekan dan verifikasi material, perakitan (assembly), pengetesan fungsi smartphone, dan diakhiri dengan pengepakan (packing). Setiap proses ini juga diikuti oleh prosedurquality control yang ketat dan proses uji coba untuk memastikan ponsel pintar yang diterima para pengguna berada dalam kondisi terbaik.

Memiliki 13 lini produksi, pabrik ini telah menelurkan lebih dari 20 seri smartphone, dengan seri pertama yaitu Redmi 4A. Pada April 2019 lalu, Xiaomi juga mengumumkan pencapaiannya dalam menghasilkan 10 juta smartphone produksi lokal. Sebanyak lebih dari 1.000 karyawan pabrik PT Sat Nusapersada dilibatkan untuk merakit ponsel Xiaomi.