Jensen Huang Sebut Lisensi Software AI NVIDIA Bisa Rp36 Juta per GPU per Tahun

By
Christopher Louis - Tech Journalist
4 Min Read
Jensen Huang, CEO NVIDIA

CEO NVIDIA Jensen Huang mengungkapkan gambaran potensi pendapatan perusahaan dari bisnis perangkat lunak kecerdasan buatan (AI). Dalam sesi tanya jawab di GTC Berlin pekan lalu, Huang menyebut biaya penggunaan seluruh software NVIDIA untuk menjalankan agen AI di fasilitas komputasi AI bisa mencapai sekitar US$2.000 per GPU per tahun (Sekitar Rp36.000.000 jika dikonversi menjadi kurs Rupiah per Oktober 2026).
Baca juga: Bukan Cuma Buat Gaming, Laptop NVIDIA RTX Kini Punya Peran Lebih Luas di Era AI

Pernyataan dari Jensen Huang dilaporkan pertama kali oleh The Register. Namun, angka itu tampaknya disampaikan sebagai ilustrasi potensi bisnis, bukan sebagai pengumuman harga resmi untuk produk atau paket lisensi tertentu. NVIDIA juga belum menjelaskan kapan skema tersebut akan diterapkan atau software apa saja yang termasuk di dalamnya.

Bisnis software menjadi peluang bagi NVIDIA untuk memperoleh pendapatan berulang di luar penjualan GPU dan perangkat keras lainnya. Meski begitu, angka US$2.000 tersebut perlu dilihat dengan hati-hati karena NVIDIA sudah memiliki produk berlangganan dengan struktur harga berbeda. Belum ada kepastian apakah Huang merujuk pada paket khusus untuk agen AI atau model lisensi baru.

Baca Juga: NVIDIA Dukung 3 Proyek AI Mahasiswa UPH, Apa yang Dibuat?

Harga Lisensi NVIDIA AI Enterprise Masih Lebih Tinggi

Sebagai perbandingan, CEO Jensen Huang juga mengatakan bahwa panduan lisensi resmi NVIDIA mencantumkan AI Enterprise dengan harga US$4.500 per GPU untuk langganan satu tahun yang mencakup dukungan. Sementara itu, lisensi lima tahun dibanderol US$18.000 per GPU. Harga tersebut menunjukkan bahwa angka US$2.000 yang disebut Huang tidak bisa langsung dianggap sebagai penurunan harga AI Enterprise.

NVIDIA belum mengonfirmasi apakah angka tersebut mencakup seluruh fitur AI Enterprise, hanya software untuk agen AI, atau model lisensi yang berbeda. Perbedaan cakupan produk dapat memengaruhi harga secara signifikan. Karena itu, belum tepat menyimpulkan bahwa NVIDIA akan menawarkan seluruh software AI-nya dengan biaya lebih murah.

Jika satu juta GPU menggunakan lisensi senilai US$2.000 per tahun, pendapatan tahunan secara teoritis bisa mencapai US$2 miliar. Namun, perhitungan itu merupakan ilustrasi berdasarkan angka yang disebut Huang, bukan proyeksi pendapatan resmi perusahaan.

Jensen Huang Kenalkan OpenShell Jadi Bagian dari Strategi Infrastruktur AI

Dalam acara yang sama, Jensen Huang sebagai CEO NVIDIA memperkenalkan OpenShell Reference Architecture untuk mendukung pengoperasian agen AI. Arsitektur ini menggabungkan sistem Vera Rubin untuk inferensi, CPU Vera untuk menjalankan agen, serta DPU BlueField-4 yang menjalankan NVIDIA Sentry untuk memantau aktivitas agen tersebut.

OpenShell sendiri merupakan runtime open-source yang dirancang untuk menjalankan agen AI dalam lingkungan terisolasi atau sandbox. Huang turut menyinggung teknologi ini ketika membahas keamanan AI. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan infrastruktur AI tidak hanya bergantung pada kemampuan komputasi, tetapi juga pada pengelolaan dan pengawasan agen.

Bagi NVIDIA, lisensi software berpotensi menjadi sumber pendapatan berulang yang menarik. Namun, besarnya peluang tersebut tetap bergantung pada harga final, cakupan lisensi, dan kesediaan pelanggan membayar biaya tambahan di luar investasi perangkat keras.

Author

Christopher Louis

Tech journalist at Gizmologi. In love with gaming, tech, and Arthur Morgan


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Turn on JavaScript to leave a comment.

Exit mobile version