Jakarta, Gizmologi – Honor secara resmi meluncurkan Tiangong AXB35, series workstation kompak yang diperuntukkan untuk mereka yang mencari kebutuhan komputasi AI. Perangkat desktop baru ini sudah memuat NVIDIA RTX Spark ke dalam chassis bervolume 2 liter dengan berat hanya 1,5 kg. Boleh dibilang kehadiran produk baru ini, menjadi upaya Honor memasuki segmen AI workstation yang sedang berkembang pesat dengan pendekatan yang fokus pada portabilitas ekstrem tanpa mengorbankan performa.
Model Ultra dari series ini dilengkapi 128GB unified memory LPDDR5X dan 2TB NVMe SSD, dirancang untuk menjalankan large language model secara lokal tanpa ketergantungan cloud. Platform RTX Spark yang dikombinasikan dengan Grace CPU berbasis Arm architecture memberikan kombinasi GPU Blackwell dengan CPU 20-core yang mampu memberikan performa hingga 1 peta-level dalam FP4 calculations, angka yang mengesankan untuk packaging sebanding ukuran toaster.
Dari sisi power consumption, sistem ini fleksibel dengan tiga mode daya yang dapat dipilih: 55W untuk pekerjaan ringan, 85W untuk workload menengah, dan 132W untuk performa maksimal. External power supply 240W sudah cukup untuk semua kebutuhan, jauh lebih efisien daripada multi-GPU tower yang biasanya membutuhkan PSU 1.000W ke atas. Windows 11 dan Ubuntu sudah disertakan secara pre-installed, memberikan fleksibilitas OS kepada users yang menggunakan stack development yang berbeda.
Dengan dimensi Tiangong AXB35 tercatat 203 x 70 x 192 mm, membuatnya jadi salah satu workstation teringkas yang pernah ada di pasaran untuk kategori ini. Saking ringkasnya, pengguna bahkan bisa menggenggam dengan satu tangan dan tanpa beban berarti sebab bobotnya hanya 1,5 kg saja.
Baca juga: Honor 700 Pro Dikabarkan Ikuti Xiaomi, Bawa Layar Kedua di Bagian Belakang
Honor Tiangong AXB35 Ultra Memahami Kebutuhan Developer
Keunggulan sebenarnya dari Tiangong AXB35 Ultra bukan hanya size-nya tapi kemampuannya untuk menjalankan model AI besar secara lokal di mesin single. Dengan 128GB unified memory yang shared antara CPU dan GPU, users dapat load dan run LLM yang sebelumnya membutuhkan cloud access atau multi-GPU setup tanpa khawatir lag atau bottleneck memory. Ini berarti developer bisa experiment dengan model tuning, fine-tuning, dan inference secara private tanpa mengirim data ke cloud service mana pun.
Spesifikasi yang dihadirkan begitu mengindikasikan bahwa Honor mehamai kebutuhan developer lokal yang menginginkan kebebasan tanpa cloud vendor lock-in. Konektivitas standard termasuk Ethernet 1GbE, USB Type-C Thunderbolt, dan multiple USB-A ports memberikan fleksibilitas untuk connect external storage atau accelerator cards kalau dibutuhkan. Fakta bahwa unit ini support Ubuntu juga important untuk Linux developers yang mungkin uncomfortable dengan Windows ecosystem.
Series Tiangong AXB35 juga menawarkan varian dengan processor lain, bukan hanya RTX Spark. Intel variant menggunakan Panther Lake-H dengan penyimpanan 512GB, AMD variant dilengkapi Ryzen AI Strix Halo dengan 1TB storage, sementara model Ultra NVIDIA mendapat 2TB untuk pekerjaan data-intensive. Semua varian berbagi chassis yang sama dan performa yang sebanding untuk keperluan development kecil hingga menengah, memberikan pengguna pilihan sesuai ekosistem software yang mereka familiar dengan.
Segmentasi produk ini cukup jelas, mulai dari AI developers, researchers, dan professionals yang butuh komputasi lokal yang powerful. Sayangnya belum ada informasi tentang harga dan kapan tepatnya produk ini dirilis.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
