Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Dua Minggu di Negeri Tirai Bambu: Dari Skeptis Menjadi Optimis

“Tuntutlah limu sampai ke Negeri China”

Begitulah bunyi istilah yang cukup populer di masyarakat Indonesia. Istilah ini muncul tentunya memiliki alasan. Sejak dahulu, masyarakat Tiongkok terkenal memiliki peradaban yang lebih maju dibandingkan negara-negara di Asia lainnya. Banyak teknologi yang berkembang hingga saat ini ternyata berasal dari negara tirai bambu tersebut.

Bahkan, pada era modern, Tiongkok diprediksi akan menjadi salah satu pemegang kekuasaan ekonomi terbesar di dunia. Dengan demikian, banyak ilmu yang dapat kita pelajari dari negara Tiongkok tak terkecuali pada bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Huawei, salah satu perusahaan asal Tiongkok yang bergerak di bidang ICT (Information Computer & Technology), memiliki suatu program yang memberikan kesempatan kepada perwakilan berbagai negara di dunia untuk mendapatkan ilmu di Tiongkok selama kurang lebih 2 minggu. Program ini dinamakan sebagai Seeds for the Future.

Di Indonesia, untuk menjadi salah satu partisipan program Seeds for the Future tidaklah mudah. Para partisipan diseleksi berdasarkan juara Huawei ICT Competition tingkat Universitas yang diadakan di 8 Universitas di Indonesia antara lain Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Multimedia Nusantara, Telkom University, dan Universitas Diponegoro. Beruntung, saya terpilih menjadi salah satu perwakilan Indonesia bersama 9 teman-teman saya.

Mengunjungi Tiongkok selama lebih dari 2 minggu memberikan saya banyak pandangan dan pengalaman baru. Sebelum menginjakkan kaki di Beijing, saya memiliki pandangan yang skeptis terhadap negara Tiongkok. Saya berpikiran bahwa Tiongkok memiliki masyarakat yang gaduh dan kisruh, seperti yang ditampilkan di berbagai media belakangan ini.

Ternyata, pandangan saya ini tidaklah benar. Di Beijing, saya bertemu seorang laoshi (guru) yang merupakan keturunan asli Tiongkok. Beliau mengajari kami bahasa Mandarin dengan sangat sabar, santun dan bersahabat. Begitupun dengan pramuwisata kami, seorang perempuan keturunan asli Tiongkok yang sopan dan bersemangat setiap memandu kami di dalam perjalanan. Masyarakat Tiongkok yang kami temui sepanjang perjalanan juga ramah-ramah. Hal-hal inilah yang membatalkan pandangan skeptis saya terhadap negara tirai bambu ini.

Selain belajar bahasa Mandarin, saya bersama 9 teman saya mengunjungi berbagai tempat favorit di Beijing. Tempat-tempat seperti Forbidden City, Great Wall of China hingga Beijing National Stadium tidak luput untuk kami kunjungi. Di sana saya belajar banyak hal, dimulai dari melihat kemajuan teknologi di negara Tiongkok hingga mengagumi pusat-pusat bersejarah di negara tirai bambu tersebut.

Related Posts
1 daripada 3

Betapa terpukaunya saya terhadap pemerintah Tiongkok yang mampu membuat kotanya memiliki tata kota yang rapi serta lingkungan yang bersih meskipun negara ini memiliki populasi penduduk terpadat nomor 1 di dunia. Saya berharap Indonesia dapat mengambil ilmu dari negara Tiongkok mengingat Indonesia juga termasuk salah satu negara negara terpadat di dunia.

Pada hari ke-6, kami berpindah dari kota Beijing menuju kota Shenzhen. Shenzhen sendiri merupakan kota asal Huawei selaku penyelenggara program Seeds for the Future ini.  Di Shenzhen, kami mempelajari banyak hal terkait inovasi-inovasi yang sedang dikembangkan oleh Huawei.

Masyarakat Indonesia pada umumnya mengenal Huawei hanya sebagai perusahaan penyedia perangkat smartphone. Pada kenyataannya, Huawei menyediakan berbagai produk-produk jaringan dan solusi telekomunikasi yang tidak terbatas pada ponsel saja.

Teknologi-teknologi baru seperti 5G, Internet of Things, Artificial Intelligence hingga ke cloud menjadi fokus pembelajaran kami di Shenzhen. Patut dikagumi bahwa Huawei di tahun 2019 menjadi perusahaan peringkat 4 teratas di dunia di dalam menginvestasikan dananya untuk R&D (Research and Development). Dengan demikian, Huawei mampu mempelopori banyak teknologi-teknologi terbarukan seperti 5G, cloud services, hingga ke semikonduktor.

Salah satu hal paling menarik yang saya lakukan di Shenzhen adalah mengonfigurasi Base Transceiver Station (BTS) untuk teknologi 5G. Hal ini tentunya mengejutkan dikarenakan Cisco memproyeksikan penetrasi teknologi 5G di Indonesia baru akan terjadi pada 2022 mendatang. Sedangkan saya sendiri beruntung sudah dapat merasakan langsung perangkat-perangkat penunjang teknologi 5G.

Tidak hanya itu, saat kami mengunjungi Huawei’s 5G exhibition hall di Shenzhen, saya menemui banyak sekali teknologi yang belum ada di Indonesia. Melihat peralatan-peralatan unik ini meningkatkan rasa penasaran saya untuk melihat perkembangan teknologi di masa depan.

Tidak terasa lebih dari 2 minggu saya mengikuti program Seeds for the Future. Banyak pengalaman-pengalaman menarik lainnya yang tidak cukup untuk saya sampaikan melalui tulisan ini. Mengikuti program Seeds for the Future telah menjadi pengalaman yang berharga di hidup saya dan akan saya jadikan motivasi untuk mengembangkan teknologi di Indonesia kedepannya.

Foto utama: Pixabay/heike2hx