Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Shenzen: Harapan dan Masa Depan Sillicon Valley China

Shenzhen, sebuah kota yang sering disebut Sillicon Valley nya China, telah menduduki posisi puncak dalam daftar tahunan kota-kota terbaik di China. Kota Metropolis di bagian selatan China, yang 14 tahun lalu hanyalah sebuah desa nelayan di perbatasan Hong Kong, sekarang menjadi peringkat nomor dua sebagai kota maju di negeri tirai bambu.

Saat ini, Shenzhen adalah rumah bagi perusahaan teknologi bernilai miliaran dolar seperti Tencent, Huawei, Konka, ZTE, JXD dan OnePlus. Bahkan startup teknologi yang luar besar seperti yang meliputi bidang edtech dan AI bermarkas di kota ini. Setelah bertahun-tahun penelitian dan pengembangan, kegiatan manufaktur dari tingkat rendah telah menjadi produksi manufaktur tingkat tinggi yang membuka jalan bagi produksi perangkat keras dan perangkat lunak buatan negara ini.

Dalam program Seeds For The Future 2019, Huawei mengajak para delegasi generasi mudanya dari berbagai negara untuk melihat bagaimana Huawei melakukan investasi besar-besaran di sana. Kemajuan pesat kota itu, membuat perusahaan raksasa ini melalui pusat R&D nya menginvestasikan $100 miliar dalam 5 tahun kedepan demi mengembangkan infrastruktur jaringan yang lebih efsien. Di sini juga, tim seeds diajarkan mengenai teknologi 4G dan 5G dan bagaimana Huawei mengembangkan produk mereka disana.

Dampak dari perkembangan itu juga membuat kota ini menjadi contoh dalam penerapan smart city yang mungkin kurang lebih sama dengan kota-kota besar di negara lainnya. Dibanding motor, lebih banyak sepeda yang lalu lalang di Shenzhen, dan uniknya sepeda ini model-model dan warnanya sama, kebanyakan didominasi warna biru, orange  dan kuning. Layanan tersebut dinamakan bike sharing dimana cara sewa nya sederhana dan murah.

Pembayaran digital di Shenzhen juga sudah hampir meliputi segala bagian dari dunia digital, dari membeli bensin, tiket MRT, bus, taksi, sewa sepeda, membayar belanjaan, makan di restoran, hingga kedai kaki lima pinggir jalan. Kita cukup menggunakan smartphone, memeilih pembayaran digital yang akan digunakan, misalnya Alipay dari Alibaba grup atau lewat aplikasi Wechat, scan QR code, masukkan nominal, dan selesai. Resi transaksi akan dikirim secara digital ke smartphone kita.

Bagi para pencinta gadget dan elektronik, distrik Huaiqiang Bei tentu saja tidak bisa dilewatkan. Dikenal sebagai pusat hardware market terbesar, banyak importir dari negara lain yang memesan produk mereka dari sini dikarenakan harganya yang cukup murah.

Related Posts
1 daripada 3

Huaqiang Bei sendiri areanya tertata dan rapi, bangunan-bangunannya modern, tentu saja dikelilingi iklan berbagai macam produk elektronik. Ada area yang lebih khusus untuk aksesoris smartphone, ada area untuk PC parts, elektronik second hand, elektronik lain seperti televisi dan lain-lain. Untuk belanja di kawasan ini, setidaknya kita perlu menggunakan teknik menawar yang baik. Sehingga perlu mengerti sedikit bahasa mereka, dikarenakan cukup susah untuk bernego menggunakan bahasa inggris.

Namun di balik sisi tersebut, Shenzen mempunyai beberapa tempat wisata yang patut dikunjungi. Tim Seeds for the Future 2019 berkesempatan mengunjungi beberapa tempat wisata utama. Bagi yang ingin melihat sejarah kota shenzen dan replika bangunan China yang indah, kita bisa mengunjugi kawasan seperti China Folk Cultural Village dan Shenzen Museum.

Kemudian jika ingin melihat keindahan kawan pesisir Shenzen, OCT harbour merupaan pilihan yang tepat karena selain menyediakan lingkungan yang adem, disana juga menyediakan shopping mall sebagai tempat hang out bagi para pelancong. Hampir semua tempat wisata di kota tersebut dibuat dengan tujuan untuk mempromosikan Shenzen sebagai tempat wisata yang layak untuk dikunjungi.

Jika kita bandingkan dengan yang di Amerika, nampaknya Shenzen dapat menjadi lebih baik. Amerika telah lupa bagaimana berinovasi dalam hal perangkat keras. Silicon Valley milik Amerika hanya sepenuhnya lokasi tempat pengembangan perangkat lunak. Jarang ada yang melakukan pengembangan perangkat keras di sana. Sedangkan Shenzhen memiliki keuntungan yang dua kali lipat. Berbeda dengan proses prototyping yang lama sehingga menghambat pengembangan perangkat keras di Amerika, pengembang di Shenzhen dapat dengan mudah masuk dan melakukan launching.

Ambil contohnya Xiaomi, yang awalnya perusahaan smartphone, mereka sekarang memaksimalkan keuntungan integrasi perangkat keras-lunak dengan melakukan diversifikasi ke elektronik pintar seperti kulkas, mesin kopi, TV pintar, dan perangkat yang dapat dikenakan seperti pedometer. Memanfaatkan tren perangkat pintar, mereka menyediakan perangkat keras dan lunak yang digabungkan dengan sistem mereka, dimana produk murah mereka banyak disukai oleh masyarakat global.

Dengan rekam jejak Shenzhen sebagai salah satu contoh sukses dari negeri tirai bambu, sebuah pelajaran berharga dapat ditarik. Dulu kita ingat pepatah, “belajarlah hingga ke negeri China”, namun kita terkadang tidak tahu alasannya mengapa. Sekarang dengan bukti kemajuan negara mereka, kita menjadi tahu bahwa semangat masyarakat dan pemimpin negeri tirai bambu dalam membangun negaranya sangatlah cocok untuk dicontoh.
Baca juga: KBRI di China: Mahasiswa Seeds for the Future Lanjutkan Transformasi Digital di Indonesia

Janganlah kita sungkan belajar dari bangsa lain untuk tujuan kebaikan serta kemajuan sosial ekonomi bangsa. Untuk memujudkan sebuah bangsa berintegritas dan maju, maka diperlukan panutan dan contoh nyata dari para pemimpinnya serta sistem yang mendukungnya. Semoga dengan pengalaman ini, kita semua bersama juga dapat membawa Indonesia menjadi negara maju dalam beberapa tahun ke depan