Jakarta, Gizmologi – Samsung dilaporkan telah menaikkan harga material untuk servis smartphone di Korea Selatan seiring meningkatnya biaya komponen dan bahan baku di pasar global. Kenaikan harga komponen elektronik tidak hanya berdampak pada harga jual perangkat baru, tetapi juga mulai memengaruhi biaya perbaikan perangkat.
Menurut laporan media Korea Selatan, The Chosun, harga material yang digunakan untuk perbaikan smartphone Samsung mengalami kenaikan rata-rata sekitar 5%. Dampaknya, biaya servis yang harus dibayar konsumen juga ikut meningkat meskipun tidak terlalu signifikan. Kenaikan serupa turut terjadi pada segmen peralatan rumah tangga, dengan biaya material servis naik rata-rata 9%.
Perubahan ini menjadi pengingat bahwa tekanan pada rantai pasok global masih belum sepenuhnya mereda. Dalam beberapa tahun terakhir, industri teknologi menghadapi berbagai tantangan mulai dari fluktuasi harga bahan baku, ketidakpastian geopolitik, hingga meningkatnya permintaan komponen untuk kebutuhan pusat data dan AI.
Baca Juga: Resmi Dijual, Harga Galaxy A27 5G Mulai Rp5 Jutaan
Harga Suku Cadang Jadi Faktor Utama
Samsung menjelaskan bahwa kenaikan biaya servis terutama berasal dari meningkatnya harga material dan suku cadang. Perusahaan menegaskan bahwa tarif tenaga kerja maupun biaya layanan tetap tidak mengalami perubahan.
Berdasarkan laporan tersebut, sekitar 80% biaya perbaikan perangkat berasal dari harga komponen pengganti. Sementara sisanya mencakup biaya teknisi dan layanan purna jual. Dengan kata lain, perubahan harga suku cadang memiliki pengaruh terbesar terhadap total biaya yang dibebankan kepada pelanggan.
Secara rata-rata, biaya servis smartphone Samsung di Korea Selatan kini bertambah sekitar 11.000 won atau setara sekitar Rp130 ribuan. Nilai tersebut memang tidak terlalu besar untuk satu kali perbaikan, tetapi tetap menjadi tambahan pengeluaran yang perlu diperhitungkan oleh pengguna.
Harga Bahan Baku Global Ikut Mendorong Kenaikan
Meski lonjakan harga memori dan penyimpanan akibat tingginya permintaan AI sempat menjadi sorotan, laporan ini menyebut bahwa faktor utama kenaikan biaya servis justru berasal dari harga bahan baku seperti tembaga dan emas.
Kenaikan harga komoditas tersebut disebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan rantai pasok global. Bahkan, salah satu produsen yang dikutip oleh Kementerian UKM Korea Selatan menyebut harga bahan baku melonjak hingga sekitar 60% pada paruh pertama tahun ini akibat keterbatasan pasokan.
Saat ini, kenaikan biaya servis baru dikonfirmasi terjadi di Korea Selatan. Namun, kondisi pasar komponen yang bersifat global membuat kemungkinan penyesuaian harga serupa di negara lain tetap terbuka. Bagi konsumen, situasi ini menunjukkan bahwa biaya kepemilikan perangkat elektronik tidak hanya ditentukan oleh harga beli, tetapi juga oleh biaya perawatan dan perbaikan yang dapat berubah seiring kondisi industri.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

