Review Samsung Galaxy A03 Core: Paling Murah, Layak Dilirik

9 Min Read

Kalau lini flagship berlomba hadirkan fitur selengkap mungkin dan sebaik mungkin, tentu kondisinya berbeda di smartphone entry-level. Bagaimana dengan harga yang murah, vendor masih bisa berikan perangkat layak pakai nan memadai. Untuk akhir 2021, Samsung Galaxy A03 Core hadir sebagai penawaran terbaru dengan banderol sangat terjangkau.

Saya pribadi cukup mengapresiasi bagaimana vendor asal Korea Selatan ini terus berbenah beberapa tahun terakhir. Dari yang awalnya dikenal “flagship-nya aja yang bagus”, sekarang bisa berikan ragam produk dengan harga variatif nan kompetitif. Kurang dari Rp2 juta punya layar 90Hz, seri menengahnya dibuat tahan air, sampai yang layar lipat pun justru turun harga.

Kali ini, Samsung Galaxy A03 Core hadir sebagai generasi penerus dari A01 Core (setidaknya dari namanya). Harga lebih murah (untuk varian memori yang sama), namun peningkatannya sangat signifikan. Membuat smartphone ini sangat mudah direkomendasikan bagi mereka yang punya dana cekak dan ingin smartphone yang tergolong reliabel.

Mulai dari belajar online, kebutuhan bisnis kecil hingga lainnya, Galaxy A03 Core cocok untuk berbagai kebutuhan. Kuncinya ada pada ekspektasi selama penggunaan—ingat, harganya murah, jadi jangan berharap punya fitur seperti kamera atau gaming ekstra. Berikut ulasan lengkapnya.

Desain

Kalau generasi sebelumnya terlihat membosankan dengan desain klasik pada bagian depan, Samsung Galaxy A03 Core terlihat cukup stylish di kelasnya. Iya, memang terbuat sepenuhnya dari plastik. Tapi setidaknya Samsung berikan usaha lebih dengan berikan tekstur khusus pada bodi belakangnya. Hadir dalam warna hitam dan biru.

Smartphone ini tergolong besar sekaligus berbobot di 211 gram—menurut saya pribadi, justru jadi terasa kokoh, namun juga bakal kurang nyaman digunakan satu tangan berlama-lama. Ketebalannya masih oke di 9,1mm, dengan sudut lengkung bodi kiri dan kanan yang membuatnya nyaman. Dan ya, belum ada sensor sidik jari pada smartphone Samsung termurah satu ini.

Tekstur pada bodi belakang Samsung Galaxy A03 Core membuatnya lebih tahan gores, tak membekas sidik jari, serta tidak licin sekalipun tangan sedang berkeringat. Jadi nggak perlu khawatir baret meski tidak ada aksesori bawaan seperti soft case dalam paket penjualannya.

Layar

Kalau seri sebelumnya punya layar 5,3 inci dengan bezel tebal, kali ini Samsung Galaxy A03 Core sudah menggunakan standar yang sama dengan seri-seri kakaknya yang lebih mahal. Menggunakan waterdrop notch, dimensinya kini mencapai 6,5 inci, dengan resolusi HD+ dan bezel cukup tipis (kecuali bagian bawah yang masih wajar banget).

Layar dari Galaxy A03 Core menggunakan panel berjenis PLS TFT, rilisan Samsung yang saturasinya setara dengan IPS. Jadi nggak usah khawatir bakal terlihat pucat, atau kurang terang saat penggunaan di luar ruangan. Nyaman juga kok ketika dibuat ketik-ketik cepat dari keyboard virtual.

Paling-paling, PR-nya adalah harus membelikan lapisan anti gores tambahan kalau ingin membuatnya bebas dari goresan, mengingat tidak ada proteksi tambahan yang diberikan dari Samsung.

Kamera

Samsung Galaxy A03 Core dibekali dengan satu sensor kamera pada bodi belakangnya. Resolusinya 8MP f/2.0, mendukung autofokus dan dilengkapi lampu kilat. Sementara di depan, terdapat kamera 5MP f/2.2 untuk kebutuhan swafoto. Mode kameranya pun sangat sederhana, hanya ada foto, video dan pengambilan panorama.

Ya, wajar saja kalau belum ada mode lainnya seperti potret, mode malam atau opsi menambahkan watermark pada setiap foto. Lalu bagaimana dengan hasil fotonya? Well, dengan harga ‘sejuta kecil’, masih tergolong oke. Dynamic range tentu sangat terbatas, dan detail bakal langsung berkurang ketika sumber cahaya tak banyak seperti kondisi indoor.

Warna foto yang dihasilkan cenderung hangat, termasuk pada kamera depannya. Overall, tak bisa dibilang “sekadar objek terlihat” saja, tapi juga bukan yang terbaik di kelasnya. Begitu pula dengan perekaman videonya, meski sudah bisa sampai 1080p 30fps, namun tentu belum dilengkapi dengan EIS.

Sedikit poin yang bisa saya apresiasi adalah kecepatan untuk ambil foto sesaat setelah menekan tombol shutter. Plus pintasan Quick Launch dengan menekan tombol power dua kali. Dengan begitu, pengguna tak bakal kelewatan momen yang tiba-tiba datang, berkat software yang optimal.

Fitur

Mengingat performa chipset pada smartphone murah lebih terbatas, Samsung memutuskan untuk gunakan One UI berbasis Android 11 Go edition pada Samsung Galaxy A03 Core. Dengan begitu, fitur-fiturnya lebih terbatas, namun setidaknya tampilan antarmuka masih mirip. Dengan ikon besar dan peletakan tombol yang pas.

One UI adalah tampilan UI yang paling mudah digunakan untuk beragam kalangan, sehingga mereka yang baru pakai Android untuk pertama kalinya bakal bisa menyesuaikan dengan cepat. Jumlah bloatware juga relatif sedikit, dan fitur seperti dark mode juga masih tersedia.

Ada juga fitur khusus yang memudahkan pengguna untuk bersihkan file tak terpakai, supaya memori lebih lega. Dan menjadi salah satu diferensiasi dari smartphone terjangkau lain, Samsung Galaxy A03 Core mengusung triple slot SIM dengan dukungan kapasitas microSD sampai 1TB.

Performa

Chipset yang digunakan pada Samsung Galaxy A03 Core sama persis dengan Nokia C3 yang dibanderol lebih mahal, yakni Unisoc SC9863A octa-core 28nm. Namun bisa saya pastikan, performanya jauh lebih lancar, baik untuk buka tutup aplikasi hingga multitasking.

Besar kemungkinan karena Samsung memilih versi dasar Android yang lebih ringan, kemudian dioptimalkan dengan One UI racikan pabrikan. Ya, menggunakan smartphone tidak selambat yang saya bayangkan. Untuk penggunaan ringan seperti aplikasi chatting atau media sosial, tentu sudah cukup memadai.

Asal jangan dipakai bermain gim saja. Gim kasual seperti Subway Surfers sih masih oke, tapi kalau sudah dipakai main PUBG Mobile atau Pokemon Go, tentu bakal ada frame-drop yang sangat terasa ketika ada banyak objek dalam satu frame.

Baterai

Layar besar pada Samsung Galaxy A03 Core juga diimbangi dengan kapasitas baterai besar. Dengan 5,000 mAh, smartphone ini sangat bisa diandalkan untuk pemakaian satu hari penuh. Tentunya jika penggunaan lebih ringan, bisa capai dua hari pemakaian, tanpa perlu menyentuh sumber listrik.

Ya, meski masih pakai fabrikasi 28nm, konsumsi dayanya tergolong irit. Lagi-lagi berkat Android Go, dan mungkin pola penggunaan yang berbeda dengan smartphone kelas mahal (seperti akses kamera). Mau dijadikan hotspot sepanjang hari? Bisa juga.

Port-nya sendiri masih pakai microUSB, dan adapter bawaan pabrikan hanya memiliki output daya kurang dari 8 watt. Alhasil, proses pengisian daya bisa mencapai 3 jam. Setidaknya baterai tidak boros, jadi bisa diisi daya saat tengah malam saja.

Kesimpulan

Punya budget Rp1,2 juta? Maka Samsung Galaxy A03 Core bisa jadi salah satu bahkan opsi yang terbaik untuk saat ini. Desain yang stylish, layar besar, baterai awet dan performa yang surprisingly masih nyaman untuk penggunaan ringan. Dengan tambahan One UI yang mudah digunakan.

Benefit lain dari memiliki smartphone Samsung, tentu saja mudah didapat baik secara daring dan luring, plus pusat perbaikan yang tersebar banyak di seluruh Indonesia. Apakah ada alternatif yang lebih bagus? Ada, yakni Redmi 9A yang bisa kasih kamu kualitas kamera lebih baik (bahkan ada mode potret), plus performa sedikit lebih kencang.

Namun harga Redmi 9A sendiri selisih -+ Rp100 ribu lebih mahal. Selisih yang sudah hampir 10% dari harga jual Samsung Galaxy A03 Core, alias cukup signifikan. Di sini, terlihat bila pada akhirnya, Samsung bisa benar-benar bersaing dengan vendor lain yang dikenal dapat berikan spesifikasi lebih tinggi.


Beli perangkat Samsung secara online di:

SHOPEE Lazada TOKOPEDIA

 Spesifikasi Samsung Galaxy A03 Core

Klik pada gambar untuk spesifikasi lebih lanjut.

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version