Onimusha: Way of the Sword terjual lebih dari 1 juta unit secara global hanya dalam satu hari sejak dirilis pada 4 September 2025. Kabar ini dikonfirmasi Capcom secara langsung pada 7 September. Pencapaian ini membawa total penjualan seri baru Onimusha ini melewati angka 10 juta unit sejak game pertamanya debut pada 2001.
Tonggak sejarah ini sangat penting, mengingat Onimusha: Way of the Sword merupakan seri terbaru dalam seri Onimusha setelah lebih dari 20 tahun absen.
Game action dengan Miyamoto Musashi sebagai protagonis tersebut tersedia untuk PlayStation 5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch 2, dan PC.
Untuk pasar Indonesia, versi Standard Edition di PlayStation Store Indonesia game ini dibanderol Rp 1.010.000. Tersedia pula Deluxe Edition seharga Rp 1.153.000 dan Premium Deluxe Edition Rp 1.309.000.
Baca Juga: Samsung Galaxy S26 FE Debut di Indonesia, Segini Harganya
Onimusha Kembali Setelah Lebih dari 20 Tahun
Capcom tidak merinci komposisi penjualan satu juta unit tersebut berdasarkan platform maupun wilayah. Perusahaan menyebut sejumlah aktivitas sebelum peluncuran, termasuk perilisan beberapa demo dan pameran hands-on, sebagai bagian dari upayanya memperluas awareness game ke lebih banyak pemain.
Per 31 Maret 2026, Capcom masih mencatat total penjualan seri Onimusha di angka 9,1 juta unit. Angka ini terkumpul dari seluruh game Onimusha sejak seri ini pertama rilis tahun 2001, sebuah action game memadukan latar sejarah Jepang dengan unsur fantasi.
Dengan tambahan 1 juta unit dari Way of the Sword, total kumulatif seri ini kini sudah melewati 10 juta unit. Artinya, satu game saja berkontribusi sekitar 10 persen dari seluruh sejarah penjualan franchise.
Onimusha sendiri pertama kali hadir pada 2001 sebagai game action dengan perpaduan latar sejarah Jepang dan unsur fantasi. Untuk Onimusha: Way of the Sword, Capcom membawa pemain ke Kyoto pada awal periode Edo, dengan Miyamoto Musashi menghadapi makhluk Genma menggunakan Oni Gauntlet.
Lebih dari sekadar melanjutkan seri lama, kembalinya Onimusha juga menjadi bagian dari strategi IP yang sudah beberapa kali disampaikan perusahaan.
Onimusha Way of the Sword Sukses, Capcom Hidupkan Kembali IP Lama
Saat mengumumkan Onimusha: Way of the Sword pada Desember 2024, perusahaan asal Jepang ini terang-terangan menyebut sedang fokus mengaktifkan kembali dormant IP, yakni seri sudah lama tidak mendapatkan game baru.
Pada pengumuman sama, perusahaan juga memastikan proyek sekuel Okami telah dimulai. Strategi tersebut bukan sekadar pernyataan promosi untuk dua game.
Dalam laporan strategi pengembangannya, perusahaan memasukkan kebangkitan dormant IP bersama game besar dan brand baru ke dalam roadmap pengembangan perusahaan.
Posisi Onimusha Way of the Sword juga sempat dibahas secara spesifik dalam sesi tanya jawab laporan keuangan Capcom pada Mei 2025. Saat ditanya mengenai cara meningkatkan IP non-major seperti Onimusha dan Dead Rising, perusahaan mengatakan ingin memperkuat masing-masing brand melalui pertumbuhan penjualan katalog setelah sebuah game baru dirilis.
Namun pencapaian hari pertama ini belum cukup untuk menilai keberhasilan strategi tersebut secara keseluruhan. Performa penjualan dalam jangka lebih panjang, kontribusi terhadap katalog game lama, serta kemampuan Capcom memperluas audiens Onimusha di luar penggemar terdahulu masih perlu dilihat.
Capcom sendiri belum mengumumkan game kelanjutan dari Onimusha Way of the Sword dalam pengumuman pencapaian penjualan ini. Jadi angka satu juta unit lebih aman dibaca sebagai awal positif bagi comeback seri absen selama 20 tahun, bukan konfirmasi Way of the Sword otomatis akan mendapatkan sekuel.
RE Engine dalam Onimusha: Way of the Sword
RE Engine adalah mesin proprietary Capcom, yang bergabung dalam ekosistem studio di pertengahan 2010-an, telah menjadi senjata rahasia untuk menghasilkan visual berkualitas tinggi secara konsisten. Dalam Onimusha: Way of the Sword, Capcom kembali membawa RE Engine untuk membangun dunia yang hidup di dalam game. Bukan saja lingkungan yang hidup, engine ini juga memukau gamer karena mampu memperlihatkan ekspresi wajah detail.
RE Engine dibangun dengan konsep sederhana tapi powerful, yakni memberikan seluruh tim Capcom akses pada unified toolchain yang sama untuk 3D models, tekstur, animation data, dan efek, sehingga setiap proyek tidak perlu reinvent workflow sendiri-sendiri. Director Satoru Nihei dari Capcom menyatakan bahwa teknologi terkini engine ini memungkinkan mereka menghadirkan level kualitas visual dan efek khusus dalam scene pertarungan yang tidak mungkin dilakukan di Onimusha generasi sebelumnya.
Capcom berhasil menciptakan konsistensi visual yang tinggi di seluruh game bermodal RE Engine, mulai dari Resident Evil hingga Monster Hunter Wilds, dan kini Onimusha. Sistem yang terstandar ini juga membebaskan tim kreatif untuk fokus pada storytelling dan gameplay daripada terjebak dalam masalah teknis dasar.
Mulai dari animasi blade-clash yang detail hingga feedback visual saat parry berhasil, setiap interaksi senjata dalam pertarungan dirancang untuk terasa dampaknya. Kontak antara katana Musashi dengan musuh bukan hanya sekali klik tapi momen yang tervisualisasi dengan presisi tinggi. Ini adalah detail yang sering terlewatkan pemain, namun memberikan weight dan keberadaan pada setiap pukulan yang dilancarkan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

