Mewaspadai Risiko Keamanan Siber Cloud saat WFH

Seiring pemberlakukan PPKM Darurat. Banyak perusahaan yang kembali menerapkan sistem kerja remote working atau sekarang lebih populer disebut Work From Home (WFH). Adaptasi bekerja dari rumah juga mendorong penggunaan sistem komputasi awan. Tentunya faktor keamanan siber menjadi perhatian penting bagi mereka yang harus beraktivitas secara mobile maupun remote.

Perusahaan keamanan siber Horangi mengatakan penting untuk mewaspadai risiko keamanan dalam infrastruktur cloud, terutama dalam adaptasi bekerja dari rumah (WFH). Terlebih sebuah perusahaan harus bisa mengelola semua komponen keamanan end-to-end, mulai hardware, software, jaringan sampai firewall.

“Saat ini para pemimpin dan pemangku kepentingan di sektor IT perlu memfokuskan kembali tujuan dan investasi mereka pada kebijakan, access control, IAM, access management istimewa, pelatihan pengetahuan keamanan siber, endpoint protection, pencegahan kehilangan data, dan juga risiko supply chain untuk keamanan kerja jarak jauh guna mencegah terjadinya kebocoran dan serangan siber,” kata CEO dan Co-Founder Horangi, Paul Hadjy, melalui keterangannya, Selasa (13/7/2021).

Ancaman Keamanan Siber Saat WFH

Ilustrasi kerja WFH Fujitsu ScanSnap ix1600
Ilustrasi WFH

Hal ini didasari analisis Horangi terhadap 285 ribu pemindaian (scan) yang dilakukan aplikasi multi-cloud Warden yang menjadi solusi Cloud Security Posture Management (CSPM) andalan mereka.

Temuan keamanan siber tersebut menyoroti bahwa dari 57 ribu scan terdapat 20 persen kesalahan konfigurasi yang berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai vektor ancaman oleh pelaku ancaman keamanan siber. Kesalahan konfigurasi ini umumnya mencakup akses unrestricted serta akses ilegal terhadap jaringan di dalam organisasi.

Meningkatnya ketergantungan pada platform virtual dan metode komunikasi juga menimbulkan adanya peningkatan serangan phising dan ransomware yang mengarah ke hilangnya data personal dan data-data penting.

“Solusi seperti penggunaan CSPM dapat mengidentifikasi dan memperbaiki kerentanan secara proaktif, membantu perusahaan untuk meningkatkan risiko organisasi khususnya bagi yang sudah mengutamakan penggunaan cloud,” kata Hadjy.

Lebih lanjut, analisa juga mencakup berbagai kerentantan lain dalam infrastruktur cloud yang secara kolektif dapat mempengaruhi postur risiko keamanan keseluruhan organisasi seperti manajemen identitas dan akses, kontrol akses jaringan dan audit logging.

Terdapat dua kategori layanan yang tersedia bagi pengguna dalam memastikan keamanan cloud untuk aplikasi. Native Cloud Security yang ditawarkan oleh Penyedia Layanan Cloud (CSP); seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud Platform (GCP) dalam infrastruktur mereka saat ini.

Selain itu ada juga keamanan third-party yang merupakan solusi unik dari penyedia layanan non-CSP yang bertujuan untuk mengatasi kekurangan dari yang sistem keamanan bawaan CSP.

“Solusi keamanan cloud dari pihak ketiga dapat menambah nilai pada berbagai bisnis di internet yang kompleks dan sarat dengan aturan ketat seperti layanan keuangan, perawatan kesehatan, dan pemerintahan, sekaligus didukung penuh secara operasional untuk skala yang lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan bisnis,” kata Hadjy.

Tinggalkan komen