Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Zoho: Platform Berbasis Cloud Mendemokratisasi Perangkat Lunak Bisnis

0 68

Kehadiran teknologi cloud telah membuktikan adanya disrupsi pada kebiasaan lama masyarakat dalam menjalani kehidupan. Industri ini telah mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir. Sekarang sedang mengalami percepatan pengadopsian karena krisis global yang terjadi pada sembilan bulan terakhir.

Berkat teknologi cloud, perangkat lunak mahal dan kompleks yang sebelumnya sulit ditemukan sekarang banyak tersedia dan makin terjangkau.Tahap ini membuahkan demokratisasi pada bisnis perangkat lunak, yaitu pergeseran sumber daya yang dulu langka menjadi sesuatu yang dapat digunakan oleh semua orang.

Menurut Gibu Mathew, VP & GM Zoho Corporation untuk wilayah Asia Pasifik, terdapat beberapa faktor mengapa terjadinya perubahan pada aplikasi perkantoran yang lebih demokratis, mudah digunakan, dan terjangkau. Merambaknya teknologi informasi adalah salah satunya.

“Perangkat lunak telah menjadi faktor penting dalam kehidupan sehari-hari. Kalau dulu memerlukan bermacam proses pengkodean dan pengetahuan teknis, kini dapat diselesaikan hanya dengan melakukan drag and drop.  Aplikasi perkantoran telah mengikuti dan semakin terasa seperti aplikasi sehari hari. Dengan fitur yang umum serta antarmuka pengguna yang familiar, kini keahlian dan pelatihan khusus tidak lagi diperlukan untuk membangun dan menjalankan perangkat lunak,” kata Gibu.

Demokratisasi perangkat lunak

Surface Laptop GoBagian dari demokrastisasi perangkat lunak adalah semakin banyaknya pilihan konsumen. Setiap hari, banyak aplikasi-aplikasi yang ditawarkan sehingga masyarakat memiliki berbagai opsi untuk menangani proses bisnis apa pun.

Menurut Gibu, saat ini pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) pun dapat mengakses piranti lunak yang sebelumnya hanya bisa dimiliki perusahaan besar. Dahulu perangkat lunak bisnis membutuhkan modal yang sangat banyak. Konsekuensinya, hanya perusahan besar dengan dana berlimpah yang mampu memiliki fitur dan kemampuan yang disediakan oleh komputasi awan.

“Kebangkitan teknologi cloud dan seluler  tidak lagi dikaitkan dengan kebutuhan seperti melakukan instalasi di tempat, tidak lagi butuh ruangan server atau modal besar untuk menjalankan bisnis. Hanya dengan ponsel pintar saja sudah cukup. Hasilnya? Pemilik Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki akses ke alat yang biasanya dimiliki perusahaan besar selama bertahun-tahun. Sekarang mereka dapat memberikan pengalaman kelas dunia yang tidak kalah saing kepada konsumennya,” imbuhnya.

Sebelumnya, pada Agustus silam dilaporkan bahwa pada kuartal terakhir, Zoho Workplace mengalami peningkatan adopsi secara drastis dan saat ini digunakan oleh 15 juta user di seluruh dunia. Pertumbuhan tak terduga ini merupakan dampak dari pandemi serta high demand dari pemilik usaha yang mencari aplikasi bisnis terpadu yang lebih baik.

Aplikasi bisnis untuk UMKM

Dihubungi terpisah, Ketua Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (HIPMIKINDO) Syahnan Phalipi mengatakan bahwa saat ini banyak yang mengira pelaku UMKM belum terlalu melek terhadap teknologi, padahal pendapat ini tidak sepenuhnya tepat. Banyak aplikasi-aplikasi operasi bisnis yang digunakan oleh pelaku usaha, meski tentu masih belum sampai pada tingkat yang terintegrasi. Berbagai bidang usaha seperti kuliner, fesyen, furnitur, hingga jasa sablon dan percetakan pun secara perlahan sudah mulai mengadopsi teknologi komputasi awan.

“Kelebihan penggunaan teknologi ini salah satunya adalah menekan biaya. Bandingkan kalau UMKM harus menyewa server sendiri hanya untuk menyimpan data konsumen, angka penjualan, database suplier, berapa biaya yang harus mereka keluarkan? Ini hanya cocok untuk level korporasi besar. Saat ini sudah banyak pengembang aplikasi yang memahami kebutuhan UMKM sehingga kita dapatkan banyak sekali solusi teknologi yang ditawarkan, dan ini tentu menguntungkan bagi pelaku usaha kecil menengah,” tuturnya pada Sabtu (28/11).

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, tambah Syahnan lagi, bukan hanya perusahaan besar yang melakukan transformasi digital, bahkan pengusaha UKM pun harus melakukannya. Dengan mengurangi frekuensi berkumpul bersama tim kerja, khususnya bagian produksi, maka bisa berimpilkasi pada berkurangnya pengawasan. Kalau pengawasan menurun, berpengaruh pada quality control.

“Dengan adanya teknologi sistem operasi saat ini, yang dikembangkan oleh perusahaan apapun itu, pelaku UKM tetap bisa berproduksi tanpa harus mengurangi kualitas. Maka kami dari asosiasi mendukung dan terus mengedukasi anggota-anggota kami untuk selalu memperbaharui pengetahuan mereka tentang teknologi, karena kita hidup di masa keterbatasan fisik menjadi tantangan,” tutupnya.