Akses terhadap saham perusahaan global kini tidak hanya menjadi urusan investor yang sudah terbiasa dengan pasar modal internasional. Pintu menghadirkan fitur tokenized stocks yang memungkinkan pengguna mendapatkan akses terhadap aset saham global melalui aplikasi Pintu.
Kehadiran fitur ini menarik karena membuka cara baru bagi investor Indonesia untuk mengikuti pergerakan perusahaan-perusahaan global. Dengan fitur ini, pengguna bisa mengakses saham Chevron, Apple, Google, Tesla, Meta berbagai perusahaan global terkemuka lainnya yang melantai di bursa saham.
Namun, tokenized stocks bukan sekadar mengganti bentuk saham menjadi token. Ada sejumlah aspek yang perlu dipahami, mulai dari aset yang menjadi dasar token, hak investor, likuiditas, biaya, hingga risiko produknya. Dengan kata lain, kemudahan akses tidak serta-merta berarti mekanismenya sama dengan membeli saham secara langsung di bursa.
Baca juga: 5 Cara Trading Futures Pakai PINTU Secara Aman dan Mudah
Apa Itu Tokenized Stocks?
Tokenized stocks adalah representasi digital dari saham perusahaan publik yang diterbitkan dalam bentuk token di atas jaringan blockchain. Konsep ini memungkinkan investor di berbagai negara, termasuk Indonesia, memiliki eksposur terhadap saham perusahaan besar Amerika Serikat seperti Nvidia, Amazon, Meta, Chevron dan lainnya tanpa harus membuka rekening broker luar negeri.
Sederhananya, saham tertokenisasi merupakan token digital yang nilainya mengacu pada harga saham asli di bursa tradisional. Setiap token biasanya didukung oleh saham fisik yang disimpan oleh kustodian atau lembaga keuangan teregulasi, sehingga pergerakan harga token mengikuti pergerakan harga saham acuannya.
Melalui fitur ini, pengguna Pintu dapat mengakses saham perusahaan global melalui aplikasi tanpa harus menggunakan mekanisme pembelian saham secara langsung seperti pada pasar saham konvensional. Konsep tersebut menjadi menarik karena pasar saham global memiliki banyak perusahaan yang selama ini sulit dijangkau investor ritel Indonesia. Dengan tokenisasi, akses terhadap aset tersebut dapat diintegrasikan ke dalam ekosistem aset digital yang sudah digunakan pengguna.
Namun, investor tetap perlu memahami struktur produknya. Hal yang perlu diperhatikan antara lain underlying asset, hak yang melekat pada token, likuiditas, biaya, serta risiko yang mungkin berbeda dibandingkan kepemilikan saham secara langsung.
Karena itu, istilah tokenized stocks tidak sebaiknya langsung dipahami sebagai “saham biasa dalam bentuk digital”. Struktur dan hak investor perlu dilihat berdasarkan mekanisme produk yang ditawarkan.
Cara Kerja Tokenized Stocks
Proses penerbitan tokenized stocks umumnya dimulai dari lembaga penerbit yang membeli saham asli di bursa AS, lalu menguncinya di kustodian sebagai jaminan. Setelah itu, token digital senilai saham tersebut diterbitkan di blockchain seperti Solana atau Ethereum, sehingga bisa diperjualbelikan oleh pengguna di seluruh dunia selama platform mendukung.
Karena berjalan di atas blockchain, transaksi token saham ini dapat diselesaikan hampir seketika tanpa proses kliring berhari-hari seperti di bursa konvensional. Sebagian platform bahkan menyediakan sesi perdagangan di luar jam bursa AS, termasuk saat akhir pekan, meski dengan likuiditas yang cenderung lebih tipis dibanding jam bursa aktif.
Dua nama yang paling sering muncul dalam ekosistem saham tertokenisasi adalah xStocks dan Ondo Finance. xStocks dikembangkan oleh Backed Finance asal Swiss dan telah mencatat volume transaksi on-chain lebih dari delapan miliar dolar AS. Token xStocks tersedia di beberapa jaringan blockchain seperti Solana, Ethereum, dan TON, dengan skema backing 1:1 dari kustodian teregulasi sehingga pengguna dapat menarik token ke dompet pribadi maupun menggunakannya di ekosistem DeFi.
Sementara itu, Ondo Global Markets tercatat sebagai penerbit terbesar di kategori ini berdasarkan total value locked, menembus satu miliar dolar AS dalam waktu kurang dari delapan bulan sejak diluncurkan pada September 2025. Ondo menawarkan lebih dari 260 saham dan ETF asal AS yang tersedia di berbagai jaringan blockchain, lengkap dengan mekanisme pelacakan total return termasuk dividen.
Saham Chevron yang Jadi Perhatian Investor
Salah satu contoh yang relevan untuk melihat bagaimana saham global menjadi perhatian investor adalah Chevron. Perusahaan energi asal Amerika Serikat yang sahamnya diperdagangkan di New York Stock Exchange dengan ticker CVX.
Pada 15 September 2026, saham Chevron sempat mencapai US$217,78 dalam perdagangan intraday dan ditutup di US$217,77, yang menjadi level tertinggi 52 minggu terbaru. Namun, beberapa hari kemudian saham tersebut terkoreksi dan ditutup pada US$203,67 pada 21 September. Pergerakan tersebut memperlihatkan satu hal penting: akses yang lebih mudah terhadap saham global tidak menghilangkan risiko pasar.
Dalam kasus Chevron, pergerakan saham tidak terlepas dari dinamika industri energi global. Konflik geopolitik dan perubahan ekspektasi terhadap pasokan minyak dapat memengaruhi harga crude oil, yang kemudian menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor ketika menilai perusahaan energi.
Chevron juga memiliki sejumlah perkembangan bisnis yang menjadi perhatian pasar. Pada 2025, perusahaan mencatat produksi global sekitar 3,7 juta barel setara minyak per hari, naik 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut antara lain didorong oleh akuisisi Hess dan sejumlah proyek produksi di Kazakhstan, Permian Basin, serta Gulf of America.
Pada September 2026, Chevron juga mengumumkan kesepakatan baru dengan pemerintah Venezuela. Perusahaan berencana menginvestasikan lebih dari US$7 miliar selama lima tahun untuk memperluas operasi di negara tersebut dan meningkatkan produksi menjadi sekitar 600.000 barel per hari.
Bagi investor, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ketika mengakses saham global, yang dihadapi bukan hanya pergerakan harga di layar aplikasi. Kinerja perusahaan tetap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi industri, komoditas, strategi bisnis hingga geopolitik.
Apa yang Perlu Dipahami Investor?
Kemudahan mengakses saham global melalui tokenized stocks membuat pemahaman terhadap produk menjadi semakin penting.
Pertama, investor perlu mengetahui aset apa yang menjadi underlying dari token tersebut dan bagaimana hubungan antara token dengan aset yang mendasarinya.
Kedua, pahami hak yang diperoleh investor. Kepemilikan token tidak otomatis berarti seluruh hak yang melekat pada kepemilikan saham secara langsung juga berlaku dengan cara yang sama.
Ketiga, perhatikan likuiditas dan biaya. Harga aset global dapat bergerak cepat, sementara mekanisme transaksi tokenized stocks dapat memiliki karakteristik tersendiri.
Keempat, tetap perhitungkan risiko pasar dan nilai tukar. Perubahan harga saham global dapat menghasilkan keuntungan maupun kerugian, sementara aset yang menggunakan denominasi mata uang asing juga menghadirkan faktor kurs.
Hal ini penting karena contoh seperti Chevron menunjukkan bagaimana cepatnya kondisi pasar dapat berubah. Rekor harga yang tercapai pada satu titik tidak menjamin harga akan bertahan di level tersebut.
Bagaimanapun juga, tokenized stocks membawa pendekatan baru terhadap akses investasi global. Bagi investor Indonesia, nilai utamanya terletak pada kemudahan mendapatkan eksposur terhadap aset global melalui platform digital.
Namun, kemudahan tersebut tetap perlu diikuti pemahaman mengenai bagaimana produk bekerja. Sebelum bertransaksi, investor perlu membaca ketentuan produk, memahami underlying asset, hak yang diperoleh, biaya, likuiditas, serta risiko yang menyertainya.
Dengan begitu, tokenized stocks tidak hanya dilihat sebagai cara yang lebih praktis untuk mengakses saham global, tetapi juga sebagai instrumen yang perlu dipahami karakteristiknya sebelum digunakan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

