Jakarta, Gizmologi – Google dan YouTube kembali melanjutkan inisiatif AKSI Digital di Indonesia dengan meluncurkan Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja atau Digital Wellbeing Guidebook. Program ini dikembangkan bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Universitas Indonesia, serta mendapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Peluncuran panduan tersebut menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk menciptakan ekosistem digital yang aman bagi remaja. Tidak hanya menyasar orang tua, program ini juga melibatkan komunitas sekolah melalui pelatihan guru Bimbingan Konseling (BK) agar dapat mendampingi siswa menghadapi tantangan di ruang digital.
Di tengah meningkatnya penggunaan internet dan media sosial oleh generasi muda, isu kesehatan mental, cyberbullying, hingga kecanduan perangkat digital menjadi perhatian yang semakin relevan. Melalui AKSI Digital, Google dan YouTube mencoba mengambil peran dengan menghadirkan panduan praktis serta sejumlah fitur kesejahteraan digital yang dapat dimanfaatkan keluarga Indonesia.
Baca Juga: ACERUN 7K 2026 Siap Digelar, Acer Targetkan 3.000 Pelari di Jakarta
Libatkan Guru dan Orang Tua sebagai Garda Terdepan
Sebagai bagian dari program ini, Google dan YouTube menggandeng BPSDM Komdigi serta DPAPP DKI Jakarta untuk melatih sekitar 2.500 guru BK. Hingga saat ini, sekitar 1.000 guru dilaporkan telah mengikuti pelatihan yang berfokus pada kesehatan mental remaja, literasi digital, dan keamanan siber.
Menurut tim penyusun panduan, buku tersebut dirancang menggunakan bahasa yang mudah dipahami agar dapat digunakan oleh orang tua, guru, maupun masyarakat umum. Materinya mencakup perkembangan remaja di era digital, tantangan psikologis yang muncul, hingga strategi pendampingan yang dapat diterapkan di rumah maupun sekolah.
Meski demikian, keberhasilan program semacam ini tetap bergantung pada implementasi di lapangan. Pendampingan digital yang sehat membutuhkan keterlibatan aktif orang tua dan sekolah secara konsisten, bukan hanya mengandalkan panduan atau pelatihan sesaat.
Google YouTube Tambah Fitur Kesejahteraan Digital untuk Remaja
Selain peluncuran buku panduan, Google YouTube juga memperkenalkan sejumlah fitur yang ditujukan untuk membantu pengguna remaja mengelola waktu penggunaan platform. Beberapa di antaranya adalah pengatur durasi menonton Shorts dan fitur Bedtime Reminder yang dapat membantu membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.
YouTube juga mengklaim telah meningkatkan sistem rekomendasi konten untuk remaja dengan lebih banyak menampilkan video edukatif dan sesuai usia, sekaligus membatasi paparan terhadap jenis konten tertentu yang berpotensi memberikan dampak negatif jika dikonsumsi secara berlebihan.
Berdasarkan studi Ipsos yang dirilis pada 2025, sebanyak 89% orang tua menilai YouTube membantu proses belajar anak, sementara 82% guru menyebut platform tersebut membantu siswa memahami materi yang kompleks. Namun di sisi lain, tantangan seperti kecanduan gawai, paparan konten tidak sesuai usia, dan keamanan digital masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diatasi bersama oleh platform, pemerintah, sekolah, dan keluarga.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

