Life is Strange Reunion Siap Menutup Kisah Max dan Chloe dengan Pendekatan Emosional Baru

3 Min Read

Jakarta, Gizmologi – Satu dekade setelah Life is Strange pertama kali dirilis, Max Caulfield dan Chloe Price masih menjadi dua karakter yang membekas kuat di ingatan pemain. Seri ini bukan hanya dikenal karena kekuatan supernatural yang unik, tetapi juga karena keberaniannya mengangkat trauma, kehilangan, dan pilihan moral yang tidak pernah hitam-putih.

Life is Strange Reunion diposisikan sebagai penutup perjalanan panjang tersebut. Bukan sekadar reuni nostalgia, game ini mencoba merangkum konsekuensi dari setiap pilihan yang pernah diambil pemain sejak Arcadia Bay. Square Enix dan Deck Nine tampaknya sadar bahwa penutup ini membawa ekspektasi besar, sekaligus risiko mengecewakan sebagian penggemar.

Di atas kertas, Life is Strange Reunion menjanjikan pendekatan yang lebih dewasa. Alih-alih menawarkan “akhir bahagia” instan, game ini menempatkan Max dan Chloe sebagai dua individu yang telah berubah oleh waktu, jarak, dan keputusan masing-masing.

Baca Juga: Resident Evil Requiem Siap Buka Era Baru Survival Horror dengan Dua Gaya Gameplay Berbeda

Dua Perspektif, Satu Cerita

Untuk pertama kalinya, Max dan Chloe berperan sebagai co-lead. Pemain tidak lagi melihat dunia hanya dari sudut pandang Max, tetapi juga melalui Chloe, yang kini menjalani hidup sebagai manajer band tur. Pendekatan ini memberi ruang naratif yang lebih seimbang dan memungkinkan konflik berkembang secara organik.

Dari sisi gameplay Life is Strange Reunioin, Max kembali dengan kemampuan Rewind yang kini berevolusi, termasuk eksplorasi timeline lewat foto Polaroid. Sementara Chloe tetap mempertahankan gaya konfrontatif khasnya lewat Backtalk dan kebebasan bergerak di luar lingkungan kampus Caledon, membuka jalur investigasi yang berbeda.

Ambisi Naratif Jadi Ciri Khas

Namun, ambisi Life is Strange Reunion juga menghadirkan tantangan. Menggabungkan banyak pilihan masa lalu, termasuk nasib Chloe di Arcadia Bay dan berpotensi membuat narasi terasa terlalu bercabang atau tidak fokus. Tidak semua pemain mungkin merasa keputusan mereka benar-benar terwakili secara memuaskan.

Selain itu, pendekatan emosional yang berat bisa menjadi pedang bermata dua. Bagi penggemar lama, ini adalah kekuatan utama Life is Strange. Namun bagi pemain baru, ritme cerita yang lambat dan reflektif bisa terasa kurang ramah.

Life is Strange Reunion terlihat berusaha menutup saga ini dengan jujur, bukan spektakuler. Apakah pendekatan tersebut cukup untuk memenuhi ekspektasi sepuluh tahun penantian, jawabannya baru akan terungkap saat game ini rilis pada 26 Maret.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version