Jakarta, Gizmologi – Kemajuan teknologi telah membawa perubahan besar dalam masa depan kesehatan digital. Salah satu tren yang menonjol adalah meningkatnya penggunaan teknologi kesehatan digital oleh generasi muda. Dalam beberapa tahun terakhir, layanan seperti telehealth dan analisis genomik telah menjadi pendorong utama perubahan perilaku preventif, yang mengutamakan pencegahan dibandingkan pengobatan.
Survei terbaru menunjukkan terkait masa depan kesehatan digital bahwa 69% anak muda Indonesia kini menggunakan layanan telehealth, dengan sebagian besar memanfaatkan lebih dari satu aplikasi untuk kebutuhan kesehatan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan semakin meningkat, didorong oleh kemudahan akses informasi dan layanan kesehatan berbasis teknologi. Di sisi lain, penggunaan perangkat seperti smartwatch oleh 6 dari 10 anak muda menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi alat bantu yang efektif dalam pemantauan kesehatan sehari-hari.
Tren dari masa depan kesehatan digital ini juga mencerminkan perubahan paradigma yang signifikan dalam pendekatan terhadap kesehatan. Jika sebelumnya banyak keputusan kesehatan didasarkan pada rekomendasi orang tua atau tenaga medis, generasi muda kini lebih mandiri dan proaktif dalam mencari solusi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kemajuan dalam literasi digital turut mendukung perubahan ini, memungkinkan akses terhadap informasi dan layanan kesehatan yang lebih luas. Maka dari itu, GDP Venture bisa menekankan bahwa masa depan kesehatan digital di Indonesia masuk dalam kategori yang positif.
Baca Juga: Genjot Sektor Bisnis di 2025, LG Pasarkan Single Commercial AC Berbagai Tipe
Telehealth: Mengubah Cara Akses Layanan Kesehatan
Salah satu inovasi untuk masa depan kesehatan digital datang dari Telehealth, atau layanan kesehatan jarak jauh. Ini adalah salah satu cara untuk memberi solusi praktis bagi banyak orang, terutama generasi muda. Dengan hanya menggunakan aplikasi di ponsel, mereka dapat berkonsultasi dengan dokter, mendapatkan resep, bahkan menjadwalkan pemeriksaan tanpa harus meninggalkan rumah. Hal ini menjadi sangat relevan pasca pandemi, dimana kebutuhan akan layanan kesehatan yang cepat dan aman meningkat drastis.
Menurut Lokadata, sebanyak 43% anak muda Indonesia kini rutin memeriksakan kesehatan setidaknya sekali setahun. Selain itu, banyak dari mereka yang aktif menggunakan aplikasi telehealth untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih mudah diakses. Ini menunjukkan bahwa telehealth tidak hanya mempermudah akses, tetapi juga mendorong kebiasaan sehat seperti pemeriksaan rutin dan deteksi dini.
Namun, tantangan tetap ada, terutama di daerah terpencil yang memiliki keterbatasan akses internet dan literasi digital. Alfonsius Timboel, Chief Operating Officer Halodoc, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk mengatasi kendala ini. Edukasi mengenai penggunaan teknologi kesehatan perlu terus digalakkan agar manfaat telehealth dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Genomik: Masa Depan Kesehatan Preventif
Selain telehealth, genomik menjadi inovasi penting yang mengubah cara kita memahami dan mencegah penyakit, dan juga ini menjadi inovasi masa depan kesehatan digital yang sejalan dengan Telehealth. Teknologi ini memungkinkan analisis DNA individu untuk mendeteksi risiko kesehatan tertentu, seperti kanker atau penyakit kardiovaskular, bahkan sebelum gejala muncul. Pendekatan ini tidak hanya bersifat preventif tetapi juga personal, karena solusi kesehatan yang ditawarkan disesuaikan dengan profil genetik masing-masing individu.
Levana Sani, CEO Nalagenetics, menjelaskan bahwa sekitar 40% penyakit dipengaruhi oleh faktor genetik. Dengan memanfaatkan teknologi genomik, langkah-langkah pencegahan dapat diambil lebih dini dan lebih tepat sasaran. Misalnya, Nalagenetics telah mengembangkan solusi DNA untuk membantu mencegah penyakit-penyakit serius seperti kanker dan gangguan neurodegeneratif. Pendekatan ini tidak hanya membantu individu tetapi juga mendukung komunitas dengan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan berbasis data.
Selain itu, dr. Natalia Zwensi A., M.Sc, praktisi kedokteran genomik, menambahkan bahwa tes DNA bukanlah alat diagnosis, melainkan alat prediksi risiko. Dengan hasil tes ini, individu dapat mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat dan mengambil langkah preventif sebelum penyakit berkembang. Ini mencerminkan potensi besar teknologi genomik dalam mendukung kesehatan preventif generasi mendatang.
Kolaborasi untuk Masa Depan Kesehatan Digital
Untuk memastikan manfaat teknologi kesehatan digital dapat dirasakan oleh semua, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci. Program seperti Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang diluncurkan Kementerian Kesehatan RI merupakan salah satu contoh upaya pemerintah dalam meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan. Program ini menargetkan hingga 200 juta warga dalam lima tahun ke depan, dengan fokus pada deteksi dini penyakit tidak menular.
Di sisi lain, sektor swasta seperti Halodoc terus berinovasi dengan menyediakan layanan homecare, seperti tes darah, vaksinasi, dan kunjungan dokter ke rumah. Upaya ini tidak hanya meningkatkan akses tetapi juga memberikan kenyamanan bagi pengguna. Selain itu, isu keamanan data juga menjadi perhatian utama. Untuk itu, Nalagenetics telah mengadopsi standar keamanan data ISO 27001 guna melindungi privasi pasien.
Dengan berbagai inovasi dan kolaborasi yang ada, masa depan kesehatan digital di Indonesia tampak sangat menjanjikan. Generasi muda, dengan kesadaran dan adopsi teknologi yang tinggi, menjadi motor penggerak perubahan ini. Melalui pendekatan preventif dan berbasis data, kita dapat menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih inklusif dan efisien, menjadikan kesehatan sebagai investasi jangka panjang bagi seluruh masyarakat.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
