Nvidia Akuisisi Hugging Face Senilai Rp 216 Triliun, Tetap Open Source?

By
Yus Lianson - Editor | Content Creator
5 Min Read
Nvidia sepakat mengakuisisi Hugging Face dalam transaksi senilai Rp 216 triliun. (Doc: Nvidia)

Nvidia akuisisi Hugging Face senilai USD 12,93 miliar atau hampir Rp 216 triliun, di mana kesepakatan ini mencakup pembayaran ke investor dan program retensi karyawan.

Kabarnya, kesepakatan yang diumumkan pada Kamis, 3 September 2026, tersebut akan rampung pada pertengahan 2027, menyusul persetujuan regulator di Amerika Serikat.

Pengumuman akuisisi Hugging Face ini disampaikan langsung CEO Nvidia Jensen Huang, dan menyebut ini merupakan upaya Nvidia memperluas pengaruh dari sektor hardware AI ke lapisan software dan distribusi model open-source, area yang selama ini didominasi pemain lain.

Baca Juga: Bisnis AI Data Center Melesat, Nvidia Raih Cuan Rp1.709 triliun

Berapa Rincian Nilai Transaksi Nvidia Akuisisi Hugging Face?

Dari total USD 12,93 miliar, dana tersebut terbagi ke dalam dua pos utama:

  1. USD 11,9 miliar dibayarkan sebagai harga pembelian untuk pemegang saham Hugging Face.
  2. Hingga USD 1 miliar dialokasikan sebagai program retensi berbasis saham bagi karyawan Hugging Face yang bergabung dengan Nvidia.
  3. Proses akuisisi diperkirakan rampung pada paruh pertama 2027, setelah melewati tahap persetujuan regulator.

Ini bukan tawaran pertama Nvidia untuk Hugging Face. Perusahaan sempat menawarkan kesepakatan senilai USD 500 juta pada akhir 2025, namun ditolak.

Produsen chip ini juga sudah lebih dulu masuk sebagai investor Hugging Face lewat putaran pendanaan pada 2023, bersama Salesforce Ventures, Google, Amazon, dan IBM.

Kenapa Nvidia Akuisisi Hugging Face?

Banyak pihak mempertanyakan alasan kenapa Nvidia akuisisi Hugging Face, sebuah platform open source di mana developer dapat menemukan, membagikan, menguji hingga menggunakan model, dataset dan aplikasi machine learning.

Skala penggunanya terbilang sangat besar. Nvidia menyebut ada lebih dari 18 juta developer, peneliti dan kreator menggunakan Hugging Face. 

Platform tersebut menampung lebih dari 3 juta model, 500.000 dataset dan 1 juta aplikasi. Lebih dari 200.000 perusahaan juga disebut menggunakan platformnya.

Lewat akuisisi ini, Nvidia ingin memperkuat posisi tidak hanya sebagai penyedia GPU untuk training dan inference AI, tetapi juga mendapatkan pijakan lebih besar pada lapisan software dan distribusi model AI.

Nvidia sendiri bukan pemain baru di Hugging Face. Perusahaan mengatakan telah merilis lebih dari 500 model dan 250 dataset terbuka melalui platform tersebut.

Apakah Hugging Face Akan Tetap Open Source?

Founder & CEO NVIDIA, Jensen Huang.

Ini kemungkinan menjadi pertanyaan terbesar banyak pihak setelah kabar Nvidia akuisisi Hugging Face diumumkan.

Jensen Huang menegaskan, Hugging Face akan tetap menjadi platform terbuka bagi seluruh ekosistem AI. Developer tetap dapat memilih model, framework, cloud, inference provider dan computing platform yang ingin digunakan.

Artinya, menggunakan Hugging Face tidak akan mewajibkan developer memakai GPU atau infrastruktur Nvidia. Komitmen tersebut juga dicantumkan dalam filing Nvidia ke SEC.

Hugging Face direncanakan tetap mendukung model dari berbagai pembuat serta hardware dari vendor lain.

Ini penting karena ekosistem Hugging Face tidak hanya melibatkan Nvidia. Platform tersebut juga digunakan oleh perusahaan seperti Meta, Google, Microsoft, Amazon, Intel hingga AMD.

Nvidia Semakin Besar di Ekosistem AI

Nvidia akuisisi Hugging Face menunjukkan strategi produsen chipset itu untuk mulai bergerak lebih jauh dari bisnis chip. Selama ledakan generative AI, GPU Nvidia menjadi salah satu komponen utama yang digunakan perusahaan teknologi untuk melatih dan menjalankan model AI.

Dengan Hugging Face, perusahaan berpotensi memperluas posisinya ke tempat developer menemukan, mengembangkan hingga mendistribusikan model.

Namun, skala transaksi juga membuat proses akuisisi masih harus melewati pengawasan regulator. Nvidia sendiri mengakui adanya risiko regulasi, termasuk kemungkinan aturan baru terhadap distribusi dan penggunaan model AI open-source.

NVIDIA Investasikan Rp 57 Triliun ke MediaTek

Investasi strategis yang dilakukan untuk perluas pengembangan chip AI

Nvidia mengumumkan investasi sekitar Rp57 triliun ke MediaTek, sekaligus memperluas kerja sama kedua perusahaan di sektor chip dan infrastruktur AI. Investasi tersebut dilakukan melalui pembelian obligasi konversi yang diterbitkan MediaTek. Jika nantinya dikonversi menjadi saham, NVIDIA berpotensi memiliki kepemilikan ekuitas yang cukup signifikan di perusahaan asal Taiwan tersebut.

Kerja sama NVIDIA dan MediaTek sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Keduanya sudah terlibat dalam pengembangan GB10, SoC yang digunakan pada produk NVIDIA RTX Spark serta workstation mini DGX Spark. Namun, kolaborasi terbaru ini membawa hubungan keduanya ke tingkat yang lebih luas melalui ekosistem NVLink Fusion.

Melalui pendekatan tersebut, MediaTek nantinya dapat menawarkan teknologi NVLink Fusion kepada para pelanggannya, termasuk perusahaan yang mengembangkan ASIC dan XPU untuk kebutuhan AI. Langkah ini memungkinkan akselerator non-NVIDIA terhubung ke infrastruktur NVLink, yang selama ini menjadi salah satu teknologi penting dalam pengembangan sistem AI skala besar.

Author

Yus Lianson

Editor and content creator at Gizmologi. Tech and gaming enthusiast with over 10 years of experience as a journalist.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version