Industri gaming dan esports Indonesia diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Laporan PwC memperkirakan pendapatan sektor gaming dan esports Indonesia mencapai US$2,4 miliar pada 2029, setara sekitar Rp42,24 triliun jika dikonversikan dengan kurs Rp17.600 per US$1.
Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa gaming semakin jauh dari sekadar aktivitas hiburan. Di Indonesia, pertumbuhan jumlah pemain, penggunaan perangkat mobile, perkembangan infrastruktur digital, hingga munculnya ekosistem esports ikut membentuk pasar yang semakin besar.
Berdasarkan Global Entertainment & Media Outlook 2025–2029, PwC mencatat pendapatan gaming dan esports Indonesia mencapai US$1,6 miliar pada 2024. Angka tersebut tumbuh 9,7% dibandingkan tahun sebelumnya setelah sektor ini sempat mengalami kontraksi 3,1% pada 2023.
Pasar gaming Indonesia tumbuh dengan basis pemain lebih dari 154 juta
Proyeksi PwC memperlihatkan pertumbuhan yang tidak sekadar berasal dari tren sesaat. Setelah pemulihan pada 2024, pertumbuhan sektor gaming dan esports diperkirakan mencapai 12,5% pada 2025, sebelum berada di kisaran 5,5%–9,2% hingga 2029. Dengan proyeksi US$2,4 miliar pada 2029, nilainya sekitar Rp42,24 triliun menggunakan kurs Rp17.600 per US$1. Angka rupiah tersebut merupakan hasil konversi, bukan nilai resmi dalam laporan PwC.
PwC menyebut pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya keterlibatan konsumen, perilaku pengguna yang mengutamakan perangkat mobile, serta peningkatan infrastruktur digital.
Karakter mobile-first ini relevan dengan kondisi pasar Indonesia. Gaming tidak lagi membutuhkan perangkat khusus untuk menjangkau sebagian besar pemain. Smartphone menjadi perangkat utama yang membuka akses ke berbagai jenis game, termasuk judul-judul yang kemudian berkembang menjadi bagian dari ekosistem esports.
Besarnya peluang industri juga terlihat dari jumlah pemain. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut Indonesia memiliki lebih dari 154 juta pemain gim, menjadikannya salah satu pasar game terbesar di dunia dan peringkat keempat secara global berdasarkan jumlah pemain. Komdigi juga mencatat terdapat lebih dari 2.000 pengembang dan penerbit game aktif di berbagai daerah. Sektor ini disebut berkontribusi sekitar Rp71 triliun per tahun terhadap perekonomian nasional.
Angka tersebut memperlihatkan adanya dua sisi berbeda dalam industri gaming Indonesia. Di satu sisi, Indonesia merupakan pasar konsumen yang besar. Di sisi lain, mulai terbentuk basis produksi melalui developer dan publisher lokal. Tantangannya kemudian bukan hanya bagaimana membuat semakin banyak orang bermain game, tetapi bagaimana sebagian nilai ekonomi dari pasar tersebut bisa ditangkap oleh pelaku industri dalam negeri.
Program seperti Indonesia Game Developer eXchange (IGDX), misalnya, diarahkan untuk mempertemukan pengembang lokal dengan publisher, investor, dan mitra industri global. Komdigi mencatat program tersebut telah memfasilitasi lebih dari 3.500 pertemuan bisnis antara pengembang lokal dan mitra global sepanjang 2021–2024.
Pertumbuhan pasar belum otomatis berarti industri lokal sudah kuat
Angka US$2,4 miliar tentu menarik, tetapi perlu dibaca dengan konteks. Proyeksi tersebut menggambarkan pendapatan sektor gaming dan esports, bukan berarti seluruh nilai tersebut menjadi pendapatan developer atau perusahaan Indonesia.
Indonesia memiliki basis pemain yang besar, tetapi pasar pengguna yang besar tidak otomatis berarti industri lokal menguasai rantai nilai. Game yang dimainkan masyarakat Indonesia bisa saja dikembangkan dan dimiliki perusahaan dari luar negeri.
Karena itu, perkembangan jumlah developer lokal menjadi indikator yang tidak kalah penting. Lebih dari 2.000 developer dan publisher aktif yang dicatat Komdigi menunjukkan adanya basis industri domestik, tetapi tantangan berikutnya adalah membuat lebih banyak produk lokal mampu menghasilkan pendapatan, membangun IP sendiri, dan menembus pasar internasional.
Ini juga menjelaskan mengapa perkembangan esports tidak cukup dilihat dari jumlah turnamen atau pemain profesional. Semakin besar ekosistemnya, semakin banyak peluang ekonomi yang muncul di sekeliling game, mulai dari penyelenggaraan kompetisi, konten, streaming, sponsorship, hingga profesi pendukung.
Dengan proyeksi PwC sebesar US$2,4 miliar pada 2029, atau sekitar Rp42,24 triliun berdasarkan kurs Rp17.600, gaming dan esports berpotensi menjadi bagian yang semakin penting dalam ekonomi digital Indonesia.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah gaming merupakan industri. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar Indonesia bisa menangkap nilai dari industri tersebut, bukan hanya sebagai pasar pemain, tetapi juga sebagai tempat lahirnya developer, game, IP, talenta, dan bisnis esports.
ASPIMTEL Gelar Turnamen Mobile Legends dalam rangka Hari Bhakti Postel
Pertumbuhan gaming juga berkaitan dengan berkembangnya esports. Kompetisi game menciptakan ekosistem yang lebih luas dibanding aktivitas bermain game secara individual. Dalam turnamen profesional, misalnya, dibutuhkan bukan hanya pemain, tetapi juga organisasi esports, manajemen tim, penyelenggara kompetisi, wasit, caster, hingga berbagai pekerjaan pendukung lainnya.
Hal tersebut pula yang menjadi salah satu alasan Asosiasi Industri Perangkat Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ASPIMTEL) memasukkan kompetisi Mobile Legends dalam rangkaian kegiatan mereka pada 2026. Turnamen yang digelar di Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta, pada 4 September 2026 tersebut diikuti 24 tim dari perusahaan dan institusi di ekosistem ICT, termasuk peserta dari Komdigi.
Tim esports perwakilan PT Telkom Infra Indonesia berhasil menyabet gelar juara Turnamen Esports Mobile Legends pertama dalam rangkaian Hari Bhakti Postel ke-81. Tim yang digawangi Abi dan kawan-kawan meraih kemenangan langsung 2-0 dalam partai final sengit melawat tim esports PT Amron Citinet (ACT). Sedangkan Juara MVP disabet oleh Rivaldi, yang juga dari tim esports PT Telkom Infra Indonesia.
Keterlibatan pelaku industri teknologi dalam kompetisi seperti ini menarik karena menunjukkan bahwa gaming dan esports mulai bersinggungan dengan ekosistem teknologi yang lebih luas. Acara tersebut memang digelar sebagai bagian dari rangkaian Hari Bhakti Postel ke-81, tetapi relevansinya bagi industri berada pada bagaimana esports mulai menjadi aktivitas yang melibatkan lebih banyak institusi di luar komunitas game itu sendiri.
Sekretaris Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi, Aryo Pamoragung, mengatakan industri game memiliki nilai ekonomi yang besar. “Jadi sepanjang digelarnya peringatan Hari Bhakti Postel, ini baru pertama kalinya esports masuk ke dalam rangkaian peringatan,” ujar Aryo dalam acara tersebut.
Ia juga menilai game tidak lagi sekadar bentuk hiburan, melainkan bagian dari industri yang memiliki nilai bagi ekonomi digital.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

