Jakarta, Gizmologi – Industri cryptocurrency yang berbasis teknologi blockchain terus berkembang dengan pesat, salah satunya Web3.0. Jejaring internet generasi ketiga itu diyakini dapat menggerakkan sistem desentralisasi digital tak dimonopoli pelaku industri besar di dunia maya.
Dalam gelaran Finfolk Conference 2022, bertemakan Building The Bridge Between Web2 & Web3, Chief Marketing Officer PINTU, Timothius Martin mengungkapkan era Web3 masih baru dan belum terjamah sepenuhnya. Meski begitu, Web3.0 memiliki potensi besar untuk merevolusi berbagai hal, tak terkecuali industri digital.
“Dunia Web3 masih sangat baru, untuk itu fokusnya harus kepada edukasi dan bagaimana Web3 mudah diakses. Pengalaman saya mengakses Web3 saat ini masih cukup rumit dengan banyaknya step-step yang perlu dilewati, jadi terlalu complicated untuk pengguna baru,” papar Timo dalam keterangannya, Jumat (18/11/2022).
Lebih lanjut, Timo menyebut contoh industri yang berhasil memanfaatkan Web3.0 dengan sangat baik adalah dunia gaming. Hal ini terlihat seiring Jumlah gamers di Indonesia sangat banyak mencapai ratusan juta orang, di mana pengaplikasian Web3 tidak hanya memberikan gamer kesempatan untuk bermain tapi juga memiliki penghasilan.
Industri game di Indonesia tumbuh sangat pesat, berdasarkan data dari Statista, jumlah users di industri video games di Indonesia diproyeksikan bisa mencapai 126,4 juta pada tahun 2027. Adapun masih menurut Statista, revenue yang bisa dihasilkan dari industri game dapat mencapai US$1,069 juta di tahun 2022.
Baca Juga: PINTU Beri Edukasi Mahasiswa Agar Menjadi Smart Investor Aset Kripto
Web3.0 Diyakini Bisa Merevolusi Industri Digital
“Kehadiran Web 3.0 dapat merevolusi ekonomi digital di masa depan. Contohnya, di industri gaming, gamers tidak hanya menghabiskan uang tapi bisa menghasilkan juga dalam bentuk crypto ataupun NFT yang memiliki nilai,” ujarnya.
Di industri seni pun sama, mereka tidak hanya menunjukkan karyanya, tetapi bisa bisa dengan mudah menjual hasil karyanya. Jadi Web3 banyak sekali membuka kesempatan untuk para creator dapat menjadi besar dan meraih sumber pendapatan baru.
Konferensi yang dihadiri lebih dari 2.000 peserta dan diisi lebih dari 30 pakar yang berasal dari Top Disrupting Industry in Indonesia. Acara ini bertujuan untuk membantu para investor, wirausahawan baru, dan anak muda Indonesia dalam menghadapi isu resesi yang diprediksi akan segera terjadi pada 2023.
Diharapkan melalui konferensi ini para peserta bisa memahami lebih banyak tentang investasi secara khusus New Economy. Termasuk bagaimana para investor tetap bisa ride the right cycle, collect a sustainable portfolio multibagger, dan menghadapi ‘musim dingin’ dengan perlengkapan yang tepat.
“Kami mengapresiasi inisiatif kegiatan Finfolk Conference 2022. Seiring meningkatnya penetrasi aset crypto, blockchain, hingga Web3 harus diimbangi dengan edukasi yang baik agar pertumbuhan ini dapat berjalan dengan positif dan memberikan dampak besar bagi perekonomian Indonesia,” tutup Timo.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

