Jakarta, Gizmologi – Samsung mengungkapkan bahwa program Samsung Solve for Tomorrow 2026 telah melibatkan sekitar 2.600 peserta yang mengikuti workshop Design Thinking. Program ini menjadi bagian dari upaya Samsung untuk mendorong generasi muda mengembangkan solusi inovatif yang berangkat dari permasalahan nyata di masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin cepat, kemampuan teknis saja dinilai tidak lagi cukup. Peserta juga dituntut memahami kebutuhan pengguna dan konteks sosial sebelum merancang sebuah solusi. Pendekatan tersebut menjadi salah satu fokus utama dalam pelatihan yang diberikan pada program Samsung Solve for Tomorrow 2026.
Menariknya, isu keberlanjutan masih menjadi perhatian utama peserta. Samsung lewat Samsung Solve for Tomorrow 2026 mencatat sekitar 47,83% peserta memilih tema Sustainability & Environment untuk concept paper yang mereka ajukan. Angka tersebut menunjukkan bahwa isu lingkungan masih menjadi salah satu tantangan yang dianggap relevan oleh generasi muda saat ini.
Baca Juga: Samsung Galaxy M47 Resmi Meluncur tapi Bukan Untuk Indonesia? Bawa Baterai 6.000mAh
Design Thinking Jadi Fondasi Sebelum Membuat Solusi
Dalam workshop yang digelar, peserta tidak langsung diminta membuat produk atau solusi. Mereka terlebih dahulu diajak memahami permasalahan, mengidentifikasi kebutuhan pengguna, hingga menyusun problem statement sebelum masuk ke tahap pengembangan ide.
Menurut Kusuma Sukma yang menjadi trainer dalam program tersebut, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah terlalu cepat fokus pada ide tanpa memahami akar masalah yang ingin diselesaikan. Pendekatan Design Thinking dinilai membantu peserta melihat persoalan dari sudut pandang pengguna sehingga solusi yang dihasilkan bisa lebih relevan dan berdampak.
AI Dinilai Penting, Tetapi Empati Tetap Dibutuhkan
Samsung juga menyoroti bagaimana AI dapat menjadi alat pendukung dalam proses inovasi. Teknologi tersebut dapat membantu mempercepat analisis maupun pengembangan ide, namun tetap membutuhkan campur tangan manusia untuk memahami konteks dan kebutuhan pengguna.
Di sisi lain, pendekatan ini juga menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang paling canggih. Beberapa alumni SFT menilai proses memahami orang yang terdampak oleh suatu masalah justru menjadi langkah penting sebelum menentukan solusi yang tepat. Setelah tahap workshop selesai, 40 tim terbaik akan melaju ke babak semifinal untuk mengikuti pelatihan AI Amplification dan sesi mentoring lanjutan.
Melihat pendekatan yang digunakan, Samsung Solve for Tomorrow 2026 tampaknya tidak hanya berfokus pada pemanfaatan AI, tetapi juga berupaya menyeimbangkannya dengan kemampuan berpikir kritis, empati, dan pemecahan masalah. Tantangannya tentu akan terlihat pada tahap berikutnya, ketika ide-ide tersebut harus dibuktikan mampu memberikan dampak nyata di dunia nyata.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

