Film Surat untuk Masa Mudaku, Terinspirasi dari Kisah Nyata

3 Min Read

Jakarta, Gizmologi – Netflix kembali menghadirkan film orisinal berjudul Surat untuk Masa Mudaku. Film ini menandai pertama kalinya Netflix bekerja sama dengan sutradara Sim F. dan rumah produksi Buddy Buddy Pictures —yang pernah menggarap film Susi Susanti – Love All (2019).

Surat untuk Masa Mudaku merupakan film yang terinspirasi dari kisah nyata di panti asuhan. Paling menarik dari film ini para pemeran melakukan riset langsung ke panti asuhan untuk mengetahui seperti apa perjuangannya, rasanya dan harapan dari anak-anak di sana.

“Ceritanya terinspirasi dari kehidupan nyata di panti asuhan, seperti apa perjuangan anak-anak di sana, rasa sedih mereka ditinggal, sekaligus bagaimana mereka memiliki harapan,” ujar Sim saat di Konferensi Pers Surat untuk Masa Mudaku, di Senayan City XXI, Rabu (28/1).

Walau terinspirasi dari kisah nyata, Sim menekankan film ini bukanlah sebuah biopik. Film ini dibintangi oleh Theo Camillo Taslim, Fendy Chow, Agus Wibowo, Aqila Herby, Cleo Hanura Nazhifa dan Halim Latuconsina.

Baca Juga: Sinopsis Film Send Help, Ketika Bos dan Karyawan Terdampar

Sinopsis Film Surat untuk Masa Mudaku

(Foto: Netflix)

Surat untuk Masa Mudaku berfokus kepada pengalaman Kefas di masa muda yang mengalami pengalaman pahit ditinggalkan sang adik karena sakit parah. Kejadian tersebut membuat Kefas menyalahkan sang penjaga panti —yang sudah kabur membawa sembako.

Hingga datanglah pengganti penjaga panti tersebut yaitu Simon. Pria tersebut sudah tinggal seorang diri dan juga memiliki kisah hidup yang pahit.

Kefas merasa penjaga panti asuhannya tidak ada yang bisa dipercaya. Apakah hubungan Kefas dan anak-anak panti dengan Simon bisa membaik?

Fendy Chow Berusaha Menyamakan Millo Dalam Memerankan Kefas

Theo Camillo Taslim atau Millo menceritakan soal karakter Kefas yang sangat keras kepala dan gengsi terhadap apa pun. Ia mempersiapkan karakter ini dengan banyak bertanya dan berdiskusi dengan sutradara.

“Kefas adalah karakter yang sangat keras kepala dan gengsi terhadap apa pun, karena ia memendam banyak sekali perasaan kecewa dan sedih di masa lalu. Saya mempersiapkan peran ini dengan memahami latar belakang karakter serta banyak bertanya dan berdiskusi dengan sutradara. Kami juga diajak ke sebuah panti asuhan untuk mengobservasi kehidupan di sana,” cerita Millo.

Fendy yang berperan sebagai Kefas dewasa mengatakan cerita dari Surat untuk Masa Mudaku menarik dan berbeda dari kisah di film lain. Kefas dewasa juga masih membawa trauma dari masa kecilnya.

“Dari kecil menjadi dewasa banyak hal yang terjadi tapi ada beberapa hal yang tersimpan jauh di bawah sadar kita. Kefas dewasa menyadari setelah dia berkeluarga ternyata masih ada trauma, dan dia mencoba membukanya kembali demi masa depannya,” jelas Fendy.

Fendy juga menambahkan bahwa saat syuting ia mencari sejumlah ciri karakter dari Kefas remaja yang terus terbawa hingga dewasa, seperti logat dan gestur.

“Kami sesuaikan supaya perbedaan sosok antara Kefas remaja dan dewasa tidak terlalu jauh. Trickytapi menyenangkan,” ujarnya.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version