Survei Cloudera: Banyak Perusahaan Merasa Siap AI, Tapi Fondasi Datanya Masih Rapuh

3 Min Read

Jakarta, Gizmologi – Adopsi kecerdasan buatan atau AI terus meningkat di kalangan perusahaan global. Namun survei terbaru dari Cloudera menunjukkan realitas yang lebih rumit: banyak organisasi merasa sudah siap menjalankan AI dalam skala besar, padahal fondasi data mereka belum benar-benar matang.

Laporan Cloudera bertajuk The Data Readiness Index: Understanding the Foundations for Successful AI ini melibatkan hampir 1.300 pemimpin IT global. Hasilnya, 96% organisasi mengaku sudah mengintegrasikan AI ke proses bisnis inti, sementara 85% menyatakan memiliki strategi data yang jelas.

Meski begitu, sekitar 80% responden juga mengakui inisiatif AI mereka masih terhambat keterbatasan akses data di berbagai sistem. Di Indonesia, kontrasnya bahkan lebih tajam: seluruh responden mengaku sangat yakin terhadap data perusahaan, tetapi hanya 26% yang menyebut data mereka sepenuhnya terkelola.

Baca Juga: Apple Resmikan Developer Institute di Indonesia, Fokus AI hingga Startup Digital

Cloudera Tekankan Percaya Diri Tinggi, ROI AI Belum Tentu Datang

Cloudera menyebut fenomena ini sebagai AI readiness illusion, yakni rasa percaya diri bahwa perusahaan sudah siap menskalakan AI, padahal persoalan mendasar belum selesai. Ini bukan masalah kecil, karena AI sangat bergantung pada kualitas dan akses data.

Survei tersebut juga menyoroti bahwa return of investment (ROI) AI masih sulit dicapai. Tiga hambatan terbesar yang disebut responden adalah kualitas data buruk (22%), biaya membengkak (16%), dan integrasi lemah ke alur kerja (15%).

Artinya, banyak perusahaan sudah membeli tool AI atau membangun proyek pilot, tetapi belum tentu berhasil mengubahnya menjadi dampak bisnis nyata. Dalam praktiknya, implementasi AI sering terhambat data tersebar di banyak sistem, tidak konsisten, atau sulit diakses lintas tim.

Di sisi lain, optimisme tinggi juga bisa dipahami. Tekanan kompetitif membuat banyak perusahaan tidak ingin terlihat tertinggal dalam tren AI. Masalahnya, adopsi cepat tanpa fondasi rapi justru berisiko menghasilkan proyek mahal dengan hasil minim.

Indonesia Punya Momentum, Tapi Silo Data Jadi Tantangan

Khusus Indonesia, survey dari Cloudera menunjukkan 48% pemimpin IT menilai visibilitas data sebagai hambatan utama. Selain itu, 52% menyebut resistensi budaya untuk berbagi data masih menjadi masalah besar.

Ini menunjukkan tantangan AI bukan hanya teknologi, tetapi juga organisasi. Banyak perusahaan punya data, namun tersimpan dalam silo antar divisi sehingga sulit dimanfaatkan secara maksimal untuk analitik maupun model AI.

Meski demikian, ada sinyal positif. Seluruh responden Indonesia disebut terbuka terhadap kerangka tata kelola baru untuk meningkatkan kesiapan data. Ini penting karena tanpa governance yang jelas, AI berisiko menghasilkan output tidak akurat atau bias.

Pada akhirnya, laporan ini mengingatkan satu hal sederhana: AI bukan sekadar soal model canggih. Tanpa data yang bersih, terhubung, dan terkelola, ambisi besar perusahaan bisa berhenti di tahap demo semata.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version