Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Ilmuwan Kembangkan Teknologi AI Pendeteksi Emosi Manusia

0 115

Para ilmuwan telah mengembangkan teknologi Artificial Intelligence (AI) menggunakan sinyal nirkabel untuk mengetahui perubahan detak jantung dan mengetahui perasaan seseorang. Dikutip dari Daily Mail, penelitian terbaru yang dilakukan di Queen Mary University of London dan dipimpin oleh Yang Hao, menggunakan AI yang dapat memanggil jaringan saraf untuk memahami arti perubahan tersebut.

Menurut Defense One, ini bisa menjadi terobosan terbaru dalam penelitian  yang dapat membantu mengetahui situasi, seperti yang terlihat di militer. Dibuat oleh ilmuwan komputer, jaringan saraf tiruan memiliki berbagai node – setara dengan neuron biologis yang memproses dan meneruskan sinyal.

Baca juga: Berteknologi AIoT, Bosch Vivalytic Jadi Perangkat Tes PCR Tercepat di Dunia

Untuk penelitian terbaru, partisipan diperlihatkan berbagai video yang membangkitkan emosi berbeda, termasuk kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan.

Cara Kerja

Gelombang radio, seperti yang biasanya dipancarkan oleh radar serta Wi-Fi, dikirim ke arah peserta kemudian antena melakukan pengukuran perubahan sinyal saat dipantulkan kembali. Setelah terjadi perubahan gelombang, kemudian dianalisis berdasarkan gerakan halus yang diciptakan peserta saat mereka menonton klip pada video yang berbeda.

Ini memungkinkan jaringan saraf untuk mengidentifikasi pola dalam detak jantung dan pernapasan peserta sesuai dengan emosi yang ditimbulkan. Setelah semua data peserta dikumpulkan, itu disambungkan ke jaringan saraf untuk melihat tingkat keberhasilan mengidentifikasi video yang sedang ditonton berdasarkan perubahan halus.

Tim yang dipimpin oleh Yang Hao, dekan untuk penelitian di fakultas sains dan teknik, menggunakan antena pemancar kecil untuk memantulkan gelombang radio dari subjek. Mereka menggunakan sinyal untuk mengumpulkan database dari ritme jantung yang berbeda saat subjek tersebut menonton video bermuatan emosional yang menimbulkan relaksasi, ketakutan, jijik dan kegembiraan.

Tim juga menghubungkan subjek ke elektrokardiogram untuk memastikan bahwa sinyal yang diambil antena sudah benar.

Jaringan tersebut memiliki tingkat keberhasilan 71 persen dalam mengidentifikasi emosi peserta dengan benar.  Menurut Teknik & Teknologi , meskipun penelitian semacam itu biasanya digunakan dalam eksperimen psikologis dan ilmu saraf, hal itu juga dapat berdampak signifikan pada pengelolaan kesehatan dan kesejahteraan.

Lebih Baik dibanding Era 60-an

ilustrasi AI kecerdasan buatan  123rf everythingpossible
ilustrasi AI (Foto: 123rf/everythingpossible)

Inovasi ini lebih baik dibandingkan era 60-an ke atas yang  telah dicapai oleh eksperimen serupa. Menggunakan metode pembelajaran mesin, dan menghindari pekerjaan penting dalam menyiapkan kumpulan data dengan fitur-fitur kecil (ekstraksi fitur). Selain itu, jaringan saraf bekerja jauh lebih baik dengan adanya kumpulan data yang sangat bergantung pada waktu, seperti gelombang radio, dibandingkan dengan algoritma pembelajaran mesin, katanya.

Mempredeksi Emosi Orang dari Luar

Achintha Avin Ihalage, seorang mahasiswa PhD di Queen Mary, berkata: “Pembelajaran yang mendalam memungkinkan kita untuk menilai data dengan cara yang mirip dengan cara kerja otak manusia, melihat pada berbagai lapisan informasi dan membuat hubungan di antara mereka.

Achintha berujar, dengan pembelajaran mendalam, telah menunjukkan bahwa tim dapat mengukur emosi secara akurat dengan cara yang tidak bergantung pada subjek. “Di mana kami dapat melihat seluruh kumpulan sinyal dari individu yang berbeda dan belajar dari data ini serta menggunakannya untuk memprediksi emosi orang dari luar database pelatihan kami,” ungkap Achintha.

Diharapkan penelitian ini dapat membantu petugas-petugas medis mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai emosi pasien mereka yang mungkin masih ‘tersembunyi’.