Jakarta, Gizmologi – Platform infrastruktur digital terkemuka, Digital Edge, mengumumkan langkah ekspansi masif di pasar Indonesia dengan investasi senilai US$4,5 miliar atau setara Rp72 triliun. Dana jumbo ini dialokasikan untuk pembangunan CGK Campus, sebuah kawasan pusat data (data center) hyperscale yang berlokasi strategis di GIIC Industrial Estate, Bekasi.
Proyek ini dirancang untuk memiliki kapasitas daya awal sebesar 500MW, menjadikannya salah satu fasilitas infrastruktur digital terbesar di kawasan Asia Pasifik. CEO Digital Edge, Samuel Lee, menegaskan bahwa investasi ini merupakan respons langsung terhadap lonjakan kebutuhan infrastruktur yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, khususnya percepatan adopsi layanan cloud dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“CGK Campus adalah tonggak penting dalam strategi kami di Asia Pasifik dan menjadi investasi infrastruktur terbesar yang pernah kami lakukan. Langkah ini akan memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi lonjakan permintaan layanan digital, cloud, dan AI di tahun‑tahun mendatang,” ujar John Freeman, CEO Digital Edge.
CGK Campus tidak hanya menawarkan kapasitas besar, tetapi juga fleksibilitas ekspansi hingga mencapai total 1GW di masa depan. Pembangunan tahap awal dijadwalkan mulai pada kuartal pertama (Q1) 2026, diikuti gedung kedua Q1 2027, dan ketiga Q2 2027 . Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai hub digital regional yang kompetitif.
Baca juga: Google Mulai Menutup Celah YouTube Background Playback Tanpa Premium
Digital Edge CGK Campus Tampung Chip AI dengan Teknologi Liquid Cooling
Keunggulan utama CGK Campus terletak pada desainnya yang “AI-Ready”. Fasilitas ini dirancang khusus untuk menangani beban kerja komputasi densitas tinggi yang menjadi karakteristik utama pemrosesan AI generatif. Digital Edge menerapkan teknologi pendingin cair (liquid cooling) canggih yang memungkinkan dukungan terhadap chip AI generasi terbaru yang membutuhkan daya besar namun tetap menjaga efisiensi energi.
Dari sisi keberlanjutan, pusat data ini menargetkan angka Power Usage Effectiveness (PUE) di bawah 1,15, jauh lebih efisien dibandingkan rata-rata industri. Selain itu, fasilitas ini menggunakan sistem pendingin closed-loop yang membuat penggunaan air (Water Usage Effectiveness/WUE) mendekati nol, serta ditenagai oleh bauran energi terbarukan bersertifikat (REC). Hal ini memastikan bahwa lonjakan komputasi AI tidak mengorbankan komitmen terhadap pelestarian lingkungan.
Kampus ini akan ditopang oleh jaringan fiber dan infrastruktur Indonet, anak perusahaan Digital Edge di Indonesia. Andy Rigoli, CEO Indonet mengungkapkan, “Infrastruktur kami menjadi fondasi konektivitas CGK Campus.Seluruh rute baru ke GIIC dibangun sepenuhnya di
bawah tanah untuk meningkatkan keandalan dan ketahanan jaringan. Didukung perangkat berstandar tinggi dan pemantauan canggih, integrasi ini memastikan solusi carrier‑neutral yang siap memenuhi kebutuhan hyperscale dan enterprise.”
Selalu update dengan informasi gadget dan teknologi terkini, Follow media sosial Gizmologi di Instagram, TikTok, dan YouTube.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

