Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Huami Ungkap Big Data dari Perangkat Wearable Tunjukkan Tren Baru COVID-19

0 61

Pemanfaatan perangkat wearable untuk deteksi dini Covid-19 terus dilakukan. Sebelumnya, kami melaporkan Garmin yang bekerja sama dengan periset internasional. Kali ini dari sang kompetitor yaitu Huami yang dikenal lewat produk Amazfit. Produsen perangkat wearable ini baru saja menerbitkan makalah dari penelitian mengenai tren epidemi Covid-19.

Dalam makalah berjudul “Learning from Large-Scale Wearable Device Data for Predicting Epidemics Trend of COVID-19”, Huami menunjukkan fitur-fitur pengelolaan kesehatan pada wearable. Juga peran pentingnya dalam peringatan dini untuk wabah epidemi dan kesehatan masyarakat. Hal tersebut menjadi petunjuk baru untuk membangun sistem pengawasan pandemi berskala luas, serta meningkatkan efisiensi pemantauan dan prediksi kesehatan masyarakat.

Kajian ini didukung Huami di mana model prediksi dibuat dengan big data serta algoritma kecerdasan buatan menjadi metode baru dalam memperkirakan tren pandemi COVID-19. Meski demikian, tetap perlu dicatat bahwa perangkat “wearable” besutan Huami ini bukan perangkat medis, sehingga tidak bisa dipakai untuk diagnosis atau memantau kondisi medis tertentu.

Berdasarkan Kebijakan Privasi dan perlindungan data Huami, para peneliti mengumpulkan denyut jantung, aktivitas fisik, tidur, dan data-data fisiologis lain yang berhubungan dengan gejala COVID-19 lewat perangkat smart wearable. Mulai 1 Juli 2017 hingga 8 April 2020, data sensor tanpa identitas diri (de-identified) dari sekitar 1,3 juta pengguna perangkat Huami berhasil dikumpulkan menurut standar keamanan data yang memadai. Seluruh pengguna menerima informasi bahwa data tanpa identitas diri dari perangkatnya bisa dipakai untuk penelitian ilmiah.
Baca juga: Amazfit X, Gelang Pintar dengan Layar Lengkung Siap Dirilis 2020

Huami: COVID-19 Epidemic Trend Prediction Model

Menurut riset tersebut, saat suhu tubuh manusia naik sebesar 1°C, maka denyut jantung bertambah sekitar 8,5 bpm. Berdasarkan perhitungan ini, peningkatan denyut jantung akibat demam yang disebabkan COVID-19 atau penyakit seperti flu dapat menjadi titik awal untuk mendeteksi abnormalitas fisiologis.

Untuk menentukan abnormalitas, para peneliti Huami mempertimbangkan perbedaan yang biasa terjadi pada denyut jantung seseorang ketika beristirahat (resting heart rate), yakni 1,5 lebih tinggi ketimbang rata-rata denyut jantung selama lima hari berturut-turut, sementara, perbedaan yang biasa terjadi pada durasi tidur tercatat kurang dari 0,5 dari rata-rata durasi tidur seseorang.

Sejumlah temuan dari model prediksi ini mengungkapkan, wabah berlangsung dalam kurva prediksi untuk tingkat infeksi di Wuhan, Beijing, Shenzhen, Hefei, dan Nanjing, serta berhubungan dengan terjadinya epidemi di masing-masing kota tersebut.

Di Wuhan, misalnya, puncak penyebaran COVID-19 di kota ini terjadi pada 28 Januari, menurut model prediksi tersebut. Sedangkan puncak kasus terkonfirmasi di Wuhan hampir mencapai 2.000 orang pada 7 Februari. Puncak infeksi penyakit terjadi 10 hari lebih awal dari data resmi yang dilaporkan.

Akibat kesenjangan yang terjadi antara infeksi COVID-19 dengan kemunculan gejala dan diagnosis, temuan yang dihasilkan model prediksi Huami juga konsisten dengan temuan dari studi retrospektif tentang COVID-19 oleh Chinese Center for Disease Control.

Meningkatkan Penanganan COVID-19 dan Pengelolaan Kesehatan

Di samping penelitian ilmiah, Huami melanjutkan upaya untuk Mengaitkan Kesehatan dengan Teknologi. Huami telah menyumbangkan persediaan dan perangkat medis senilai RMB 11,5 juta selama wabah virus korona berlangsung.

Amazfit mulai mengembangkan masker pelindung wajah N95 transparan, disebut Amazfit AERI. Upaya ini menjadi kontribusi Huami bagi pengelolaan kesehatan global dan pencegahan epidemi. Amazfit AERI kelak memiliki alat pelindung antikabut dan rangka tembus pandang.

Hasilnya, wajah pengguna masker dapat terlihat jelas sehingga memudahkan pembatasan aktivitas sosial dan membantu pengguna untuk membuka ponselnya dengan Face ID. Amazfit AERI yang inovatif bisa dibersihkan secara otomatis, dan bertahan selama beberapa minggu.

Pada April, Amazfit X Smartwatch yang mutakhir serta dilengkapi layar lengkung AMOLED dan desain tanpa tombol, berhasil terjual lewat penggalangan dana dengan metode urun daya (crowdfunding). Produk ini juga menghadirkan pengalaman yang lebih baik bagi para pengguna.

Demi memberantas COVID-19, Huami bermitra dengan China National Clinical Research Center of Respiratory Disease (NCRCRD) dan Guangdong Nanshan Medical Innovation Institute yang dipimpin Dr. Nanshan Zhong. Kolaborasi ini terjalin untuk membangun laboratorium bersama untuk perangkat smart wearable. Berdasarkan teknologi smart wearable dan algoritma komputasi Huami yang piawai, laboratorium tersebut ikut meningkatkan perawatan lanjutan bagi pasien yang berhasil pulih dari COVID-19 lewat platform big data NCRCRD.