Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

WWF Indonesia Manfaatkan Machine Learning untuk Analisa Orangutan

0 2.917

Anak perusahaan Amazon.com, Amazon Web Services (AWS) baru saja mengumumkan terbangunnya kolaborasi dengan World Wildlife Fund for Nature Indonesia (WWF Indonesia). Kolaborasi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dalam lakukan pemantauan dan kajian terhadap besaran serta kondisi kesehatan populasi orangutan di seluruh Indonesia, memanfaatkan layanan machine learning dari AWS.

WWF Indonesia adalah organisasi nirlaba yang berada dalam jaringan WWF global. Dengan layanan yang diberikan dari AWS, mendukung mereka dalam memantau sampai evaluasi ukuran dan tingkat kesehatan populasi orangutan yang tinggal di habitat aslinya. Kegiatan survei yang dilakukan oleh WWF-Indonesia kini bisa menjangkau hingga ke teritori yang lebih luas, memanfaatkan sumber daya lebih sedikit, serta tentunya mengurangi biaya operasional.

Menurut data dari WWF Indonesia, populasi orangutan di Kalimantan saat ini telah berkurang hingga lebih dari 50% dalam kurun waktu 60 tahun terakhir. Habitat mereka juga mengalami penurunan jumlahnya hingga 55% dalam kurun waktu 20 tahun belakangan. Padalah orangutan adalah salah satu primata yang paling cerdas, memiliki kemampuan untuk menyusun sesuatu, menggunakan peralatan sampai tinggal dalam koloni masing-masing dengan ciri berbeda.

Baca juga: Hadir di Indonesia, AWS Outpost Padukan Keunggulan Cloud dan Data Center On-premise

Machine Learning AWS Percepat Proses Analisa Orangutan

Pengambilan foto orangutan oleh WWF.
Salah satu metode pengumpulan foto orangutan untuk kemudian diolah agar tingkatkan akurasi analisa data. (© WWF-Indonesia)

WWF Indonesia telah melakukan penilaian terhadap kesetahan populasi orangutan sejak tahun 2005, dan juga telah membangun 568 ribu hektar konservasi habitat di Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Sementara orangutan sebagian besar tinggal di pepohonan dan hidup secara soliter. Hal tersebut menjadi tantangan bagi pegiat konservasi untuk mencacah populasi orangutan yang masih tersisa secara akurat.

Sebelumnya, proses dilakukan secara langsung di lapangan oleh ahli dan komunitas relawan. Mereka melakukan pencarian jejak populasi, mengambil foto, mengunduh gambar-gambar ke komputer yang terdapat di basecamp sampai mengirimnya ke kota untuk proses analisis lebih lanjut. Semuanya dilewati secara manual dan membutuhkan waktu sampai tiga hari, untuk analisis ribuan foto yang terkirim, yang juga rentan terjadi kesalahan data salah proses olah.

Memanfaatkan teknologi machine learning dari AWS, WWF Indonesia dapat mengumpulkan foto secara otomatis dari tiap smartphone maupun kamera yang diaktifkan oleh gerakan, dan terpasang di tiap basecamp. Foto kemudian diunggah ke Amazon Simple Storage Service (Amazon S3), lalu dianalisa menggunakan Amazon SageMaker yang mendukung saintis data untuk melakukan pengembangan, pengujian dan proses lainnya secara cepat dan mudah dalam skala besar. Dari proses yang awalnya membutuhkan waktu hingga tiga hari, berkurang menjadi tak lebih dari 10 menit.

Alasan WWF Indonesia Gunakan Face Recognition Pada Orangutan

orangutan
(© naturepl.com / Edwin Giesbers / WWF)

Pihak WWF-Indonesia juga menyampaikan alasan mereka untuk menggunakan teknologi pengenalan wajah (face recognition) dalam hal pemantauan orangutan. Primata ini tak akan tahan jika diberikan sesuatu seperti chip yang dipasangkan ke tubuhnya. Sementara masalah lainnya adalah WWF membutuhkan ribuan gambar dari masing-masing orangutan, untuk meningkatkan akurasi data, belum lagi ketika mereka bersembunyi di balik pohon.

Tantangan tersebut yang memakan waktu, sehingga hadirnya proses machine learning dari AWS bisa mempersingkat hasil analisa ribuan foto yang didapatkan oleh WWF Indonesia. Aria Nagasastra, Finance and Technology Director WWF Indonesia mengatakan jika inovasi ini membantu ahli di bidang biologi dan konservasi dalam memantau perilaku satwa liar sepanjang waktu secara efektif, dan juga efisien dari segi biaya.

Peter Moore, Regional Managing Director for Asia Pacific and Japan, Worldwide Public Sector, Amazon Web Services juga menyampaikan jika mendukung pemberdayaan organisasi-organisasi nirlaba melalui pemanfaatan teknologi cloud merupakan salah satu prioritas dan misi AWS. “Ini sekaligus merupakan wujud komitmen kami dalam mendukung misi mereka menyelamatkan spesies-spesies yang terancam punah di seluruh dunia, melalui inovasi-inovasi yang mereka terapkan pada produk dan layanan yang dihadirkan oleh AWS,” tutup Peter.