Kedaulatan digital Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penguasaan data dan teknologi, tetapi juga kemampuan menjaga infrastruktur yang menjadi fondasi konektivitas nasional. Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) menilai ketahanan infrastruktur telekomunikasi perlu menjadi bagian dari upaya memperkuat kedaulatan digital Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Umum APJATEL Jerry Mangasas Swandy dalam rangkaian peringatan Hari Bhakti Postel ke-81 di Jakarta (30/8). Menurutnya, kolaborasi pemerintah dan industri diperlukan untuk memperkuat layanan telekomunikasi, termasuk dari sisi ketahanan dan kedaulatan.
“Ini juga menjadi enabler, kita bergerak bersama-sama dengan Komdigi dalam layanan sektor telekomunikasi, baik dalam hal ketahanan, kedaulatan dan transformasi digital,” ujar Jerry di kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta.
Ia juga menggambarkan pentingnya konektivitas yang mampu menghubungkan masyarakat dan wilayah Indonesia, mulai dari orang ke orang, pulau ke pulau, hingga sektor ke sektor. Pernyataan tersebut muncul ketika pemerintah juga tengah menghadapi tantangan menjaga keandalan infrastruktur konektivitas di wilayah kepulauan.
Gangguan Kabel Laut Menunjukkan Pentingnya Ketahanan Jaringan
Salah satu contohnya terjadi pada jaringan Palapa Ring Tengah di Sulawesi Utara. Pada 2026, Komdigi melakukan restorasi kabel laut pada segmen Melonguane–Morotai setelah mendeteksi kerusakan serat optik di kedalaman sekitar 3.400 meter.
Kerusakan tersebut terjadi setelah aktivitas tektonik, termasuk gempa bumi bermagnitudo 5,7 pada 26 Mei 2026. Karena jalur berada di laut dalam, proses perbaikan membutuhkan kapal khusus untuk penggelaran dan penyambungan kabel bawah laut.
Persoalannya bukan sekadar memperbaiki kabel yang rusak. Infrastruktur tersebut menopang konektivitas masyarakat di sejumlah wilayah kepulauan. Komdigi menyebut gangguan pada jalur tersebut berpotensi memengaruhi layanan telekomunikasi di Sangihe, Talaud, dan Sitaro.
Untuk menjaga layanan tetap berjalan selama proses restorasi, BAKTI Komdigi mengoptimalkan 286 titik akses internet yang sudah tersedia di wilayah terdampak. Kapasitas pada titik-titik tersebut ditingkatkan menggunakan SATRIA-1, dengan kapasitas yang disesuaikan antara 50 Mbps, 100 Mbps, hingga 150 Mbps. Langkah tersebut menunjukkan bahwa ketahanan jaringan tidak hanya bergantung pada pembangunan backbone, tetapi juga pada keberadaan mekanisme mitigasi ketika salah satu bagian infrastruktur mengalami gangguan.
Sebelumnya, pada Mei 2026, Komdigi juga menyiapkan mitigasi untuk menjaga konektivitas masyarakat di Sangihe dan Sitaro ketika dilakukan restorasi kabel laut Palapa Ring Tengah segmen Tahuna–Melonguane. Pemerintah menyebut konektivitas di wilayah perbatasan sebagai infrastruktur vital karena menopang pendidikan, kesehatan, pemerintahan digital, aktivitas ekonomi, hingga komunikasi kebencanaan.
Komdigi Kaitkan Kedaulatan Digital dengan Infrastruktur
Pandangan APJATEL tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan Komdigi. Dalam peringatan HUT ke-81 RI pada 17 Agustus 2026, Sekretaris Jenderal Komdigi Ismail menyatakan bahwa kedaulatan pada era digital tidak lagi hanya berkaitan dengan wilayah fisik. Menurutnya, kemampuan bangsa untuk menguasai infrastrukturnya, melindungi data, mengembangkan teknologi, menjaga ruang informasi, dan memastikan manfaat transformasi digital menjadi bagian dari kedaulatan.
Dengan demikian, isu infrastruktur berada pada lapisan yang cukup mendasar dalam agenda kedaulatan digital. Data center, jaringan fiber optik, kabel komunikasi bawah laut, jaringan seluler, satelit, hingga infrastruktur pendukung lainnya menjadi bagian dari fondasi agar layanan digital tetap dapat berjalan.
Untuk Indonesia sebagai negara kepulauan, tantangannya juga tidak sederhana. Konektivitas antarpulau sangat bergantung pada kombinasi infrastruktur darat, kabel bawah laut, jaringan radio, dan satelit.
Komdigi sebelumnya menyebut konektivitas bawah laut sebagai komponen penting untuk menghubungkan wilayah Indonesia secara domestik maupun dengan jaringan global. Pemerintah dan industri juga telah mendorong pengembangan ekosistem subsea connectivity, termasuk penguatan talenta yang dibutuhkan untuk membangun dan memelihara infrastruktur kabel laut.
Artinya, ketahanan infrastruktur bukan hanya persoalan memiliki jaringan yang panjang atau cakupan yang luas. Kemampuan mendeteksi gangguan, menyediakan jalur alternatif, memperbaiki infrastruktur, serta menjaga layanan tetap berjalan ketika terjadi gangguan juga menjadi bagian penting dari ketahanan konektivitas.
APJATEL Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Industri
APJATEL sendiri merupakan asosiasi yang beranggotakan perusahaan penyelenggara jaringan telekomunikasi berbasis satelit, radio, maupun jaringan kabel. Di situs resminya, APJATEL menyebut saat ini memiliki 168 anggota.
Asosiasi tersebut sebelumnya juga mendorong pembentukan Operating Vehicle Company (OVC) untuk mengelola infrastruktur telekomunikasi pasif secara bersama. Gagasan itu ditujukan untuk meningkatkan efisiensi penggelaran fiber optik serta mempercepat pembangunan infrastruktur.
Dorongan kolaborasi menjadi relevan karena pembangunan jaringan nasional menghadapi tantangan investasi dan geografis. APJATEL pada April 2026 juga menilai biaya pembangunan infrastruktur fiber optik masih tinggi, sementara pada Juni asosiasi menyoroti tekanan suku bunga dan nilai tukar terhadap biaya pendanaan serta pengadaan perangkat jaringan.
Dalam konteks tersebut, penguatan ketahanan jaringan membutuhkan lebih dari sekadar ekspansi coverage. Infrastruktur harus dibangun dengan mempertimbangkan efisiensi, keberlanjutan investasi, redundansi, serta kemampuan pemulihan ketika terjadi gangguan.
Fun Walk Jadi Bagian Rangkaian Hari Bhakti Postel ke-81
Pernyataan APJATEL mengenai ketahanan dan kedaulatan infrastruktur tersebut disampaikan dalam kegiatan Fun Walk Hari Bhakti Postel ke-81 yang digelar di Jakarta pada Minggu (30/8). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 250 peserta yang berasal dari pemerintah, asosiasi industri, perusahaan telekomunikasi, serta pemangku kepentingan ekosistem digital. Peserta menempuh rute sekitar 5 kilometer dari Lapangan Anantakupa Kantor Komdigi melalui Jalan Medan Merdeka Barat dan Jalan MH Thamrin sebelum kembali ke kantor Komdigi.
Staf Ahli Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Komdigi Raden Wijaya Kusumawardhana mengatakan penguatan kolaborasi antar-entitas dalam ekosistem digital diharapkan dapat mendukung peningkatan jangkauan dan kualitas layanan telekomunikasi serta digital.
Fun Walk tersebut merupakan kegiatan kedua dalam rangkaian Hari Bhakti Postel ke-81 setelah event DTI-CX. Panitia masih menjadwalkan sejumlah kegiatan lain, termasuk e-sport, donor darah, mini soccer, serta upacara puncak Hari Bhakti Postel di Bandung.
Hari Bhakti Postel diperingati setiap 27 September untuk mengenang perjuangan insan Pos, Telekomunikasi, dan Informatika dalam mempertahankan kedaulatan komunikasi Indonesia. Tahun ini, peringatannya mengusung tema “Konektivitas Digital untuk Indonesia Berdaulat.”
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

