Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Inilah yang Terjadi Jika Semua Social Media Diblokir di Indonesia

Jika memang kebijakan tersebut diterapkan, kira-kira apa sih yang bakal terjadi?

1 2.135

Social media mungkin saat ini jadi peringkat teratas dalam penggunaan internet bersaing dengan platform messenger dan email. Terutama di Indonesia, di mana tercatat sebagai salah satu negara teraktif dalam penggunaan social media seperti Facebook dan Twitter.

Sayangnya, aktifnya penggunaan social media di Indonesia tidak melulu sekedar ajang pamer, narsis, dan curhat saja, tetapi juga diwarnai maraknya penyebaran berita bohong (hoax) dan paham radikal. Itulah sebabnya pemerintah melalui Depkominfo mengambil kebijakan akan memblokir hampir semua social media, di mana aplikasi messenger Telegram menjadi korban pertama atas dalih tersebut.

Jika memang kebijakan tersebut diterapkan, kira-kira apa sih yang bakal terjadi?

1. Curhat di “Tembok Derita”

social media
Pengganti “wall” Facebook (photo: photoshelter.com)

Ketika fitur “wall” Facebook saat ini jadi pelampiasan warganet dalam mencurahkan kegundahan isi hatinya alias curhat, begitu aplikasi tersebut diblokir pemerintah mungkin “wall” lain yang akan jadi pelampiasan. Apalagi kalau bukan “tembok derita”?

Istilah “tembok derita” memang pernah populer, di mana orang menuliskan apa saja di tembok, baik itu di tembok sekolah, gang sempit, hingga toilet. Sayangnya, tidak seperti Facebook yang bisa langsung dapat komentar dan reaksi lainnya, curhatan di tembok ini biasanya dibalas dengan polesan cat baru dari si pemilik tembok tersebut karena dianggap merusak pemandangan.

2. Coretan Nama Ada di Mana-mana

social media
Tembok jadi ajang eksis setelah social media diblokir (photo: Kaskus)

 

Social media memang memungkinkan setiap orang menuliskan apa saja tentang sekolahnya, geng pertemanan, sampai nama julukan sendiri di bagian profil. Jika nanti diblokir tulisan itu lagi-lagi akan dialihkan ke tembok.

Nantinya, kemungkinan tembok-tembok di jalanan akan penuhi coretan dari cat semprot yang bertuliskan nama-nama sekolah dan nama orang. Media vandalisme seperti ini bukan cuma di tembok saja, tapi bisa jadi di beberapa tempat seperti gerobak, bus, dan batu-batu besar di tempat wisata.

3. Cari Kenalan di Uang Kertas

social media
Siap-siap kita bakalan dapat uang kotor ini, GIzmolovers! (photo: stasiun-tinta.blogspot.co.id)

 

Social media memungkinkan penggunanya untuk berkenalan atau bertukar kontak seperti nomer telepon untuk percakapan yang lebih intens dan privat. Dengan adanya pemblokiran, uang kertas nantinya akan jadi sasaran. Siap-siap saja, nantinya kita akan menemukan uang kertas bertuliskan nama orang berikut nomer teleponnya.

4. Penonton Bayaran Jadi Pelampiasan

social media
Siap dandan eksentrik kayak gini? (photo: Hipwee.com)

 

Dengan slogan “broadcast yourself”, YouTube menjadi platform social media bagi siapa saja untuk ditonton banyak orang tanpa harus masuk ke siaran TV. Asyiknya, social media ini juga memberikan bayaran atas jumlah view yang dicapai kreatornya.

Jika YouTube diblokir, kemungkinan mereka yang terbiasa ditonton banyak orang akan mengalihkan diri jadi penonton bayaran di acara musik dan lawak. Meskipun wajahnya belum tentu tertangkap kamera, soal bayaran lumayan juga. Buat satu program acara saja, penonton bayaran ini bakalan dapat fee sekitar Rp 100-200 ribu per episode dan tidak perlu pusing memikirkan jumlah penonton.

Bagi yang merasa punya bakat mungkin lebih beruntung, karena banyak stasiun TV yang kini punya program pencarian bakat, mulai dari menyanyi, memasak, hingga main sulap. Asyiknya, kemunculan di program ini memungkinkan kita jadi idola baru pemirsa TV di Indonesia.

5. Jadi Peserta Kuis Sesungguhnya

social media
Uji kemampuanmu di depan pemirsa TV, berani? (photo: brilio.net)

 

Diblokirnya social media bisa jadi peluang baru bagi para quiz hunter yang biasa bergerilya di Facebook, Twitter, dan Instagram buat membuktikan kemampuan dirinya di depan publik tampil sebagai peserta kuis sesungguhnya, bukan sekedar membombardir timeline dengan spam.

Seperti kita ketahui saat ini stasiun TV juga banyak program-program kuis yang hadiahnya tidak kalah menarik dibandingkan apa yang dikampanyekan di timeline social media. Asyiknya, kita tidak perlu bersembunyi di balik akun palsu atau alter buat jadi peserta. Cukup tampil apa adanya kita saja.

6. Selembaran Gelap Marak Kembali

social media
Selebaran-selebaran gelap bakalan gentayangan di terangnya siang (photo: Tribunnews.com)

 

Dengan diblokirnya social media, para pembuat berita bohong akan mengerahkan tipu dayanya ke selembaran gelap yang disebar di beberapa tempat. Bahkan nantinya tukang fotokopi juga akan kelimpungan dengan adanya order memfotokopi selembaran yang isinya mengajak pembaca selembaran tersebut untuk segera menggandakannya hingga puluhan kali biar tidak mengalami musibah secara beruntun.

Nah, dari kemungkinan-kemungkinan di atas, kira-kira apa yang bakal kamu pilih buat melampiaskan kebiasaan posting di social media?