Review Acer Swift Edge: Laptop 16 Inci Paling Portable dengan Layar 4K OLED

Performa & visual memuaskan, bobot sangat ringan.

10 Min Read
8.8
Review Acer Swift Edge

Agar bisa bekerja di mana saja lebih leluasa, masyarakat kini lebih memilih untuk membeli laptop yang mudah dibawa-bawa sekaligus punya performa tinggi. Kalau laptop dengan ukuran layar 13-14 inci rata-rata punya profil yang portable, bagaimana dengan laptop 16 inci? Tidak banyak, namun Acer Swift Edge bisa jadi salah satu opsi terbaik saat ini.

Acer melalui lini laptop premiumnya hadirkan sejumlah opsi menarik sepanjang tahun 2022 hingga sekarang. Mulai dari laptop Intel Evo terjangkau, laptop layar OLED 90Hz, dan laptop 16 inci berlayar 4K OLED paling ringan di dunia alias Acer Swift Edge. Ditenagai oleh salah satu chipset terbaru yang powerful dari AMD, para konten kreator yang membutuhkan laptop layar lega dan mudah dibawa ke mana saja, bisa melirik yang satu ini.

Saya pribadi lebih memilih laptop 14 inci karena bisa berikan portabilitas yang pas & umumnya punya baterai lebih awet. Tapi setelah beberapa pekan menggunakan laptop Acer paling tipis dan ringan satu ini, saya jadi punya pengecualian akan pernyataan pribadi tersebut. Apakah laptop ini pas untuk Gizmo friends? Berikut review Acer Swift Edge!

Desain

Dari tampilan luarnya, Acer Swift Edge terlihat seperti laptop Acer Swift 14 inci yang lebih tipis dan lebih besar. Terlihat cukup stylish dan premium dari luar, juga cukup menarik perhatian karena opsi warna biru cerahnya yang menarik. Efek mengejutkan bakal muncul ketika kamu pertama kali memegang dan mencoba mengangkat laptop ini.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Acer Swift Edge adalah laptop 16 inci yang sangat ringan. Kalau di luar negeri ada opsi LG Gram, yang satu ini bisa jadi opsi resmi terbaik saat ini. Seberapa ringan? Hanya 1,17 kilogram saja! Bahkan lebih ringan dari MacBook Air dan sejumlah laptop 13 inci lainnya. Juga sangat tipis, kurang dari 13mm.

Untuk mendapatkan bobot yang ringan, Acer menggunakan material sasis berbahan magnesium-aluminium, alias aluminium yang lebih ringan, namun sama kuatnya. Hal ini membuat saya tak merasa ragu ketika mengangkat laptop dari salah satu sisinya saja. Meski begitu, saya masih merasa perlu lebih berhati-hati.

Karena desain yang tipis, masih ada sedikit rasa takut kalau Acer Swift Edge mendapat tekanan di bagian tengah atau ketika diletakkan di dalam tas. Karena bagaimana pun, bagian layar cukup tipis dan bisa ditekan-putar (flex) secara mudah. Selain itu, laptop ini sangat menyenangkan untuk digunakan dan dibawa ke mana-mana.

Layar

Nggak sekadar besar secara dimensinya saja, layar Acer Swift Edge juga bisa dibilang superior. Berukuran 16 inci, panelnya sudah berjenis OLED, punya resolusi maksimum 4K, dan sudah punya standar DisplayHDR True Black 500 untuk kontras tinggi serta warna hitam pekat. Punya gamut warna 100% DCI-P3 yang pas untuk para kreator.

Kecerahan maksimum 500 nits membuat kamu bisa menggunakan Acer Swift Edge secara nyaman meski di luar ruangan dalam kondisi siang hari yang terik. Dimensi layarnya besar, memang, namun bodi laptop keseluruhan masih sama atau sedikit lebih kecil dari laptop 15,6 inci konvensional. Karena keempat bezel-nya yang tipis—memiliki rasio layar-ke-bodi 92%.

Sedikit kekurangan bila dibandingkan Swift 3 OLED, adalah refresh rate standar 60Hz. Saya pribadi memilih untuk menurunkan resolusi layar ke FHD, karena masih terlihat tajam dan supaya tidak mengonsumsi terlalu banyak baterai. Namun bagi Gizmo friends yang lebih memilih visual terbaik, tak ada salahnya untuk tetap aktifkan resolusi 4K.

Port & Konektivitas

Walaupun tipis dan sangat ringan, opsi konektivitas pada Acer Swift Edge masih cukup lengkap. Di sebelah kiri perangkat, kamu tetap bisa mendapatkan dua port USB-C yang mendukung pengisian daya, port USB-A 3.2, serta HDMI 2.1 full-sized. Di sebelah kanan, masih disematkan satu port USB-A 3.2 tambahan, serta audio jack. Ya, sayangnya, tidak ada slot kartu memori baik SD card atau microSD yang lebih kecil.

Setidaknya opsi port ini tidak membuat saya harus membawa dongle ke mana-mana. Untuk konektivitas nirkabel, standar Bluetooth 5.2 dan Wi-Fi 6E sudah pas untuk sambungan ke earphone TWS dan Wi-Fi publik. Bagaimana dengan keyboard Acer Swift Edge? Jangan kaget kalau kamu tidak menemukan numeric pad walaupun layarnya berukuran 16 inci.

Mungkin sudah tidak ada ruang untuk komponen, ya. Saya pribadi tidak masalah, asal keyboard-nya nyaman digunakan, dan Acer Swift Edge cukup nyaman untuk mengetik dalam jangka waktu lama. Ada backlit dua tingkat, serta touchpad yang juga luas dan nyaman untuk menjalankan gestur Windows 11. Seperti biasa, tombol power dibuat lebih keras supaya tak perlu khawatir bila tidak sengaja ditekan—selain juga menjadi sensor sidik jari.

Saya juga suka dengan peletakan touchpad-nya, pas dan tidak mengganggu sudut bodi bawah kiri Acer Swift Edge untuk meletakkan telapak tangan. Oh ya, ketika layar dibuka, bodi bawah sedikit naik, sehingga posisi keyboard jadi sedikit lebih nyaman untuk mengetik sekaligus berikan sirkulasi udara lebih pas.

Fitur Lainnya

Seperti seri Acer Swift modern lainnya, Acer Swift Edge juga pas untuk sistem kerja modern seperti meeting virtual. Ada dua mikrofon yang disematkan di bagian bezel atas layar, didukung oleh Acer PurifiedVoice, secara otomatis mereduksi noise di sekitar sampai noise yang ada dari suara peserta meeting virtual lainnya. Bila dirasa tidak cocok, tentu bisa dinonaktifkan.

Webcam Acer Swift Edge beresolusi full HD, dan mendukung Acer Temporal Noise Reduction (TNR). Secara kualitas, masih jauh dibandingkan Swift 3 OLED atau Swift 14, tapi sudah setara dengan laptop di kelas harganya. Kualitas speaker yang terletak di bawah bodi tergolong standar, dengan volume yang juga tak begitu kencang.

Dalam setiap pembelian Acer Swift Edge, sudah termasuk dengan lisensi Windows 11 Home serta Office Home & Student 2021. Aplikasi bawaan Acer tidak terlalu banyak, seperti Care Center dan Quick Access untuk akses Bluelight Shield (mereduksi cahaya biru) serta pemeliharaan layar OLED.

Performa

Varian Acer Swift Edge yang saya uji kali ini merupakan varian tertinggi, menggunakan chipset AMD Ryzen 7 6800U. Cip tersebut gunakan arsitektur Zen 3+, fabrikasi 6nm, 8 inti CPU & 16 threads. Dipadukan bersama RAM 16GB LPDDR5 dual-channel (tidak bisa di-upgrade), serta storage 512GB SSD NVMe Gen 4—masih ada slot M.2 kedua untuk perluasan memori lebih lega.

Performa Acer Swift Edge sudah cukup memuaskan untuk kebutuhan multitasking serta menjalankan sejumlah aplikasi berat. Menjalankan beberapa judul game di Steam seperti Forza Horizon maupun The Sims juga lancar—untuk judul yang pertama, tentunya perlu menurunkan resolusi agar lebih mulus. Efisiensi chipset AMD satu ini juga membuat daya tahan baterai lebih awet sehingga pas untuk dibawa seharian tanpa membawa charger.

Ada satu bagian yang menurut saya bisa dianggap sebagai kekurangan, walaupun juga nampaknya hasil dari limitasi desain produk. Saat digunakan, bagian bawah dan samping kiri Acer Swift Edge cukup mudah hangat – panas. Terkadang ketika digunakan untuk jalankan beberapa aplikasi ringan pun terasa panas—membuat kipas pada Acer Swift Edge lebih sering aktif berputar kencang, menciptakan noise tambahan.

Kabar baiknya, daya tahan baterai masih tetap prima. Mungkin karena dimensinya tipis dan chipset perlu bekerja lebih keras untuk resolusi layar lebih tinggi dibandingkan laptop standar pada umumnya.

Baterai

Pada halaman produk resminya, baterai Acer Swift Edge diklaim bisa digunakan hingga 10,5 jam. Walaupun biasanya klaim dari sebuah brand lebih tinggi dibandingkan waktu penggunaan aslinya, durasi tersebut tak jauh berbeda dengan penggunaan saya—bisa sampai 9 jam!

Namun dengan catatan, resolusi layar saya turunkan ke full HD, dengan kecerahan 50% dan mode hemat daya aktif. Tetap saja menurut saya impresif, karena dimensinya yang tipis dan layar lebih besar dibandingkan laptop pada umumnya.

Laptop ini juga sudah mendukung fast charging menggunakan charger 65W. Charger-nya memiliki dimensi cukup kompak, dan cukup ringan sehingga tidak memberatkan ketika dibawa. 30 menit bisa menambah daya sekitar 50%, sementara 90 menit sudah melampaui 90%.

Kesimpulan

Langsung saja, yang saya rasakan sebagai kekurangan dari laptop ini adalah hardware-nya yang mudah temperamen (walaupun tidak sebegitu panasnya), serta profilnya yang saking tipisnya jadi merasa harus lebih berhati-hati membawanya ke mana saja. Selain harga yang cukup premium—hampir Rp20 juta untuk varian dasarnya.

Walaupun ketika ulasan ini dibuat, harga Acer Swift Edge di sejumlah e-commerce bisa ditemukan lebih murah kisaran Rp2 juta dari harga di situs resminya. Tentu ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan untuk menciptakan sebuah laptop tipis berperforma tinggi, layar 4K OLED, dan berat yang hanya 1,1 kilogram. Kalau memang sejumlah poin utama ini adalah yang Gizmo friends cari, maka inilah laptop 16 inci portable terbaik yang bisa kamu dapat saat ini.

Spesifikasi Acer Swift Edge SFA16-41

Klik pada gambar untuk spesifikasi lebih lanjut.

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Review Acer Swift Edge
8.8
Design 9
Display 9
Features 8.5
Performance 8.5
Battery 8.8
Share This Article

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version