Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Review Huawei Band 4: Menarik Meski Kurang Dilirik

2 4.875

Berbicara mengenai sebuah perangkat gelang pintar atau smartband, produsen smartphone yang satu ini telah merilis versi pertamanya sejak tahun 2017 lalu. Yup, tak seperti realme yang baru banget merambah ke dunia wearables, Huawei sudah terjun jauh lebih awal lewat beberapa perangkat smartband maupun smartwatch sejak beberapa tahun lalu. Kini Huawei hadirkan Huawei Band 4, smartband yang menurut saya kurang menarik perhatian.

Kenapa begitu? Saya sendiri kurang tahu juga, sih. Perangkat ini lebih dikenal sebagai aksesori bonus dari hasil penjualan smartphone Huawei. Pihak Huawei sendiri seakan tak berikan promosi secara gencar, dibandingkan dengan Xiaomi dengan seri Mi Band mereka atau realme dengan realme Band. Padahal, fitur yang dimiliki Huawei Band 4 juga tak kalah lengkap dibanding kompetitornya.

Di Indonesia sendiri, Huawei Band 4 telah resmi diperkenalkan sejak Oktober 2019 lalu. Dan justru karena sudah rilis versi ke-sekian, secara tidak sadar saya lebih yakin jika smartband ini bakal berikan pengalaman penggunaan yang lebih superior ketimbang lainnya yang baru generasi pertama atau kedua. Lalu apakah benar demikian? Langsung saja, inilah pengalaman saya menggunakan Huawei Band 4 selama lebih dari satu minggu pemakaian.

Desain Huawei Band 4

Dari segi desain, Huawei Band 4 terlihat lebih sporty dibandingkan dengan realme Band yang sebelumnya saya ulas. Dan juga lebih konvensional, berbeda dengan realme Band yang layarnya dibuat seolah sedikit melengkung, dan seamless antara bagian bodi dengan strap-nya. Materialnya terasa sama, dan di pergelangan tangan, sama-sama nyaman sih.

Huawei Band 4 dirilis dalam tiga pilihan warna strap, dan kebetulan yang saya gunakan adalah warna Graphite Black. Strap-nya tentu berwarna hitam, sementara bingkai layarnya dibuat sedikit lebih cerah mendekati warna abu-abu. Dua warna strap lainnya terlihat lebih ngejreng, yaitu Sakura Pink dan Amber Sunrise.

Bobotnya sendiri 24 gram, alias 4 gram lebih berat dari realme Band. Tapi ya, nggak kerasa, Cuma 4 gram aja bedanya. Keduanya sama-sama nyaman dan ringan. Ketika pertama kali saya hendak menyalakan perangkat ini, tentu saya mencari cara untuk melepas strap dan isi daya Huawei Band 4. Di sini saya dikejutkan dengan mekanisme lepas strap-nya.

Strap Huawei Band 4

Tak seperti realme Band yang harus ditarik manual (dengan rasa was-was untuk pemakaian jangka panjang), bagian bawah strap Huawei Band 4 seperti dilengkapi sebuah bagian tombol, yang jika ditekan, maka strap akan terlepas dari bodi.

Gampang banget, nggak perlu “uglak-aglik” yang meningkatkan risiko strap melar. Ketika strap terbuka, saya kembali dibuat kaget dengan metode pengecasannya. Namun untuk yang itu saya bahas di bagian lain ya. Kita cek layarnya terlebih dahulu.

Layar

Layar Huawei Band 4

Huawei Band 4 memiliki layar 0,96 inci dengan resolusi 160 x 80 piksel. Dimensi layar serta kerapatan pikselnya bisa dibilang standar. Namun yang menarik, meski terdapat sebuah tombol kapasitif di bawahnya, layar Huawei Band 4 sepenuhnya mendukung input sentuh, alias touchscreen. Mengoperasikan menu pada smartband terjangkau ini jadi sangat mudah. Sementara kualitas layarnya sendiri bagus, terlihat terang meski di bawah sinar matahari terik.

Kalau dilihat dari dekat, memang terlihat sedikit pixelated, tetapi kerapatan resolusinya masih membuat saya bisa membaca notifikasi pesan pada layar smartband Huawei ini tanpa perlu mengernyitkan dahi. Usap ke atas atau bawah untuk berpindah tampilan dari watchface ke pintasan olahraga dan lainnya. Usap dari kiri untuk pintasan akses notifikasi, dan gunakan tombol kapasitif di bawah layar untuk kembali ke tampilan watchface.

Dan karena layar sentuh, kamu bisa dengan mudah akses fitur seperti timer, stopwatch, mengatur kecerahan layar dan lainnya. Tersedia juga fitur putar pergelangan tangan untuk bergulir dari satu menu ke lainnya. Belum mendukung always-on display, pengguna dapat mengatur layar Huawei Band 4 agar tetap menyala sampai 5 menit. Tentunya konsumsi daya akan lebih boros ya.

Proses Pairing ke Android

Sebelum membahas fitur-fitur yang diberikan dari Huawei Band 4, saya mau cerita dikit soal bagaimana repotnya ketika pertama kali menyambungkan smartband ini ke smartphone yang saya gunakan. Kalau realme Band kemarin, tinggal unduh realme Link, jalankan proses pairing, selesai. Nah, hal tersebut tidak berlaku dengan Huawei Band 4.

Sebagai catatan, saya memasangkan perangkat ini ke Google Pixel 3 (bisa disambungkan ke iPhone juga, asal menggunakan iOS 9 ke atas). Aplikasi yang saya unduh pertama adalah Huawei Health. Setelah terpasang, saya buka, ternyata aplikasi tersebut membutuhkan Huawei Mobile Services agar dapat berjalan. Oke, kembali ke Play Store, cari, unduh, kembali buka Huawei Health. Ternyata masih belum bisa juga. Alasannya? HMS belum yang terbaru.

Lalu HMS versi terbaru ada di mana? Yup, Huawei AppGallery. Jadi ata total tiga aplikasi yang perlu di-install agar perangkat ini bisa aktif. Saya nggak ngerti kenapa HMS di Google Play Store belum diperbarui ke versi terbaru, dugaan saya sih karena adanya batasan antara pihak Google dan Huawei yang sedang berlangsung saat ini.

Fitur

Tampilan antarmuka Huawei Health

Setelah terpasang dengan benar, proses pairing cukup mudah. Sayangnya untuk pembaruan perangkat lunak, harus naik versi satu-satu alias memerlukan sekitar 4-5 kali update. Sementara informasi yang ditampilkan dari Huawei Health cukup terstruktur dan mendetil, mudah digunakan. Bahkan hampir semua jenis informasi seperti jumlah langkah, kualitas tidur dan lainnya diberikan opsi untuk menyimpan dalam format gambar, untuk dibagikan ke Instagram Stories atau semacamnya.

Pilihan watchface-nya juga cukup banyak, dengan informasi yang cukup komprehensif seperti waktu dan tanggal, jumlah langkah, kilometer yang telah dicapai serta kalori yang terbakar. Selain deteksi detak jantung secara kontinyu, Huawei Band 4 juga bisa ingatkan penggunanya untuk tak terlalu lama berdiam diri.

Ketika sedang digunakan untuk berolahraga, Huawei Band 4 akan menampilkan informasi real-time yang juga mudah dipahami. Pengguna tidak bisa cek notifikasi masuk, tapi masih bisa mengontrol musik secara langsung. Tahan tombol kapasitif bawah layar untuk selesaikan sesi olahraga.

Huawei TruSleep mampu hasilkan informasi yang mendetil sesaat setelah pengguna terbangun dari tidur, menyajikan informasi seperti light sleep, dleep sleep, REM dan lainnya. Data yang tercatat akan diolah untuk berikan saran komprehensif kepada penggunanya. Data tersebut juga bisa di-ekspor otomatis ke Google Fit maupun MyFitnessPal.

Oh ya, yang sedikit saya sayangkan, ketika memulai sesi olahraga dari smartband langsung, data yang tercatat tak termasuk lokasi selama olahraga. Iya, memang perangkat ini tak dilengkapi built-in GPS. Tapi seharusnya bisa saja ambil data GPS dari smartphone, sama seperti ketika memulai sesi olahraga dari aplikasi Huawei Health.

Selain opsi untuk mendeteksi denyut jantung secara otomatis, Huawei Band juga dilengkapi fitur untuk memonitor SpO2 atau kadar oksigen dalam darah. Fitur ini hanya bisa diaktifkan secara manual dengan memilih menu pada smartband. Perlu waktu lebih lama ketimbang sekadar cek denyut jantung, dan strap perlu dibuat lebih rapat supaya proses berhasil.

Baca juga: Huawei Watch GT2e: Punya Fitur Pemantauan SpO2, Harga Lebih Murah

Baterai

USB Direct Charge Huawei Band 4

Huawei Band 4 punya baterai kecil berkapasitas 91 mAh. Proses pengecasannya memakan waktu sekitar 1 jam lebih, dan perangkat ini bisa menyala sekitar 7 hari dengan pemakaian a-la saya. Semua fitur saya aktifkan seperti Huawei TruSleep dan heart rate monitor, plus fitur untuk menyalakan layar otomatis ketika saya mengangkat pergelangan tangan. Saya juga lebih aktif berinteraksi menggunakan layar sentuhnya ketimbang smartband sebelumnya, jadi menurut saya daya tahan baterainya patut diacungi jempol.

Pada bagian desain, saya sempat bilang kalau dibuat kaget dengan metode pengecasannya. Yup, Huawei Band 4 mendukung USB Direct Charge, alias nggak perlu kabel charger tambahan. Tinggal copot strapnya, lalu cari port USB seperti pada wall charger, laptop atau powerbank, udah deh. Awalnya saya kira fitur ini eksklusif hanya di realme Band, ternyata Huawei sudah mengadopsi metode yang sama lebih dulu.

Kesimpulan

Kelengkapan Huawei Band 4

Menurut saya, Huawei Band 4 adalah smartband yang underrated. Smartband ini tak banyak dikenal, apalagi jika dibandingkan dengan Mi Band atau saudaranya sendiri, Honor Band. Padahal, fiitur yang ditawarkan sangat lengkap dan komprehensif. Tampilan aplikasinya bagus (walaupun setup awal agak ribet), baterainya tahan lama, layar sentuhnya memudahkan baca notifikasi, plus sudah gunakan USB Direct Charge.

Ketika awal hadir di Indonesia, Huawei Band 4 dijual resmi dengan harga Rp449 ribu. Namun sekarang kamu bisa menemukannya di e-commerce seharga Rp100 ribu lebih murah, entah memang sudah turun atau kebanyakan adalah unit hadiah dari pembelian smartphone Huawei. Kalau memang budget tak sampai Rp400 ribu, Huawei Band 4 tentunya cocok menjadi pilihan utama.

Spesifikasi Huawei Band 4

Layar 0.96″ 160 x 80 TFT
Touchscreen
Warna Graphite Black, Amber Sunrise, Sakura Pink
Ukuran 12.5 (H) x 18.5 (W) x 56 (L) mm, lebar strap 17mm
Berat 24g
Ketahanan 5ATM water resistance rating (50m)
Konektivitas Bluetooth 4.2
Sensor 3-axis accelerometer, optical heart rate sensor, infrared wear sensor
Baterai 91mAh, up to 7-9 days
Harga Rp449.000

Beli gadget Huawei di:

SHOPEE BLIBLI LAZADA ERASPACE  JD.ID 


Versi Bahasa Inggris review Huawei Band 4 bisa dibaca di Gizmologi.com

85%
Bagus

review Huawei Band 4

Meski seakan tidak dilirik, Huawei Band 4 miliki fitur lengkap dan menyenangkan ketika digunakan.

  • Design
  • Display
  • Performance
  • Features
  • Battery