Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Menguak Obsesi Bosch Kembangkan Teknologi Otomatisasi dan AI

Perusahaan teknologi asal Jerman ini menggelontorkan dana hingga Rp67,2 triliun & melibatkan 4ribu insinyur untuk pengembangan teknologi otomatisasi

Di tengah kondisi ekonomi yang cukup berat di kawasan Eropa, kinerja bisnis dan penjualan Bosch pada tahun 2018 justru gemilang, bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Perusahaan penyedia layanan dan teknologi asal Jerman tersebut membukukan penjualan operasional sebesar Rp1.309,06 triliun dan laba Rp8,9 triliun. Kini, mereka semakin giat berinvestasi untuk mengembangkan teknologi otomatisasi dan Artificial Intelligence (AI).

“Kami berencana menjadikan semua sektor bisnis perusahaan lebih kompetitif, sehingga kami dapat membiayai ekspansi kepemimpinan teknologi dan meneruskan masa depan perusahaan,” ucap Prof. Stefan Asenkerschbaumer, CFO Bosch.

Baca juga: Strategi Samsung pada Pengembangan Teknologi AI, IoT dan 5G di 2019

Pengembangan Teknologi Otomatisasi

Teknologi pengemudian otomatis sebagai salah satu titik fokus R&D Bosch

Pengemudian otomatis merupakan salah satu titik fokus penelitian dan pengembangan perusahaan. Tak tanggung-tanggung, untuk periode hingga 2022 saja, mereka melakukan investasi awal mencapai 67,2 triliun rupiah  (4 miliar euro). Sekitar 4.000 insinyur di Bosch sedang terlibat dalam penelitian pengemudian otomatis.

Geontoran investasi tersebut tak lepas dari prediksi bahwa pada kisaran tahun 2015 sampai 2030 potensi pasar pengemudian otomatis cukup besar, dengan angka peningkatan mobilitas pribadi mencapai 50%. Para analis memperkirakan bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, hardware dan software pengemudian otomatis nilainya sekitar Rp835,5 triliun. Prediksinya sebagian besar dari 2,5 juta bus antar-jemput berbasis permintaan di seluruh dunia tak lagi memakai sopir pada tahun 2025.

Berdasarkan penelitian Boston Consulting Group, pada 2035 penjualan yang berkaitan dengan mobilitas berbagi tumpangan akan mencapai Rp2,2 kuadriliun. Nah, Bosch akan menawarkan teknologi dan layanan yang mendukung mobilitas tersebut.

Demi mewujudkan mobilitas bebas kecelakaan ada dua jalur pengembangan yang ditempuh Bosch. Pengembangan pertama berkaitan dengan sistem bantuan pengemudi yang memungkinkan pengemudian otomatis sampai batas tertentu pada kendaraan pribadi. Pada bidang ini, Bosch merupakan yang terdepan dalam hal teknologi dan pasar.

 

Related Posts
1 daripada 237

Pengembangan teknologi otomatisasi kedua akan dimulai pada awal dekade berikutnya, yaitu pengemudian tanpa sopir yang bisa menjadi terobosan dalam mobilitas individu. Berbagai peluang bisnis yang menggunakan teknologi ini bisa terbuka, misalnya robotaxi atau mobilitas berbasis antar-jemput.

Bosch memiliki ekosistem untuk layanan mobilitas yang menggabungkan solusi dan layanan pemesanan, pembayaran, parkir, pengisian ulang daya, administrasi dan hiburan. Contoh layanannya adalah Convenience Charging yang mrupakan solusi navigasi dan pengisian daya kendaraan listrik. Pabrikan kendaraan listrik Jerman Sono Motors merupakan pelanggan reguler pertama Bosch.

Baca juga: Melihat Canggihnya Smart Panda Bus, Kendaraan Swakemudi Berbasis AI 

Pengembangan Teknologi AI

Selain teknologi otomatisasi untuk pengemudi, Bosch juga tergiur unguk mengembangkan kecerdasan buatan atau lebih populer dengan sebutan AI (artificial intelligence). Tidak disebutkan berapa dana yang digelontorkan untuk pengembangan teknologi AI. Tapi yang jelas, Bosch berambisi menguasai AI dan bergabung dengan elit global dengan menambah pakar AI internal dari 1.000 ke 4.000 pada 2021.

Perusahaan menargetkan seluruh produk mereka telah dilengkapi AI pada pertengahan dekade mendatang. Bisa juga dalam pengembangan dan pembuatan produk Bosch menggunakan peran AI.

AI

Kendati saat ini Amerika dan Tiongkok mendominasi industri AI bagi konsumen, namun tetap bisa tertinggal di belakang industri AI. Ini karena dalam industri juga dibutuhkan keahlian dalam bidang bangunan, lalu lintas atau manufaktur.

Saat ini pegawai di Bosch Center for AI sedang mengerjakan hampir 150 proyek, salah satunya adalah sistem sensor SoundSee. Sensor tersebut dapat memprediksi kerusakan alat secara akurat berkat algoritma SoundSee yang menerapkan pembelajaran mesin untuk mendengar kerusakan. Solusi ini dapat menurunkan biaya perawatan dan meningkatkan produktivitas.

Pada pertengahan tahun ini, solusi SoundSee tersebut akan dikirim ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Solusi ini juga berpotensi untuk diterapkan secara komersial di bidang bangunan, manufaktur dan teknik otomotif.
Contoh kemajuan AI lainnya adalah kamera serbaguna untuk pengemudian otomatis. Kamera ini menggabungkan algoritma pemrosesan gambar dengan metode AI yang akan mengenali dan memprediksi perilaku pejalan kaki.

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More