Gizmologi
The Bilingual Tech Media

Sophia, Robot Manusia Pertama Yang Diakui Arab Saudi

Robot cerdas bernama Sophia resmi mendapatkan status sebagai warga negara oleh pemerintah Arab Saudi.

Bayangkan di masa depan, seluruh manusia digantikan oleh robot humanoid atau robot cerdas berbentuk manusia yang notabane merupakan buatan manusia sendiri. Ancaman terhadap masa depan manusia tersebut kembali menjadi pro-kontra belum lama ini setelah sebuah robot cerdas bernama Sophia resmi mendapatkan status sebagai warga negara oleh pemerintah Arab Saudi.

Hal tersebut tentu akan memberikan ruang bagi eksistensi robot humanoid di tengah manusia saat ini. Dilansir dari DW.com, pemilik sekaligus pembuat Sophia, David Hanson dalam sebuah pameran teknologi di Beijing mengumumkan akan memproduksi massal robot dengan kecerdasan buatan itu. Arab Saudi menjadi negara pertama di dunia yang memberikan sebuah robot status kenegaraan yang setara dengan manusia. Sebelumnya, pemberian status warga negara terhadap robot Sophia oleh pemerintah Arab Saudi dilakukan dalam sebuah program di Future Investment Initiative juga turut memicu protes berdasarkan kecemasan terhadap masa depan manusia.

Sebelumnya, Sophia yang memiliki gerak gerik dan kecerdasan mendekati manusia muncul di rapat PBB pada Rabu 11 Oktober 2017 silam. Oleh penciptanya, Sophia didesain untuk berinteraksi dengan manusia. Ia dilengkapi dengan kamera canggih yang dapat melacak ekspresi dan gerakan mata manusia yang dia ajak bicara. Sophia bahkan dapat membuat kontak mata dengan lawan bicaranya. David dikenal sebagai pemilik dari perusahaan robotic Hanson Robotics yang berbasis di Hong Kong.

Wajah Sophia sendiri terinspirasi dari bintang film Hollywood tahun 1950-an Audyer Hepburn. Namun, dari 62 ekspresi yang dimiliki Sophia, jangan berharap melihat sosok perempuan manis, karena semuanya terlihat sedikit menakutkan. Wajah Sophia sendiri terbuat dari bahan karet yang dipatenkan yang disebut “frubber”. Bahan ini disebut dapat meniru elastisitas kulit manusia dan dapat membantu Sophia menunjukkan ekspresinya.

Sophia diketahui mampu menjawab pertanyaan tertentu dan melakukan percakapan sederhana mengenai topik yang telah ditentukan (misalnya tentang cuaca). Robot humanoid ini menggunakan teknologi pengenalan suara dari Alphabet Inc. (perusahaan induk Google) dan dirancang untuk menjadi lebih pintar dari waktu ke waktu. Perangkat lunak untuk intelijensi Sophia dirancang oleh SingularityNET. Sedangkan program AI menganalisis percakapan dan mengekstrak data yang memungkinkannya memperbaiki tanggapan di masa depan.

Kemampuan tersebut menjadi alasan Hanson merancang Sophia untuk menjadi teman yang cocok bagi para orang tua di panti jompo, atau untuk membantu orang banyak pada acara besar atau kegiatan di taman. Dirinya berharap agar robot ini akhirnya bisa berinteraksi dengan manusia lain secukupnya, dengan tuhjuan mendapatkan keterampilan sosial. (DS)

%d blogger menyukai ini: