Bitcoin Masih Konsolidasi, Investor Perlu Cermati Risiko Koreksi Harga

9 Min Read

Jakarta, Gizmologi – Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan setelah aset kripto terbesar di dunia tersebut masih bertahan di kisaran US$60.000 selama hampir sepekan. Di balik pergerakan yang terlihat tenang, sejumlah analis justru menilai kondisi ini menyimpan risiko koreksi yang lebih dalam apabila level support utama gagal dipertahankan.

Fase konsolidasi seperti ini umumnya dianggap sebagai periode ketika pasar sedang mencari arah baru. Namun, posisi konsolidasi kali ini dinilai berbeda dibandingkan siklus sebelumnya karena terjadi setelah Bitcoin kehilangan sejumlah level support penting. Di tengah ketidakpastian tersebut, banyak investor memanfaatkan aplikasi crypto untuk memantau pergerakan harga secara real-time sekaligus menyusun strategi yang lebih matang menghadapi potensi volatilitas pasar.

Selain memperhatikan pergerakan Bitcoin, investor juga mulai mengamati berbagai aset digital lain yang dinilai memiliki peluang pertumbuhan. Tidak sedikit yang mengikuti perkembangan harga coin siren sebagai bagian dari diversifikasi portofolio.

Konsolidasi Bitcoin Kali Ini Berbeda Dibanding 2024

Sekilas, pergerakan yang stabil dalam rentang sempit memang terlihat sebagai sinyal bahwa pasar mulai tenang. Namun, menurut analis pasar utama FxPro, Alex Kuptsikevich, kondisi tersebut justru menyimpan risiko yang cukup besar.

Ia menjelaskan bahwa konsolidasi memang merupakan fase yang umum terjadi pada Bitcoin, tetapi lokasi terbentuknya konsolidasi kali ini membuat situasinya berbeda dibandingkan periode sebelumnya.

Sepanjang Maret hingga Oktober 2024, Bitcoin juga pernah bergerak dalam kisaran harga yang cukup lebar, yaitu sekitar US$55.000 hingga US$70.000. Saat itu, harga memang beberapa kali mengalami kenaikan dan penurunan, tetapi secara keseluruhan masih berada dalam tren naik.

Sebaliknya, pola yang muncul pada pertengahan 2026 terjadi ketika Bitcoin justru telah kehilangan sejumlah level support penting. Harga kini berada di bawah area yang sebelumnya menjadi titik balik kenaikan pada Februari maupun awal Juni.

Dengan kata lain, pasar sedang membentuk konsolidasi di tengah tren bearish, bukan dalam tren bullish seperti yang pernah terjadi dua tahun sebelumnya. Perbedaan inilah yang membuat banyak analis mulai meningkatkan kewaspadaan.

Dalam analisis teknikal, lokasi terbentuknya pola harga seringkali memiliki arti yang lebih penting dibandingkan bentuk polanya sendiri. Konsolidasi yang muncul setelah tren naik biasanya dianggap sebagai jeda sebelum kenaikan berlanjut.

Namun, apabila pola serupa muncul ketika tren utama masih turun, konsolidasi justru lebih sering menjadi fase istirahat sebelum harga kembali melemah.

Posisi di Bawah Moving Average Memperkuat Sinyal Bearish

Selain kehilangan area support, Bitcoin juga masih diperdagangkan di bawah dua indikator teknikal yang paling banyak digunakan investor, yaitu moving average 50 hari dan moving average 200 hari.

Moving average merupakan indikator yang digunakan untuk melihat arah trend harga dalam periode tertentu. Ketika harga bergerak di bawah kedua garis tersebut, kondisi itu biasanya mencerminkan bahwa tekanan jual masih lebih dominan dibandingkan tekanan beli.

Saat ini, bukan hanya posisi harga yang berada di bawah kedua indikator tersebut, tetapi arah moving average juga mulai menurun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tren bearish masih cukup kuat dan belum ada tanda-tanda pembalikan arah dalam waktu dekat.

Alex Kuptsikevich mengatakan bahwa kondisi ini menjadi peringatan serius bagi para investor yang berharap Bitcoin segera kembali mencetak rekor baru. Menurutnya, konsolidasi yang terjadi sekarang merupakan salah satu pola yang cukup berbahaya bagi pelaku pasar bullish.

Apabila harga gagal mempertahankan area US$59.000 dan akhirnya menembus ke bawah, tekanan jual diperkirakan akan meningkat lebih besar. Dalam skenario tersebut, target penurunan berikutnya diperkirakan berada di kisaran US$40.000.

Level tersebut dinilai sebagai area support berikutnya berdasarkan struktur harga jangka panjang yang terbentuk dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, investor mulai memperhatikan area tersebut sebagai salah satu kemungkinan apabila tekanan jual terus berlanjut.

Di sisi lain, sebagian pelaku pasar masih berharap Bitcoin mampu bertahan di atas area konsolidasi saat ini. Jika berhasil menembus kembali level resistance penting dan kembali berada di atas moving average utama, peluang pemulihan tetap terbuka.

Indikator On-Chain Menunjukkan Tekanan Jual Masih Tinggi

Selain sinyal dari analisis teknikal, sejumlah data on-chain juga memperlihatkan bahwa kondisi pasar Bitcoin belum benar-benar pulih.

Analis CryptoQuant dengan nama samaran Darkfost mengungkapkan bahwa pemegang Bitcoin jangka panjang mulai menunjukkan tanda-tanda kapitulasi. Istilah kapitulasi mengacu pada kondisi ketika investor memutuskan menjual aset yang dimiliki meskipun berada dalam posisi rugi karena khawatir harga akan turun lebih dalam.

Fenomena tersebut umumnya muncul ketika kepercayaan investor mulai melemah. Mereka memilih mengurangi risiko daripada terus menahan aset di tengah ketidakpastian pasar. Meskipun fase kapitulasi sering kali menjadi awal terbentuknya dasar harga pada siklus sebelumnya, kondisi itu juga menandakan bahwa tekanan jual masih cukup besar dalam jangka pendek.

Darkfost menjelaskan bahwa pada beberapa siklus Bitcoin sebelumnya, kapitulasi pemegang jangka panjang memang kerap diikuti oleh proses akumulasi dari investor baru.

Aktivitas Jaringan Bitcoin Masih Lemah

Sinyal negatif juga terlihat dari aktivitas jaringan Bitcoin yang belum menunjukkan peningkatan signifikan. Jumlah alamat aktif harian dan volume transaksi masih berada di kisaran bawah dibandingkan beberapa bulan terakhir.

Rendahnya aktivitas blockchain menunjukkan bahwa minat investor untuk melakukan transaksi masih terbatas. Baik investor ritel maupun institusi terlihat belum kembali masuk ke pasar dalam jumlah besar. Akibatnya, permintaan terhadap Bitcoin masih belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan jual yang terus muncul.

Potensi Penjualan Bitcoin oleh Strategy Menjadi Sorotan

Faktor lain yang ikut membebani sentimen pasar datang dari Strategy, perusahaan yang dikenal sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia.

Dalam beberapa pekan terakhir, saham preferen perusahaan, STRC, sempat menyentuh titik terendah sepanjang sejarah di kisaran US$71. Sementara itu, saham biasa Strategy juga terkoreksi sekitar 25% dalam satu pekan hingga mencapai level terendah sejak Februari 2024.

Di tengah tekanan tersebut, perusahaan mengumumkan bahwa mereka berpotensi menjual Bitcoin senilai lebih dari US$1 miliar untuk memperkuat kondisi keuangan. Langkah ini cukup mengejutkan karena selama bertahun-tahun pendiri Strategy, Michael Saylor, dikenal sebagai sosok yang selalu menyuarakan strategi membeli dan menyimpan Bitcoin untuk jangka panjang.

Keputusan tersebut memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor. Pasalnya, apabila perusahaan benar-benar melepas sebagian cadangan Bitcoin dalam jumlah besar.

Faktor Makroekonomi Belum Memberikan Dukungan

Selain faktor internal pasar crypto, kondisi makroekonomi global juga masih menjadi tantangan bagi Bitcoin. Salah satu faktor yang paling banyak diperhatikan adalah penguatan dolar Amerika Serikat terhadap berbagai mata uang utama dunia.

Secara historis, dolar AS yang menguat cenderung memberikan tekanan terhadap aset berisiko seperti Bitcoin. Ketika nilai dolar meningkat, sebagian investor lebih memilih menyimpan dana dalam instrumen yang dianggap lebih aman dibandingkan aset dengan volatilitas tinggi.

Pada akhirnya, selama Bitcoin belum mampu kembali menembus area resistance utama dan bergerak di atas moving average 50 hari maupun 200 hari, tekanan bearish diperkirakan masih akan membayangi pergerakan harga.

Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan indikator teknikal, data on-chain, serta sentimen makroekonomi sebelum menentukan langkah investasi berikutnya. Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif.

Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version