Jakarta, Gizmologi – Apple kembali mencatatkan kinerja keuangan yang impresif pada kuartal III tahun fiskal 2026. Di tengah kondisi industri semikonduktor yang masih dibayangi keterbatasan pasokan chip memori, perusahaan asal Cupertino tersebut berhasil membukukan pendapatan sebesar US$109,4 miliar atau sekitar Rp1.792 triliun (kurs Rp16.390 per dolar AS). Angka tersebut meningkat 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Tak hanya dari sisi pendapatan, laba bersih Apple juga mengalami pertumbuhan signifikan. Perusahaan membukukan keuntungan sebesar US$29,8 miliar atau sekitar Rp488 triliun, naik 27% secara tahunan. Hasil ini menunjukkan permintaan terhadap produk dan layanan Apple masih tetap tinggi meski pasar smartphone global sedang menghadapi tantangan dari sisi pasokan komponen.
Kinerja positif tersebut terutama didorong oleh penjualan iPhone dan pertumbuhan bisnis layanan digital. Meski demikian, tidak semua lini bisnis mencatatkan kenaikan, karena penjualan iPad justru mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan Apple masih bergantung pada beberapa segmen utama, terutama iPhone dan layanan berlangganan.
Baca juga: Samsung Galaxy S27 Pro dan S27 Ultra Bakal Dibekali Baterai Lebih Besar?
Penjualan iPhone Masih Jadi Mesin Pertumbuhan
iPhone kembali menjadi penyumbang pendapatan terbesar Apple. Sepanjang kuartal yang berakhir pada 27 Juni 2026, lini smartphone tersebut menghasilkan pendapatan sebesar US$54,2 miliar atau sekitar Rp888 triliun, meningkat 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain iPhone, lini Mac juga mencatatkan performa yang cukup baik. Pendapatan dari komputer Mac mencapai US$10,3 miliar atau sekitar Rp169 triliun, tumbuh 29% secara tahunan. Sebaliknya, penjualan iPad turun tipis menjadi US$6,2 miliar atau sekitar Rp102 triliun, menandakan permintaan tablet belum sepenuhnya pulih.
Bisnis Layanan Terus Menguat
Segmen layanan atau Services juga kembali menjadi salah satu sumber pertumbuhan Apple. Divisi yang mencakup layanan cloud, konten digital, iklan, hingga layanan keuangan ini menghasilkan pendapatan US$30,7 miliar atau sekitar Rp503 triliun, sekaligus memperkuat posisi layanan digital sebagai bisnis dengan kontribusi yang semakin besar.
Apple juga mengungkapkan bahwa kini mereka telah memiliki 1,5 miliar pelanggan berbayar di berbagai platform layanannya. Sementara itu, kategori Wearables, Home, and Accessories mencatat pendapatan US$7,9 miliar atau sekitar Rp129 triliun, naik sekitar 7% dibandingkan tahun lalu.
Secara keseluruhan, laporan keuangan ini menunjukkan Apple masih mampu mempertahankan momentum pertumbuhan meski industri teknologi tengah menghadapi tekanan dari sisi rantai pasok. Namun, keberlanjutan performa tersebut akan tetap bergantung pada stabilitas pasokan komponen serta respons pasar terhadap produk-produk baru yang akan diluncurkan pada paruh kedua tahun ini.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

