Jakarta, Gizmologi – AppsFlyer, perusahaan atribusi dan analitik pemasaran, menemukan ad fraud yang telah dialami sebagian besar aplikasi mobile di Indonesia. Tercatat Indonesia mengalami kerugian hampir Rp500 miliar akibat ad fraud pada semester II/2021.
Hasil survei menemukan bahwa aplikasi keuangan alias fintech menjadi jenis aplikasi yang mengalami dampak paling serius dibanding lainnya. Temuan ini berdasarkan evaluasi dari 2.000 aplikasi mobile di seluruh vertikal seperti Fintech, Gaming, Belanja, F&B, dan Hiburan.
“Indonesia adalah salah satu dari dua negara dengan jumlah fraud iklan seluler [mobile ad fraud] tertinggi pada semester II/2021 di Asia Tenggara, setelah Vietnam, dengan jumlah kerugian mencapai hampir Rp500 miliar [setara US$34,1 juta],” ujar Senior Customer Success Manager APAC AppsFlyer Luthfi Anshari, Rabu (9/3).
Riset AppsFlyer juga mengindikasikan bahwa aplikasi Fintech, terutama layanan keuangan, aplikasi pinjaman dan perbankan, memiliki rata-rata tingkat fraud tertinggi, dengan nilai risiko lebih dari Rp350 miliar (US$25 juta). Hal ini terjadi seiring dengan meningkatnya instalasi aplikasi keuangan serta kehadiran 15 bank digital di Indonesia.
“Transformasi digital yang cepat dari sektor industri keuangan mendorong lebih banyak pelaku fraud untuk memanfaatkan celah di ranah aplikasi Fintech, ditunjukkan oleh tingkat fraud serta risiko rata-rata yang lebih tinggi dari kategori aplikasi lainnya,” jelasnya.
Penipuan Iklan Aplikasi atau Ad Fraud
Ad fraud sendiri merupakan fenomena kompleks yang melibatkan hacker, pasar gelap software, traffic brokers, dan publisher yang belum teredukasi dengan baik mengenai apa yang terjadi. Biasanya kejadian ini terjadi di negara dengan penegakan kejahatan siber yang lemah.
Secara global, potensi penipuan iklan diestimasi mencapai US$42 miliar dari pengeluaran iklan. Adapun anggaran belanja iklan digital akan telah meningkat dari $280 miliar di 2018 menjadi $330 miliar di 2019.
Baca Juga: Fintech Ajaib Kolaborasi dengan Polri Perkuat Cyber Security di Indonesia
Teknik penipuan iklan ini bermacam-macam, ada yang berupa pixel stuffing, ad stacking, location fraud, cookie stuffing, user-agent spoofing, domain spoofing, dan lain-lain. Namun yang paling umum adalah nonhuman traffic dan domain spoofing.
“Taktik yang paling umum dilakukan menggunakan distribusi bot, yakni upaya untuk mensimulasikan klik iklan, instalasi, dan in-app engagement. Termasuk menyamar sebagai pengguna yang sah, sehingga mampu menguras sumber daya iklan untuk pengguna palsu yang tidak memiliki nilai profit nyata.
Taktik penipuan iklan atau ad fraud lainya yang cukup sering dilakukan adalah mengirimkan sejumlah besar laporan klik palsu dan bertujuan tujuan mengambil keuntungan dari anggaran pemasaran aplikasi. Mengingat memasuki kuartal II/2022, para marketer aplikasi sudah mulai mengkampanyekan platform milik mereka.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

