GSMA Dapat Dana US$1,2 Juta dari NOAA, Perkuat Sistem Peringatan Dini Berbasis Seluler di Pasifik

By
4 Min Read

GSMA resmi mengamankan subhibah senilai US$1,2 juta dari Badan Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) untuk memperkuat sistem peringatan dini berbasis jaringan seluler di sembilan negara kepulauan Pasifik. Dana ini akan dipakai untuk menghadirkan peringatan darurat lewat teknologi cell broadcast, sehingga warga bisa menerima peringatan bencana lebih cepat dan tahu langkah apa yang harus diambil.

Sistem peringatan dini bekerja dengan dua hal utama, yakni memberi tahu warga sebelum bencana datang dan memberi instruksi yang jelas tentang apa yang harus dilakukan. Di titik inilah jaringan seluler berperan sebagai saluran langsung ke orang-orang yang berada di zona berisiko. Peringatan bisa dikirim ke banyak orang sekaligus, tanpa perlu menunggu panggilan atau pesan singkat yang sering macet saat keadaan darurat.

Sembilan negara penerima manfaat adalah Kepulauan Cook, Fiji, Kiribati, Nauru, Niue, Samoa, Kepulauan Solomon, Tuvalu, dan Vanuatu. Lewat cell broadcast, lembaga yang berwenang bisa mengirim peringatan darurat secara serentak ke ponsel yang kompatibel di area tertentu. Pesannya sampai dalam hitungan detik, dan tidak terhambat kepadatan jaringan seperti yang sering terjadi pada panggilan maupun SMS.

Kimberly Brown, Head of Mobile for Humanitarian Innovation & Emerging Tech di GSMA, menyatakan bahwa jaringan seluler adalah saluran penting untuk menyampaikan informasi penyelamatan jiwa sebelum bencana terjadi. Ia menilai pendanaan dari NOAA ini akan mempercepat penerapan sistem peringatan dini berbasis seluler di sembilan negara tersebut, sekaligus memperkuat kemitraan yang sudah berjalan lama antara pemerintah, operator seluler, dan berbagai pihak lain.

Baca juga: GSMA: 5G Indonesia Masih 4%, Diproyeksi Tembus 28% pada 2030

Cell Broadcast dan Peran Operator Seluler dalam Proyek GSMA

Kimberly Brown, Head of Mobile for Humanitarian Innovation & Emerging Tech GSMA

Pendanaan ini tidak berdiri sendiri. GSMA memulai kerja sama di kawasan ini sejak 2025 bersama Pacific Islands Telecommunications Association (PITA) dan Omnitouch Network Services. Kerja sama itu mempertemukan operator seluler, lembaga meteorologi, regulator, badan PBB, dan pemerintah untuk membangun sistem peringatan dini seluler di seluruh kawasan Pasifik.

Dalam proyek ini, GSMA memimpin kegiatan cell broadcast di bawah Pacific Multi-Hazard Early Warning Systems Communication & Tools Project. Pekerjaan dilakukan bersama University Corporation for Atmospheric Research (UCAR) melalui program COMET, sementara Weather Ready Pacific Program berperan memberi dukungan teknis dan koordinasi regional.

GSMA juga menilai teknologi seluler tidak boleh berjalan sendirian. Peringatan lewat ponsel sebaiknya dipadukan dengan radio, televisi, dan saluran berbasis komunitas, agar pesan tetap sampai kepada warga yang memiliki akses komunikasi berbeda-beda. Menurut GSMA, sistem yang efektif membutuhkan kebijakan yang jelas, koordinasi antara otoritas publik dan operator, serta pesan yang mudah dipahami dan bisa langsung ditindaklanjuti masyarakat.

Selain itu, proyek ini ikut mendukung inisiatif Early Warnings for All. Lewat program Mobile for Humanitarian Innovation, GSMA dan tim regionalnya bekerja dengan mitra di berbagai kawasan untuk memperkuat peringatan berbasis seluler. Upaya ini juga melanjutkan kemitraan lama dengan Foreign, Commonwealth & Development Office Inggris.

Author

Ronggo

Verba Volant, Scripta Manen.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Turn on JavaScript to leave a comment.

Exit mobile version