Jakarta, Gizmologi – Kaspersky hadirkan riset atau studi terbaru yang mengungkapkan tentang pengaturan keamanan perangkat keluarga di Indonesia. Dari hasil riset tersebut ditemukan bahwa hanya 38% pengguna Indonesia yang sepenuhnya sudah mengatur keamanan perangkat keluarga mereka.
Secara global terdapat 47% telah berbicara tentang keamanan online. Namun hanya 33% yang mengamankan semua perangkat keluarga mereka.
Khususnya di Indonesia, angka yang ditunjukan dari data Kaspersky cukup berbeda. Persentase kedua indikator dikatakan lebih besar namun tetap menunjukan kesenjangan.
Baca Juga: Kaspersky Ungkap Kampanye SilverFox, Perusahaan Indonesia Jadi Target Phishing Berkedok Pajak
Edukasi Keamanan Perangkat Sudah Tinggi Angkanya
Data Kaspersky sebut 53% mendiskusikan mengenai keamanan online, namun hanya 38% yang mengamankan seluruh perangkat keluarga mereka. Statistik ini menyoroti kebutuhan mendesak akan peran “Manajer Digital Keluarga (Family Digital Manager)” yang berdedikasi.
Keamanan perangkat yang sudah sering diberikan edukasinya membentuk beberapa orang di dalam satu keluarga menjadi Manajer Digital Keluarga. Posisi yang tidak resmi ini biasanya bertanggung jawab untuk mengelola langganan, menyiapkan perangkat baru, atau memikirkan perlindungan siber.
Kaspersky telah melakukan survei untuk mengetahui langkah-langkah apa yang diambil keluarga modern untuk tetap aman secara online. Menurut data Kaspersky, sebagian besar responden global mengadopsi pendekatan edukatif terhadap keamanan siber dalam keluarga mereka.
Yaitu 47% secara teratur melatih kerabat lanjut usia dan anak-anak tentang praktik online yang aman. Lalu 45% menyarankan anggota keluarga untuk mengadopsi solusi pengelola kata sandi untuk keamanan perangkat mereka.
42% mendorong penggunaan otentikasi multi-faktor (MFA). Sebanyak 42% juga secara aktif meninjau dan menyesuaikan pengaturan privasi pada perangkat keluarga dan akun online penting.
Khusus di Indonesia persentasenya lebih tinggi, 53% secara teratur melatih kerabat lanjut usia dan anak-anak tentang praktik online yang aman. Sedangkan 65% menyarankan anggota keluarga untuk mengadopsi solusi pengelola kata sandi.
Lalu, 49% mendorong penggunaan otentikasi multi-faktor (MFA). Serta sebanyak 50% secara aktif meninjau dan menyesuaikan pengaturan privasi pada perangkat keluarga dan akunonline penting.
Meskipun kesadaran akan pentingnya perlindungan digital yang proaktif dan berfokus pada keluarga semakin meningkat, trennya sedikit berbeda ketika menyangkut implementasi solusi keamanan. 10% responden sama sekali tidak mengambil tindakan untuk melindungi orang yang mereka cintai secara online, meningkat menjadi 21% di antara mereka yang berusia 55 tahun ke atas.
Untuk Indonesia, hanya 4% responden yang sama sekali tidak mengambil tindakan untuk melindungi keluarga mereka secara online. Angka yang paling mengkhawatirkan adalah hanya 33% responden – hanya 1 dari 3 – yang memasang solusi keamanan di semua perangkat anggota keluarga.
Di Indonesia, persentase menunjukkan lebih tinggi yaitu 38%, namun ini masih memerlukan peningkatan. Pakar Kaspersky menyoroti bahwa lanskap ancaman saat ini menunjukkan bahwa perangkat seluler dan tablet serta PC semuanya membutuhkan perlindungan siber yang komprehensif, karena sering menjadi target penjahat siber.
Penelitian juga menunjukkan bahwa generasi yang lebih tua (55+) umumnya kurang terlibat dalam kebiasaan keamanan keluarga. Sekitar 1 dari 5 (21%) dari kelompok usia ini tidak mengambil tindakan apa pun untuk melindungi keluarga mereka secara online dan hanya seperempat (24%) yang memasang solusi keamanan untuk anggota keluarga. Langkah keamanan yang paling populer di antara mereka ternyata adalah pengelola kata sandi, karena 40% dari kelompok usia ini merekomendasikan anggota keluarga mereka untuk menggunakannya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
