Ternyata Karyawan Perusahaan Teknologi Takut dengan Ancaman AI

4 Min Read
ilustrasi pekerjaan (Foto: Pexels/Mikhail-nilov)

Jakarta, Gizmologi – Dalam laporan Jobstreet by SEEK terbaru juga mengungkap karyawan perusahaan teknologi takut dengan ancaman AI atau kecerdasan buatan. Laporan ini bertajuk “Workplace Happiness Index” yang dibuat berdasarkan hasil riset Nature pada bulan Oktober hingga November 2025 terhadap sekitar 1.000 individu di pasar kerja Indonesia dengan rentang usia 18 hingga 64 tahun.

Laporan ini terlihat bahwa sektor teknologi memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi mencapai 93%. Alasan para pekerja di perusahaan teknologi ini bahagia karena rasa bangga akan tempat kerja dan kejelasan tujuan perusahaan.

Meski begitu para karyawan di perusahaan teknologi ini juga merasakan adanya ancaman AI. Seperti yang diketahui AI telah berkembang dan sangat membantu gerak pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Bahkan beberapa pekerjaan sudah tergantikan dengan teknologi ini, sehingga muncul ancaman AI di beberapa pekerja.

Baca Juga: Para Pekerja di Indonesia Bahagia di Tempat Kerja, Apa Alasannya?

Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director untuk Indonesia, Jobstreet by SEEK

Dengan canggihnya teknologi ini, membuat sebanyak 42% pekerja merasa AI mengancam keamanan pekerjaan mereka. Khusus karyawan di perusahaan teknologi terdapat 54% merasa khawatir dengan adanya teknologi ini.

“Kekhawatiran terhadap AI merupakan ‘alarm’ bagi para pemberi kerja untuk bertindak proaktif. Kebahagiaan yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika perusahaan mampu menyeimbangkan target bisnis dengan kesejahteraan mental karyawan,” ujar Wisnu Dharmawan, Acting Managing Director untuk Indonesia dari Jobstreet by SEEK, di kantor, Jakarta Selatan, Selasa (3/2).

Selain Ancaman AI, Pekerja juga Pernah Alami Burnout

ilustrasi AI (foto:123rf everythingpossible)

Sebanyak 43% pekerja juga merasa lelah secara mental (burnout) atau kehabisan tenaga. Ironisnya, 40% dari mereka yang mengaku bahagia ternyata juga merasakan burnout di bawah permukaan. Serta 90% karyawan yang meski mengalami kekhawatiran dan burnout mengaku tetap termotivasi untuk maju di tempat kerja. 

Bila dijelaskan secara rinci, setiap generasi pekerja juga memiliki ukuran dan faktor kebahagiaan mereka sendiri. Laporan Jobstreet by SEEK menyebutkan Gen X, generasi ini mendapatkan tingkat kebahagiaan mencapai 85%. Faktor pendorong mereka bahagia di tempat kerja ialah karena tanggung jawab dan pekerjaan (78%), tim dan kolega (74%), dan manajer (65%).

Lalu ada Gen Y (milenial) yang mencapai tingkat kebahagiaan 84%. Faktor pendorong pekerja di generasi ini ialah karena work-life balance (76%), budaya perusahaan (74%), dan job security (73%).

Ilustrasi bekerja dengan AI (Sumber: Freepik)

Gen Z mendapati posisi terakhir sebagai pekerja di Indonesia yang bahagia di tempat kerja. Tingkat kebahagiaan mereka 74% dengan faktor pendorongnya work-life balance (69%), opsi Work From Home (69%), dan tujuan kerja yang bermakna (68%).

Melalui laporan ini, Jobstreet by SEEK mendorong perusahaan untuk fokus pada tiga strategi utama yaitu membangun makna kerja bagi setiap level karyawan, mendukung batasan kehidupan pribadi melalui fleksibilitas, serta mendengarkan kebutuhan spesifik antar-generasi. Jobstreet by SEEK mengingatkan, penting bagi perusahaan serta jajaran manajemen untuk menjadi garda terdepan dalam meruntuhkan sekat komunikasi dan menciptakan lingkungan yang inklusif agar kandidat terbaik tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Dengan begitu mungkin pekerja di Indonesia kedepannya tidak merasakan ancaman AI di sekitar mereka.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version