Telkomsel Enterprise melalui solusi DigiAds meluncurkan laporan Ramadan Insight 2027 dengan pesan utama yang jelas: konsumen Indonesia makin selektif, tetapi peluang belanja selama Ramadan tetap besar. Kategori seperti fesyen, FMCG, perjalanan, dan kebutuhan Idulfitri masih mencatat permintaan tinggi, sehingga pengiklan perlu menyiapkan strategi sejak sekarang, meski Ramadan 2027 masih beberapa bulan lagi.
Laporan ini menyebutkan bahwa persaingan tidak lagi ditentukan oleh seberapa sering sebuah merek terlihat. Yang menentukan adalah relevansi. Merek harus hadir sesuai kebutuhan konsumen yang terus berubah, mulai dari fase adaptasi di awal puasa, momen buka bersama dan silaturahmi, hingga perjalanan mudik menjelang lebaran.
Berdasarkan data telco insight Telkomsel, Ramadan tidak berjalan seragam. Selama 30 hari, konsumen bergerak dalam tiga ritme yang berbeda, dan setiap ritme membuka peluang yang berbeda bagi setiap industri. Ritme ini menjadi kerangka utama dari laporan yang juga bisa diunduh di sini.
Laporan ini dipaparkan dalam forum Ramadan Insight 2027 yang digelar di Jakarta (16/10) tempo hari. Forum tersebut mempertemukan biro iklan, pengiklan, pemilik merek, dan praktisi industri, dengan pembicara dari Telkomsel, Meta, Nestlé, dan WPP.
Baca juga: Telkomsel dan Canva Hadirkan Paket Bundling Pro Lite untuk Akselerasi Kreativitas Digital
Telkomsel Sebut Ada Tiga Ritme Ramadan 2027
Sepuluh hari pertama disebut sebagai momen beradaptasi dan mencari inspirasi. Pada fase ini, trafik seluler saat sahur naik 77%, penggunaan layanan video dan streaming tumbuh 38%, dan konsumsi konten religi meningkat 63% dibanding hari biasa. Pola ini membuka ruang bagi merek untuk hadir dengan konten yang relevan, sekaligus menjadi bagian dari rutinitas baru konsumen selama puasa.
Memasuki sepuluh hari kedua, perhatian konsumen beralih ke buka puasa bersama dan persiapan kebutuhan keluarga menjelang Idulfitri. Penggunaan aplikasi transportasi naik 58%, aplikasi belanja kebutuhan harian dan ritel tumbuh 32%, dan kunjungan ke pusat perbelanjaan naik 19%. Menariknya, 88% konsumen yang belanja kebutuhan Ramadan masih memilih datang langsung ke toko fisik. Artinya, kampanye digital harus terhubung dengan kunjungan ke gerai, supaya pembelian tidak lari ke merek lain.
Pada sepuluh hari terakhir, kebutuhan bergeser ke persiapan mudik dan kebersamaan keluarga. Akses ke aplikasi perjalanan naik 32%, dan 73%pemudik tercatat singgah di rest area untuk beristirahat, beribadah, dan makan. Fase ini memberi peluang bagi merek untuk hadir lewat informasi dan penawaran yang sesuai dengan perjalanan konsumen.
Dengan memahami ketiga ritme tersebut, pengiklan bisa menentukan pesan, kanal, dan waktu tayang yang paling pas untuk setiap fase. Pendekatan ini, menurut laporan, jauh lebih efektif dibanding sekadar menambah jumlah iklan.
Strategi Telkomsel DigiAds untuk Kampanye Ramadan 2027
Telkomsel DigiAds menyiapkan rangkaian solusi iklan Ramadan 2027 yang mencakup pesan kontekstual saat konsumen sedang mencari inspirasi, komunikasi berbasis lokasi yang menghubungkan interaksi digital dengan kunjungan ke toko, integrasi merek dalam tayangan spesial Ramadan di MAXStream, hingga kehadiran di titik-titik perjalanan mudik. Salah satu hasil yang dipamerkan adalah pesan kontekstual yang dikirim pada momen relevan mampu meningkatkan rasio klik hingga 2,6 kali lipat.
“Brand yang menang di Ramadan bukan yang paling lantang, melainkan yang paling memahami ritme konsumennya. Kebutuhan konsumen pada awal Ramadan sangat berbeda dengan kebutuhan mereka menjelang Idulfitri,” ujar Mia Melinda, VP Corporate Innovation, Sustainability, Marketing, and Digital Advertising Telkomsel.
Telkomsel juga menegaskan bahwa seluruh insight disusun dari data yang sudah diolah secara agregat dan dianonimkan. Tidak ada data pelanggan yang diidentifikasi secara pribadi, sesuai prinsip perlindungan data pribadi yang diterapkan perusahaan. Hal ini penting untuk dicatat, mengingat kampanye berbasis data pengguna kini semakin sensitif bagi konsumen.
Bagi pelaku usaha yang ingin menyusun rencana Ramadan lebih awal, laporan lengkap ini menjadi bahan rujukan yang cukup padat. Persiapan sejak sekarang dinilai bisa membantu merek menghindari kampanye yang terburu-buru dan tidak sesuai ritme konsumen ketika bulan puasa benar-benar tiba.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

