Xendit: Konsumen Indonesia Kini Semakin Meninggalkan Pembayaran Tunai

By
Prasetyo Herfianto - Editor | Tech Reviewer
5 Min Read

Perkembangan teknologi juga turut mengubah kebiasaan bagaimana masyarakat bertransaksi dalam keseharian, mulai dari menggunakan metode pembayaran seperti QRIS, hingga berbelanja secara daring yang tentu saja juga turut menggunakan opsi non-tunai. Dan dari laporan terbaru Xendit, ditemukan bila metode pembayaran yang lengkap menjadi kunci transaksi daring yang bisa terlaksana.

Sebagai perusahaan penyedia infrastruktur pembayaran, Xendit bekerjasama dengan Cube meluncurkan sebuah laporan khusus yang menggabungkan data transaksi Xendit bersama hasil survei terhadap 6000 konsumen di enam negara—1000 di antaranya termasuk responden di Indonesia. Nazim Ali, Presiden Xendit mengatakan bila dalam temuannya, konsumen Indonesia semakin meninggalkan pembayaran tunai.

“Laporan kami menunjukkan bahwa alasan utama konsumen membatalkan pembelian adalah tidak tersedianya metode pembayaran yang mereka inginkan. Kuncinya bukan sekadar menyediakan berbagai metode pembayaran, tetapi juga memahami tren penggunaan dan pertumbuhan metode pembayaran, serta peluang bisnis yang mengiringinya,” jelas Nazim.

Baca juga: Riset GrabAds: Masyarakat Kini Lebih Eksploratif Memilih Brand F&B Lewat GrabFood

Pembayaran Melalui QRIS Naik, Dompet Digital Masih Mendominasi Transaksi

Kemudahan metode pembayaran daring memungkinkan masyarakat untuk bisa melakukan transaksi secara langsung alias real-time, dan hal ini tentu lebih diminati oleh mereka atas kepraktisan yang ditawarkan. Dari laporan Xendit, sebanyak 51% responden di Indonesia mengaku membatalkan pembelian daring dalam tiga bulan terakhir dengan alasan utama karena tidak ada metode pembayaran yang mereka pilih.

Dari keenam negara, persentase tersebut yang paling tinggi dibandingkan negara lainnya, mengindikasikan bila masyarakat Tanah Air benar-benar memilih untuk bertransaksi di merchant atau toko yang menyediakan metode pembayaran sesuai preferensi mereka. Sementara itu, penggunaan metode pembayaran real-time terus meningkat, dengan transaksi lewat QRIS naik sampai 142% di platform Xendit (rentang waktu Januari 2025 hingga April 2026).

Pada periode yang sama, transaksi dengan kartu kredit juga tumbuh 83%, sementara metode transfer bank yang menjadi salah satu metode pembayaran real-time utama, diperkirakan digunakan dalam 52% dari total pembelian yang dilakukan oleh responden survei Xendit.

Dalam melakukan transaksi secara daring, pembayaran melalui dompet digital masih jadi yang paling banyak digunakan, mencapai sekitar 60% dari total responden. Lebih lanjut, 70% di antaranya menyebutkan kalau mereka menggunakan dompet digital untuk setidaknya separuh dari transaksi pembelian. Menariknya, di antara GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay, tidak ada yang lebih mendominasi.

Dan kemudahan bertransaksi secara daring dan real-time juga membuat metode pembayaran lain seperti cash on delivery (COD) menurun, di mana setidaknya kini 4 dari 10 responden di Indonesia mengaku jauh lebih jarang menggunakannya dibandingkan satu tahun lalu. Namun justru bukan kemudahan yang membuat mereka berganti metode—diskon atau cashback menjadi alasan utama konsumen beralih.

Tidak hanya dua poin yang sudah disebutkan, masih ada sejumlah faktor lain yang membuat konsumen beralih ke metode pembayaran real-time. Dua di antaranya adalah proses pengembalian dana yang lebih cepat, hingga keamanan pembayaran.

Xendit Hadir dengan Strategi Menyeluruh Untuk Konsumen

Laporan Xendit juga sebutkan bila penjualan di ketiga platform e-commerce terbesar di Asia Tenggara (Shopee, Lazada, dan TikTok Shop), naik sekitar 33% di kuartal pertama tahun ini, dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Untuk itu, pelaku usaha akan lebih berisiko kehilangan konsumen atau penjualan, bila tidak menyediakan metode pembayaran yang diinginkan konsumen, seiring dengan meningkatnya tren transaksi daring.

Dalam usahanya memenangkan hati konsumen, Xendit terus berupaya untuk terus membangun apa yang diinginkan oleh konsumen. Disebutkan bila mereka tidak hanya berfokus pada kemudahan bertransaksi hingga aspek biaya, tetapi juga proses pembayaran secara menyeluruh, termasuk pengembalian dana dan sebagainya.

 “Kami harus tahu siapa konsumen kami, apa masalah yang mereka hadapi, dan kami hadir sebagai penyedia solusi. Jika saya menggunakan Xendit, dapatkah saya dengan mudah mendapatkan pemberitahuan jika ada sesuatu yang salah? Apakah mudah untuk mendapatkan pengembalian dana? Berapa jangka waktu penyelesaiannya? Semua itu berkaitan dengan biaya, bukan hanya harga, tetapi juga transaksi. Itulah nilai yang selalu kami berikan kepada pelanggan,” tutup Nazim.

Author

Prasetyo Herfianto

Tech reviewer & nasi goreng enthusiast. Editor at Gizmologi.


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Turn on JavaScript to leave a comment.

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version