Review Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra: Upgrade pada Area Penting

15 Min Read
8.8
Review Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra

Untuk pertama kalinya, tahun ini Samsung menghadirkan tiga varian foldable berbeda, dan masing-masing memiliki form factor yang juga berbeda. Adanya Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra rasanya lebih pantas dianggap hadir sebagai penerus Z Fold7 yang sebenarnya. Sementara versi standar kini hadir menawarkan bentuk baru untuk konsumen yang juga berbeda.

Ya, ketika iPhone Ultra dikabarkan bakal hadir dengan dimensi lebih kompak dan lebar mengikuti langkah Huawei, Samsung seolah curi start dengan menghadirkan Galaxy Z Fold8, yang terlihat menyegarkan sembari tetap membawa keandalan khas foldable Samsung. Lantas apakah langsung membuat Galaxy Z Fold8 Ultra terlihat membosankan? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung aspek apa saja yang membuat Gizmo friends tertarik pada sebuah foldable.

Menjadi opsi tertinggi, Galaxy Z Fold8 Ultra tetap menjadi pilihan utama mereka yang mendambakan foldable terbaik Samsung untuk mendukung produktivitas, hingga konten kreator yang membutuhkan setup kamera lebih komplit demi membantu proses produksi. Apa saja peningkatannya, dan apakah layak sesuai dengan kenaikan harganya? Berikut review Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra selengkapnya.

Desain

Secara fisik, saya nggak bisa bedain desain Galaxy Z Fold8 Ultra dengan Z Fold7 sebelumnya. Tapi ya, lumrah saja, karena yang sebelumnya baru saja hadir membawa perombakan signifikan, dengan bodi jauh lebih tipis dan ringan. Secara angka memang masih sama, dengan bobot yang sama-sama 215 gram. Alias hampir 20 gram lebih ringan dari iPhone 17 Pro Max.

Namun ketika lipatan dibuka, Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra punya ketebalan hanya 4,1mm. Apakah ada peningkatan dari segi desain? Ada kok, sekarang hinge terasa lebih mudah dan lebih halus saat dibuka-tutup. Sembari tetap menawarkan fleksibilitas Flex Mode yang menurut saya masih lebih superior dibandingkan foldable sekelasnya.

Bodi belakang terbuat dari kaca dengan proteksi Gorilla Glass Victus 2, sementara layar depan terlindung Gorilla Glass Victus 3. Sisanya menggunakan material Armor Aluminum yang diklaim lebih kuat dibandingkan aluminum standar, juga tetap bawa sertifikasi IP48 yang membuatnya tahan dari debu maupun air.

Kalau mau kelihatan pakai foldable Samsung generasi terbaru, Gizmo friends bisa memilih opsi warna yang tidak tersedia di Z Fold7. Termasuk warna Violet Shadow yang saya ulas satu ini, punya daya pikat tersendiri karena intensitas warna ungunya cenderung rendah, namun bisa meningkat ketika terkena pantulan sinar di sekitarnya.

Overall, desain Galaxy Z Fold8 Ultra masih sama-sama terlihat tipis, terasa ringan, namun kini semakin solid sembari memberi impresi profesional lewat sudut-sudut yang tegas. Terkadang masih sulit dipercaya ketika perangkat setipis dan seringan ini hadir menawarkan dua opsi layar lega, padahal ketebalannya hanya berbeda 0,1mm saja bila dibandingkan flagship candybar Apple.

Layar

Sekilas spesifikasi di atas kertas masih sama seperti generasi sebelumnya, di mana layar Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra memiliki ukuran 6,5 inci di luar, dan 8 inci di dalam. Keduanya sama-sama mengusung panel Dynamic LTPO AMOLED 2X, serta mendukung refresh rate 120Hz. Namun layar utamanya kini punya resolusi lebih tinggi dan tingkat kecerahan maksimum 3000 nits—meski bukan hanya ini saja aspek yang membuat layarnya makin superior.

Samsung akhirnya menyematkan lapisan anti-reflektif yang sebelumnya hadir di Galaxy S Ultra terbaru, ke layar utama Galaxy Z Fold8 Ultra. Hasilnya? Tentu pantulan sinar matahari jadi berkurang, membuatnya semakin mudah untuk terlihat jelas terutama saat digunakan di luar ruangan. Selain itu, ada teknologi Flex Titanium yang nggak cuma bikin struktur layar lebih kuat, tapi juga mengurangi crease atau bekas lipatan.

Ya, akhirnya crease layar Galaxy Z Fold8 Ultra sudah bisa dibuat setara atau mendekati foldable anyar lainnya, jauh lebih nggak kelihatan dibandingkan generasi sebelumnya, begitu pula saat disentuh. Awalnya saya berasumsi kalau crease tidak bisa dibuat lebih landai karena foldable Samsung punya mekanisme lipat lebih fleksibel (alias bisa dibuka dalam berbagai sudut yang lebih luas). Ternyata asumsi saya terbantahkan dengan baik.

Untuk kualitas panel, tak perlu diragukan lagi; tajam, vibrant sekaligus akurat. Rasio layar luarnya memang tidak begitu lebar, tapi sudah lebih dari cukup untuk mengetik dengan nyaman. Sementara layar utama memang lebih pas digunakan untuk jalankan lebih dari satu aplikasi, atau memanfaatkan Flex Mode. Satu aplikasi juga bisa maksimal untuk baca buku atau akses dokumen, tapi kalau nonton serial dengan rasio lebar, jadi banyak “ruang hitam” yang tersisa.

Kamera

Satu perbedaan utama, apakah lantas kualitas kameranya masih sama-sama saja? ya, bisa dibilang setup kamera Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra masih identik dengan Z Fold7, ada dua sensor 10MP pada masing-masing layar, serta tiga setup kamera di belakang dengan sensor utama 200MP ISOCELL HP2.

Perbedaan utama secara hardware, ada pada sensor ultra-wide, yang akhirnya mengusung sensor lebih superior dalam resolusi 50MP f/1.9. Memang, besaran resolusi tidak menjadi satu-satu jaminan peningkatan kualitas. Namun dari berbagai tangkapan foto yang sudah diambil, peningkatannya terlihat baik secara ketajaman, hingga kecerahan dalam kondisi low-light—yang mungkin juga ditingkatkan lewat pemrosesan gambar terbaru.

Sensor 200MP Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra terbilang andal untuk menangkap momen dari berbagai kondisi pencahayaan. Yang menurut saya kurang terasa “ultra”, ada pada sensor telefoto 10MP 3x optical zoom-nya. Bukan perihal besaran optikalnya, namun sensor yang digunakan tergolong sangat kecil—berpengaruh terhadap kemampuan smartphone untuk menangkap cahaya, yang akhirnya tidak bisa menghasilkan detail optimal atau noise lebih minim.

Saya rasa, lebih baik bagi Samsung untuk mengoptimalkan kemampuan lossless zoom dari sensor utamanya – seperti apa yang mereka lakukan pada Galaxy S25 Edge – dan mengganti setup telefoto Galaxy Z Fold8 Ultra dengan sensor baru atau jarak pembesaran optikal lebih jauh. Sehingga lebih terasa pantas menyandang nama “ultra”.

Meski begitu, sensor telefoto Galaxy Z Fold8 Ultra masih tergolong bermanfaat untuk menangkap momen atau obyek dari kejauhan (sembari menjadi nilai plus dibandingkan versi standar). Dan rasanya berkat algoritma pemrosesan kamera baru, kualitas digital zoom juga meningkat, masih tergolong oke walau gunakan rentang 10-20x zoom pada kondisi pencahayaan tertentu. 

Hasil foto lengkap dari kamera Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra, bisa Gizmo friends akses melalui album berikut ini ya.

Setup kamera Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra juga tergolong memadai dan memudahkan pembuatan konten video. Semua sensor kamera mendukung perekaman 4K60, dan khusus sensor utama serta ultra-wide bisa sampai 8K30. Mode pro? Ada, dengan opsi frame-rate lebih variatif dan parameter manual lainnya. Codec APV? Ada, diturunkan dari Galaxy S26 Ultra. Sampai opsi LOG dengan LUT eksternal hingga Super Steady with Horizontal Lock.

Impresi perekaman videonya mirip seperti saat mengambil gambar. Kurang lebih, merekam dengan sensor utama dan ultra-wide tergolong memuaskan, baik dari segi visual hingga stabilisasi. Dan tentunya vlogging menggunakan kedua kamera tersebut dimungkinkan berkat fleksibilitas penggunaan layar luarnya. Sementara untuk zoom, ada baiknya hanya pada kondisi pencahayaan berlimpah saja.

Form factor yang fleksibel membuat perekaman sangat mudah, tidak melulu memerlukan alat bantu. Fitur AI seperti MyFancam hingga Audio Eraser juga tentu membantu untuk hasilkan video yang lebih sesuai dengan keinginan.

Fitur

Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra hadir dengan One UI 9 berbasis Android 17, dan dijanjikan siap mendapatkan hingga 7 kali pembaruan versi Android ke depannya. Aspek ini membuat Samsung jadi yang paling unggul dalam hal pembaruan perangkat lunak, bisa menyamai smartphone rilisan Google sendiri. 

Sementara bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya, One UI 9 tidak bawa perubahan yang begitu banyak, meski memang tampilan antarmuka hingga pilihan menu di dalam Settings terlihat lebih rapih. Selain Now Brief yang kini lebih bermanfaat dengan custom card, Now Nudge juga bisa dimanfaatkan untuk pemberian saran balasan pesan teks, hingga secara proaktif menyarankan pencatatan tanggal tertentu.

Selebihnya, banyak fitur-fitur Galaxy AI yang memudahkan keseharian termasuk mendukung produktivitas, mulai dari transkrip rekaman suara hingga editor foto yang dapat diandalkan, memanfaatkan AI generatif. Yang menjadi pembeda Galaxy Z Fold8 Ultra dengan varian standar, adalah hadirnya Flex Mode. Ya, pada varian Ultra, kamu bisa menekuk layar utama pada besaran sudut tertentu, dan setengah layar otomatis berubah menjadi kontrol media, kendali kamera, hingga trackpad virtual. Semua ini tidak dapat ditemukan di Z Fold8 standar.

Multitasking juga terasa lebih fleksibel pada rasio layar utama Galaxy Z Fold8 Ultra, jadi pastikan bila Gizmo friends telah mengetahui poin-poin ini sebelum menentukan untuk membeli foldable Samsung terbaru, sesuaikan dengan skenario penggunaan. Oh ya, slot kartu SIM fisiknya kini hanya satu. Dengan kata lain, harus menggunakan eSIM untuk nomor sekunder agar bisa aktif bersamaan.

Kualitas speaker stereo Galaxy Z Fold8 Ultra tergolong bagus, terutama dalam profil yang sangat ramping. Quick Share terbaru juga memungkinkan transfer file ke perangkat Apple alias kompatibel dengan protokol AirDrop. Dan pada setiap pembelian, Samsung berikan gratis 6 bulan Google AI Pro lengkap dengan penyimpanan cloud 5TB yang cukup bermanfaat.

Performa

Sama seperti Galaxy S26 Ultra, Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra juga hadir dengan cip terbaik Qualcomm saat ini, yakni Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy—imbuhan terakhir mengindikasikan versi spesial dengan clockspeed yang ditingkatkan. Dan sama seperti sebelumnya, selain punya opsi RAM dan penyimpanan lega, juga gunakan solusi lembar grafit sebagai sistem pendingin.

Dengan kata lain, Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra tidak punya vapor chamber khusus. Namun selama pemakaian, baik saat sedang multitasking secara intensif sekalipun, tetap terasa responsif dan tidak pernah panas berlebih sama sekali. Bahkan hangat pun relatif jarang. Meski memang, ada indikasi throttling, namun masih relatif wajar untuk sebuah smartphone non-gaming, terutama dalam form factor setipis ini.

Dibandingkan generasi sebelumnya, ketika digunakan di luar ruangan, layar bisa menyala cerah lebih lama, mengindikasikan chipset yang lebih efisien. Dengan begitu, aspek yang satu ini dibuat matang, sesuai peruntukkan Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra yang memang hadir untuk mendukung kebutuhan produktivitas paling demanding sekalipun—sesuai dengan imbuhan pada nama perangkat.

Baterai

Bagian ini menurut saya menjadi salah satu yang peningkatannya terasa signifikan. Ya, kapasitas baterai Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra naik dari 4.400 mAh menjadi 5.000 mAh, alias hampir 14%, pertama kalinya memanfaatkan material silicon-carbon (selain pertama kalinya naik kapasitas sejak Galaxy Z Fold3!). Secara angka, memang masih di bawah foldable vivo, OPPO, hingga Motorola. Namun perlu diingat, ketebalan dan bobot foldable Samsung terbaik 2026 satu ini juga jadi yang paling “kecil”.

Kabar baiknya, masa pakai Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra terasa jauh lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Terutama bila Gizmo friends melakukan upgrade dari 2-3 generasi sebelumnya, sudah tidak perlu lagi melakukan usaha-usaha ekstra seperti mengaktifkan mode hemat daya atau hanya menggunakan cover screen. Mau aktif pakai layar utama, sepanjang hari pun, baterai masih tersisa untuk keesokan paginya.

Standby time smartphone ini tergolong baik, begitu pula ketika digunakan untuk konsumsi konten digital. Impresi saya menggunakan Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra, terasa mirip seperti ketika mengulas OPPO Find N5 tahun lalu, yang notabene punya kapasitas baterai lebih besar. Ya, tidak lain dimungkinkan berkat penggunaan chipset baru dan optimalisasi software.

Proses pengisian dayanya pun kini lebih singkat, 30 menit sudah bisa melampaui 70% (dan 100% dalam waktu kurang lebih 60 menit), sementara 15 menit awal juga bisa sentuh 40%. Ya, belum sekencang kompetitornya, namun sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Dukungan pengisian daya nirkabel kini hingga 20W, dan fitur reverse wireless charging juga tetap hadir, berfungsi untuk momen-momen seperti lupa mengisi daya earphone TWS maupun smartwatch. Samsung juga sematkan fitur proteksi baterai ekstra pada Galaxy Z Fold8 Ultra, seperti memberikan limitasi pengisian hingga persentase tertentu.

Kesimpulan

Desain masih sama, setup kamera sekilas sama, dimensi layar juga sama. Sekilas foldable varian tertinggi Samsung di tahun 2026 ini hadir membawa peningkatan minor. Padahal sejatinya cukup banyak aspek yang ditingkatkan, mulai dari mekanisme hinge, panel layar utama, hingga baterai yang berikan masa pakai jauh lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya.

Namun karena sudah menyandang nama “ultra”, memang sudah seharusnya hadir dengan nilai A pada semua aspek—dalam hal ini, saya sedikit menyayangkan sensor telefoto yang belum mendapatkan upgrade. Kapasitas baterainya pun juga buka yang terbesar, walaupun sudah lebih dari cukup untuk penggunaan seharian penuh.

Overall, lumrah saja menurut saya bila Samsung menghadirkan Galaxy Z Fold8 Ultra dengan imbuhan baru tersebut, sebagai pembeda dari varian standar, terlepas dari kenaikan harga yang memang dialami oleh semua brand. Pengguna generasi sebelumnya, tidak mutlak wajib upgrade. Namun untuk mereka yang masih pakai 2-3 generasi lebih lama, bisa jadi kandidat yang paling tepat untuk pendukung produktivitas andalan.

Spesifikasi Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra

Klik pada gambar untuk spesifikasi lebih lanjut.

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Review Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra
8.8
Design 9
Display 9
Camera 8.6
Performance 8.8
Features 9
Battery 8.6
Share This Article
Leave a review

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Exit mobile version