Jakarta, Gizmologi – Tahun ini Gizmo friends mendapatkan opsi laptop Apple baru dengan harga yang semakin terjangkau, bahkan di Indonesia tergolong lebih murah lewat kehadiran MacBook Neo. Namun karena harga selisih harga cukup jauh dibandingkan MacBook Air terbaru, apakah masih layak beli? Berikut adalah komparasi MacBook Neo vs MacBook Air yang perlu Gizmo friends ketahui.
Ya, sebelumnya konsumen hanya diberikan opsi laptop Apple terjangkau lewat seri MacBook Air—pertama kali diluncurkan dengan inovasi utama pada segi portabilitas, dirancang sangat ramping dan mudah dibawa ke mana saja. Meski begitu, MacBook Air bukanlah sebuah laptop yang sejak awal diluncurkan sebagai “laptop terjangkau”. Dan harga MacBook Air M5 saat ini dibanderol lebih dari Rp20 juta, tidak lain berkat penyesuaian harga yang sudah diumumkan secara global.
Baca juga: Apple Resmi Naikkan Harga Banyak Produk Mulai iPad Hingga Mac, Menyusul iPhone?
Di sisi lain, MacBook Neo hadir dengan sejumlah penyederhanaan, dirancang sebagai entry point paling mudah (dan murah) bagi konsumen yang ingin membeli laptop Apple. Di Indonesia, harga MacBook Neo sempat dijual mulai Rp10 jutaan, bahkan bisa kurang dari Rp10 juta selama periode penjualan perdana dengan promo khusus—sampai akhirnya ikut alami kenaikan harga.
Perbedaan harga yang terpaut cukup jauh antara MacBook Neo vs MacBook Air, membuat konsumen meragukan keandalan laptop murah Apple tersebut, ditambah dengan fakta lainnya seperti menggunakan prosesor iPhone hingga sejumlah fitur yang dipangkas. Meski begitu, sebagai pengguna MacBook Pro dan MacBook Air, menggunakan MacBook Neo selama dua pekan membuat saya menyimpulkan bila laptop ini bakal cocok untuk banyak orang, dan tidak mutlak harus membeli MacBook Air.
MacBook Neo Sudah Lebih dari Cukup, Asalkan..
Setidaknya dalam beberapa pekan terakhir, cukup banyak pertanyaan yang datang ke saya perihal MacBook Neo. Dari sekian banyak pertanyaan, yang kurang lebih sama adalah: “apakah laptop ini sudah cukup untuk penggunaan ringan seperti akses dokumen?” Jawabannya? Lebih dari itu. Ya, memang, di atas kertas MacBook Neo jalankan chipset yang sama dengan iPhone 16 Pro, yakni Apple A18 Pro (3nm).
Namun yang perlu Gizmo friends ketahui, cip satu ini setara atau bahkan lebih kencang dibandingkan cip Apple M1 yang disematkan pada MacBook Air generasi terdahulu, sekaligus punya keunggulan akan efisiensi daya lebih maksimal berkat fabrikasi lebih modern—berpengaruh sangat positif pada daya tahan baterainya. RAM 8GB pada MacBook Neo juga tidak terasa begitu menghambat saat harus multitasking, di mana saya bisa akses jumlah aplikasi, dokumen, dan tab browser yang sama seperti ketika menggunakan seri MacBook lainnya.
Limitasi mungkin baru akan terasa ketika di antara jajaran aplikasi yang sedang aktif ada sejumlah aplikasi dengan latar aktivitas berat seperti editor video, judul game tertentu, maupun peramban (browser) dengan puluhan tab yang terus aktif seperti WhatsApp dan sejenisnya. Selebihnya, bila dibandingkan dengan laptop Windows dengan kapasitas RAM setara, MacBook Neo masih terasa lebih mulus untuk multitasking.
Layar MacBook Neo yang berukuran 13 inci juga dibuat sama seperti seri Air terdahulu, resolusi sudah cukup tajam, punya tingkat kecerahan yang sama dengan MacBook Air terbaru alias masih aman digunakan saat WFC di area outdoor siang hari, dan punya standar warna sRGB yang juga masih oke untuk akurasi konten digital (meski memang belum DCI-P3). Webcam? Memang belum Center Stage, tapi sensor 1080p yang disematkan sudah tergolong oke untuk berbagai kondisi pencahayaan.
Dua speaker yang disematkan di sisi kiri dan kanan MacBook Neo, tergolong berkualitas untuk laptop di segmen harganya, begitu pula dengan mikrofon yang mendukung fitur seperti Voice Isolation untuk meredam noise di sekitar. Touchpad-nya nyaman (meski kembali menggunakan mekanisme tradisional), begitu pula keyboard-nya. Hanya saja memang tidak ada lampu backlit, alias huruf pada tombol individunya tidak bisa menyala. Plus, tidak ada sensor sidik jari Touch ID pada versi 256GB.
Meski kapasitas baterai MacBook Neo tergolong kecil, efisiensi yang maksimal dari cip A18 Pro membuat saya serasa seperti menggunakan MacBook pada umumnya yang cukup untuk penggunaan seharian penuh. Dan karena pakai cip iPhone, kamu cukup menggunakan charger mulai 20W untuk menambah daya laptop ini. Dengan kata lain, bisa menggunakan powerbank yang lebih umum, memudahkan proses isi daya.
Semua kemampuan tersebut, dikemas dalam bodi yang benar-benar terasa solid, baik permukaan hingga mekanisme engsel layarnya. Bobotnya pun sama persis dengan MacBook Air 13 inci, yakni 1,23 kilogram. Hanya saja sedikit lebih tebal di 12,7mm, namun tetap sangat portabel alias mudah dibawa ke mana saja.
Kamu Bisa Pilih MacBook Air, Kalau..
Tentu, kalau ada bujet yang cukup. Ya, menurut saya tidak ada salahnya untuk meminang MacBook Neo sebagai opsi laptop andalan harian, atau entry point MacBook pertama. Tapi kalau memang Gizmo friends punya bujet yang memang memadai, MacBook Air (M5) hadir dengan banyak kelebihan tambahan dibandingkan MacBook Neo. Termasuk katersediaannya dalam dua opsi ukuran layar berbeda, yakni 13,6 inci dan 15,3 inci.
Chipset Apple M5 pada MacBook Air memberikan banyak potensi untuk skenario penggunaan yang lebih berat. Ya, meski hadir tanpa kipas pendingin fisik, Apple memasarkan laptop tipis satu ini sebagai pendukung produktivitas andal—terutama ketika sekarang dipasangkan bersama kapasitas RAM mulai 16GB, dan penyimpanan mulai 512GB. Jalankan aplikasi AI on-device? Edit footage video 4K secara mulus? Jalankan judul game berat seperti InZOI? Bisa dilibas dengan mulus.
Sama-sama punya dua port USB-C, ketika dibandingkan antara MacBook Neo vs MacBook Air, hanya MacBook Air yang kedua port sudah mendukung standar Thunderbolt 4. Faktor ini baru terasa krusial bila Gizmo friends perlu memindahkan banyak file, terutama dalam ukuran besar. Begitu pula saat hendak menyambungkannya ke dua monitor eksternal, di mana MacBook Air M5 kompatibel dengan dua monitor 6K 60Hz atau 4K 144Hz, maupun satu monitor 8K 60Hz.
Keduanya juga sama-sama punya jack audio 3,5mm, namun hanya MacBook Air yang punya port khusus untuk mengisi daya menggunakan MagSafe—dengan begitu, dua port USB-C bisa benar-benar dimanfaatkan untuk aksesori lainnya. Kualitas audio lewat empat speaker milik MacBook Air M5 (atau enam speaker khusus varian 15 inci) juga terasa jauh lebih menggelegar dan penuh, dan Apple sematkan satu mikrofon tambahan untuk menangkap suara lebih akurat.
Ditambah dengan webcam 12MP Center Stage, Gizmo friends bisa lebih presentable saat harus melakukan panggilan video untuk keperluan kasual maupun profesional, dalam kondisi pencahayaan apa pun, ditambah dengan fitur ekstra seperti Edge Light. Semua dikemas ke dalam profil yang lebih tipis, dan semua varian MacBook Air sudah diperkuat dengan keamanan Touch ID.
Jadi, MacBook Neo vs MacBook Air Mana yang Tepat?
Tentunya kembali ke kebutuhan Gizmo friends masing-masing. Memilih MacBook Neo tidak ada salahnya kalau skenario penggunaan Gizmo friends memang tidak ada perubahan, yakni untuk menjalankan aplikasi harian sederhana, meski sesekali edit video hingga multitasking jalankan banyak aplikasi kantoran pun juga masih bisa. Juga tidak salah kalau skenario penggunaannya memang tidak berubah sampai beberapa tahun ke depan.
Memilih MacBook Air bakal terasa lebih pas kalau memang perlu jalankan lebih banyak aplikasi berat termasuk yang membutuhkan pemrosesan AI on-device. Juga bagi Gizmo friends yang mungkin ingin pakai jangka panjang, atau sebagai kreator yang ingin menghasilkan output video berkualitas memanfaatkan footage 4K hingga lainnya. Bakal lebih cocok karena performa kencang yang dibawa tidak memberikan limitasi tertentu ketika ke depannya ingin jalankan skenario penggunaan lebih berat. Semoga membantu!
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
