Industri Game Indonesia Berpotensi Sumbang Rp59 Triliun pada 2030

By
Christopher Louis - Tech Journalist
3 Min Read

Industri game Indonesia memiliki peluang untuk menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar dalam beberapa tahun ke depan. Studi Access Partnership bersama Tencent yang dipaparkan dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta menilai Indonesia dapat memperkuat perannya dalam industri gim global melalui pengembangan kekayaan intelektual (IP), talenta lokal, teknologi, dan kapasitas studio dalam negeri.

White paper berjudul The Video Game Industry: Unlocking the Next Level of Economic and Social Development in Southeast Asia mengkaji rantai nilai industri game di lima negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Cakupannya tidak hanya pengembangan dan penerbitan gim, tetapi juga perangkat keras, periferal, ritel, esports, pariwisata, serta penyelenggaraan acara.

Secara regional, industri game Asia Tenggara diproyeksikan menghasilkan nilai tambah US$12,2 miliar atau sekitar Rp219,6 triliun pada 2030, sekaligus mendukung sekitar 1,01 juta lapangan kerja. Namun, realisasi potensi tersebut bergantung pada dukungan kebijakan, investasi, dan kemampuan pelaku lokal untuk menangkap nilai ekonomi lebih besar.

Baca Juga: Game Indonesia Sumbang Rp 32,57 T, Studio Lokal Dapat Apa?

Pengembangan IP Lokal Jadi Peluang Pertumbuhan

Acts of Blood salah satu game garapan Indonesia (Eksil Team)

Menurut laporan tersebut, industri game Indonesia pada 2025 diperkirakan menghasilkan pendapatan US$1,3 miliar atau sekitar Rp23,4 triliun, berkontribusi US$1,8 miliar terhadap perekonomian, serta mendukung sekitar 257.400 lapangan kerja.

Meski skalanya cukup besar, kontribusi pengembangan dan penerbitan gim baru mencapai 7% dari struktur industri yang dipetakan. Perangkat keras dan periferal menyumbang 47%, disusul esports sebesar 24% dan ritel 22%. Komposisi ini menunjukkan bahwa besarnya pasar konsumen belum otomatis membuat Indonesia menjadi pusat produksi gim dan pemilik IP yang kuat.

Dalam skenario pertumbuhan yang dipercepat, nilai tambah industri gim Indonesia diproyeksikan mencapai US$3,3 miliar atau sekitar Rp59 triliun pada 2030, dengan potensi mendukung 476.600 lapangan kerja. Sementara itu, skenario moderat memperkirakan nilai tambah US$2,8 miliar dan 416.600 lapangan kerja. Angka tersebut merupakan proyeksi studi, bukan hasil yang sudah pasti tercapai.

Pendanaan dan Talenta Jadi Tantangan

Untuk mendorong pertumbuhan, laporan tersebut merekomendasikan perluasan akses pembiayaan bagi studio lokal, penyederhanaan proses pengembangan dan komersialisasi IP, serta penguatan pelatihan talenta dan akses ke pasar internasional. Dukungan seperti hibah prototipe, pendanaan pendamping, dan kurikulum yang sesuai kebutuhan industri dinilai dapat membantu studio mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

Director of Global Public Affairs APAC Tencent, Monrawee Ampolpittayanant, menilai industri game Indonesia berpeluang mengubah besarnya pasar domestik menjadi ekosistem produksi kreatif yang lebih kuat. Meski demikian, keberhasilan strategi tersebut tetap bergantung pada implementasi kebijakan dan kemampuan studio lokal bersaing secara komersial. Penguatan industri tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan jumlah pemain, tetapi juga membutuhkan IP yang berkelanjutan dan akses ke audiens global.

Author

Christopher Louis

Tech journalist at Gizmologi. In love with gaming, tech, and Arthur Morgan


Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Turn on JavaScript to leave a comment.

Exit mobile version