Jakarta, Gizmologi – Laporan Lokadata.id menyebutkan Gen Z ternyata suka menggunakan pay later atau yang biasa disebut dengan Buy Now Pay Later (BNPL). Terdapat 67% pengguna fintech termasuk Gen Z yang sering memanfaatkan layanan ini.
Laporan ini dibagikan dalam acara Power Lunch ‘Dunia Baru Fintech: Praktis atau Berbahaya?’ oleh GDP Venture, di Jakarta Selatan, Rabu (9/10/2024). Para Gen Z dikatakan memanfaatkan pay later untuk mengatasi masalah keterbatasan dana tunai atau adanya penawaran promosi khusus.
”BNPL menjadi game changer di kalangan anak muda karena memberikan fleksibilitas dalam berbelanja,” ujar Iwan Dewanto, Direktur PT Indodana Multi Finance, yang juga hadir dalam acara tersebut.
Baca Juga: Laporan Lokadata: 73 Persen Gen Z Beralih Gunakan Bank Digital
Meski Adopsi Pay Later Naik, Literasi Masih Perlu Disebarluaskan

Iwan menjelaskan bahwa kenaikan adopsi pay later bagi para Gen Z juga harus diiringi dengan literasi keuangan. Dengan tujuan agar mereka tidak terjebak dalam hutang yang berlebihan.
“Kami di Indodana terus berupaya untuk memberikan panduan keuangan yang tepat kepada pengguna,” jelasnya.
Di samping itu, dalam data Lokadata.id juga dijelaskan meski penggunaan pay later ini meningkat, namun terlihat para Gen Z berusaha untuk tidak terlalu lama ingin berhutang. Durasi cicilan yang populer adalah antara satu hingga tiga bulan, sehingga menunjukkan bahwa Gen Z ingin menyelesaikan pinjaman atau utang lebih cepat.

Kemudahan dan fleksibiltas dalam pembayaran jadi salah satu alasan anak muda menggunakan layanan ini. Suwandi Ahmad, Chief Data Officer Lokadata.id juga menjelaskan bahwa kolaborasi antara platform atau layanan pay later dengan e-commerce dapat menambah minat untuk menggunakan layanan ini.
Ketertarikan generasi muda atau Gen Z terhadap pay later juga didukung oleh pembayaran yang seamless, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Biasanya juga ada promosi khusus yang dihadirkan para kampanye tanggal kembar.
Meski terkadang, Suwandi mengatakan promosi yang diadakan suka tidak pas dengan momentumnya. Misalnya, ketika ada promo e-commerce, tidak ada promo dari layanan pay later atau sebaliknya.

”User mereka menceritakan pengalaman ketika mengambil cicilan atau hutang di layanan online kadang waktunya, promonya tidak bareng dengan promo belanja. Nah ini yang cukup menggangu. Promo untuk misalnya untuk tanggal kembar tidak dibarengi dengan promo di skema pembayaran menggunakan cicilan,” jelas Suwandi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa pembiayaan konsumtif melalui skema BNPL melonjak hingga 89,02% yoy (year-on-year) dengan nilai mencapai Rp7.99 triliun pada Agustus 2024. Sedangkan pada Non-Performing Financing (NPF) tetap terkendali di angka 2,52%.
Permasalahan lainnya juga masih ada persentase populasi unbanked atau tidak memiliki rekening bank yang masih tinggi di angka 67%. Oleh karena itu, fintech dapat berperan penting dalam mendorong inklusi keuangan yang lebih luas. Lokadata.id juga menyebutkan, untuk menjaga ekosistem keuangan yang sehat dan berkelanjutan, regulator, asosiasi, penyedia layanan, merchant, dan konsumen harus menjalankan peran mereka masing-masing, mulai dari melindungi konsumen hingga mematuhi regulasi.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




