Jakarta, Gizmologi – Fortinet baru saja merilis laporan hasil riset FortiGuard Labs. mengenai celah keamanan siber (cybersecurity) yang semakin rentan terhadap ancaman dari pihak luar. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa ancaman di semester II 2023 meningkat 43% lebih cepat dibandingkan pada semester I tahun yang sama. Berdasarkan laporan tersebut maka Fortinet mendorong konvergensi antara jaringan dan keamanan agar lebih baik lagi.
“Laporan Lanskap Ancaman Global Semester II 2023 dari FortiGuard Labs menggarisbawahi betapa cepatnya pelaku ancaman mengeksploitasi celah keamanan yang baru diungkap. Di lingkungan seperti ini, vendor dan pelanggan sama-sama memainkan peran penting, terutama di Asia Tenggara,” jelas Rashish Pandey, Vice President of Marketing and Communications, Asia & ANZ.
Menurut Rashish vendor harus memastikan keamanan yang kuat di seluruh siklus kehidupan produk sekaligus menjaga transparansi dalam mengungkapkan celah keamanan.
Sementara itu Country Director Fortinet Indonesia, Edwin Lin berpendapat,“Lanskap ancaman yang terus berkembang di Indonesia mendesak adanya peralihan ke pendekatan yang berpusat pada platform dalam keamanan siber.”
Bagi Edwin solusi tradisional dan berbeda-beda tidak mampu lagi menangani teknologi yang beragam, model kerja hybrid, dan integrasi IT/OT yang menjadi karakter jaringan modern. Keamanan terpadu dan platform jaringan Fortinet menjawab kompleksitas ini dengan menyediakan perlindungan ancaman komprehensif, pengelolaan celah keamanan otomatis, dan operasi yang efisien.”
Baca juga: Fortinet Gebrak Industri, Hadirkan Solusi Jaringan Aman di Wi-Fi 7
Temuan Utama dari Fortinet

FortiGuard labs menemukan bahwa celah keamanan yang baru ditemukan pertama kali hingga dieksploitas memerlukan waktu sekitar 4,76 hari sebelum kemudian diungkap ke publik. Kecepatan penyerangan memanfaatkan celah keamanan ini meningkat 43% dibandingkan semester I 2023. Maka vendor harus secara aktif mencari celah keamanan dan mengembangkan patch baru sebelum eksploitasi terjadi.
Temuan lain ialah kenyataan bahwa banyak celah keamanan yang terbuka belum juga ditambal (unpatched). Fortinet menemukan bahwa 41% perusahaan mendeteksi eksploitasi dari signature (pola spesifik terkait ancaman kejahatan siber) yang berumur kurang dari satu bulan. Dan hampir setiap perusahaan (98%) mendeteksi celah keamanan yang terbuka sudah berlangsung selama lima tahun.
Bahkan ada celah keamanan siber yang terancam eksploitasi dengan usia lebih dari 15 tahun. Sehingga dibutuhkan kewaspadaan akan keamanan yang berkelanjutan bagi perusahaan untuk bertindak cepat melalui patching yang konsisten dan update berkala.
Selain ancaman kejahatan siber yang menyasar pada eksploitasi celah keamanan perusahaan, masih ada lagi ancaman dari dark web. Forum dark web bisa dikatakan menjadi tempat berlangsungnya transaksi bermacam sumber data yang didapat dari kejahatan siber selama ini, di antaranya penjualan data lebih dari 850.000 kartu pembayaran.
Diperlukan kesadaran penuh dari perusahaan dan pelaku industri keamanan siber untuk berkolaborasi, transparansi, dan akuntabilitas pada skala besar untuk melawan segala ancaman tersebut. Fortinet merilis laporan lengkap hasil riset tersebut yang dapat diakses di web Fortinet.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




