Jakarta, Gizmologi – Cloudera berikan prediksi bahwa 2026 ini akan menjadi momen refleksi bagi banyak perusahaan yang selama dua tahun terakhir sibuk bereksperimen dengan AI. Setelah euforia GenAI dan agentic AI, kini mulai muncul kesadaran bahwa teknologi secanggih apa pun tetap akan mentok jika fondasi datanya rapuh.
Cloudera melihat pola yang sama di berbagai organisasi, dari yang berskala besar hingga menengah. Banyak perusahaan berlomba mengadopsi AI, tapi melakukannya secara terpisah antar divisi, sehingga muncul silo baru yang justru mempersulit tata kelola dan konsistensi.
Di tengah tekanan regulasi dan meningkatnya ekspektasi pasar, AI tidak lagi bisa diperlakukan sebagai proyek coba-coba. Ke depan, yang menentukan bukan seberapa cepat perusahaan bereksperimen, melainkan seberapa kuat mereka membangun fondasi datanya.
“Kita melihat berita tentang organisasi besar yang berlomba-lomba mencurahkan banyak sumber daya untuk inovasi berikutnya, dan perusahaan yang lebih kecil mengambil pendekatan yang lebih terukur. Namun, terlepas dari ukuran dan ambisi mereka, setiap perusahaan pada akhirnya akan mencapai kesadaran yang sama: kesuksesan AI bergantung pada fondasi data yang kuat,” kata Remus Lim, Senior Vice President, Asia Pasifik dan Jepang, Cloudera.
Baca Juga: Kaspersky: AI Jadi Senjata Ganda di Dunia Siber Asia Pasifik pada 2026
Silo AI dan Agen Cerdas yang Belum Siap Skala

Cloudera memprediksi bahwa 2026 akan menjadi fase di mana perusahaan mulai menyadari bahaya “AI silos”. Departemen yang memilih tool dan platform sendiri membuat inovasi terfragmentasi, mirip dengan era awal Business Intelligence. Masalahnya bukan pada kurangnya ide, tetapi pada sulitnya menjaga tata kelola dan keamanan secara menyeluruh.
Di sisi lain, agen AI mulai keluar dari fase prototipe menuju implementasi nyata, terutama di sektor keuangan. Namun hampir setengah organisasi masih terjebak di tahap kematangan menengah, di mana skala, kontrol biaya, dan integrasi data real time menjadi hambatan utama. Tanpa standar yang jelas, agen AI justru bisa menambah kompleksitas alih-alih efisiensi.
Private AI dan Investasi yang Tak Bisa Lagi Boros
Isu kedaulatan data dan keamanan siber mendorong munculnya Private AI sebagai prioritas baru, terutama di industri yang diatur ketat seperti keuangan dan kesehatan. Cloudera menilai pendekatan ini memungkinkan perusahaan memanfaatkan AI tanpa mengekspos data sensitif, di tengah meningkatnya serangan berbasis AI.
Namun tantangan terbesar justru ada pada manusia dan strategi. Kesenjangan talenta AI, rendahnya literasi etis, serta kebiasaan berinvestasi mengikuti tren tanpa hitung ROI menjadi risiko nyata. Bahkan 100 persen pemimpin IT di Indonesia mengaku adopsi agen AI melambat karena dianggap membingungkan.
Prediksi Cloudera terdengar logis, tetapi juga menyoroti realita pahit. AI bukan lagi soal siapa paling cepat mencoba, melainkan siapa yang paling siap membangun fondasi jangka panjang. Tanpa itu, 2026 bisa menjadi tahun di mana banyak proyek AI berhenti sebagai eksperimen tanpa hasil.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



